ABSEN TERAKHIR DI KELAS IX-B
Hari itu seharusnya biasa saja.
Pelajaran terakhir, jam hampir pulang, suasana kelas sudah setengah mati. Sebagian sibuk beresin tas, sebagian lagi pura-pura nyatet padahal melamun.
Bu Ratna berdiri di depan kelas dengan daftar absen di tangan.
“Baik, sebelum pulang, kita absen dulu.”
Suara itu terdengar normal. Terlalu normal.
---
“Adi?”
“Hadir, Bu.”
“Bima?”
“Hadir.”
Satu per satu nama dipanggil. Semuanya berjalan seperti rutinitas yang sudah terlalu sering dilakukan sampai tidak lagi dipikirkan.
Sampai…
“Rendra?”
Hening.
Bu Ratna mengangkat kepala.
“Rendra?”
Tetap tidak ada jawaban.
Aku melirik ke kursi di pojok belakang.
Kosong.
Padahal… aku cukup yakin tadi pagi dia ada.
---
“Heh, Ren ke mana sih?” bisik Dito di sebelahku.
Aku mengangkat bahu.
“Paling ke toilet.”
Bu Ratna menghela napas kecil, lalu melanjutkan.
---
Pelajaran selesai. Semua langsung bubar seperti burung lepas dari sangkar.
Aku dan Dito masih di kelas, menunggu hujan reda.
Langit gelap. Angin dingin mulai masuk dari jendela yang terbuka setengah.
“Lo ngerasa nggak sih… kelas kita akhir-akhir ini aneh?” kata Dito tiba-tiba.
“Aneh gimana?”
“Kayak… ada yang kurang.”
Aku tertawa kecil.
“Kurang libur kali.”
Dito tidak ikut tertawa.
---
Saat hujan mulai turun, aku berdiri untuk menutup jendela.
Dan di situlah aku melihat sesuatu.
Di kaca jendela yang basah, ada pantulan.
Bukan cuma aku dan Dito.
Tapi…
ada satu sosok lagi di belakang.
---
Aku langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Saat kembali melihat ke kaca…
pantulan itu sudah hilang.
---
“Mungkin capek,” gumamku.
Klasik. Menyalahkan kelelahan untuk hal yang tidak bisa dijelaskan.
---
Keesokan harinya, suasana kelas terasa lebih dingin.
Bukan karena AC. Kelas kami bahkan tidak punya AC.
Tapi seperti ada sesuatu yang membuat udara terasa berat.
Bu Ratna kembali masuk dengan daftar absen.
“Adi?”
“Hadir.”
“Bima?”
“Hadir.”
Semua sama.
Sampai lagi-lagi—
“Rendra?”
Hening.
---
Kali ini, Bu Ratna berhenti lebih lama.
Lalu berkata pelan,
“Sudah berapa hari Rendra tidak masuk?”
Tidak ada yang menjawab.
Kami saling pandang.
Aneh.
Tidak ada yang benar-benar ingat.
---
Sepulang sekolah, rasa penasaran mengganggu.
Aku dan Dito memutuskan ke ruang guru.
“Bu, Rendra kenapa ya?” tanyaku.
Bu Ratna menatap kami sebentar.
Lalu wajahnya berubah.
“Astaga… kalian belum tahu?”
Jantungku langsung tidak enak.
“Tahu apa, Bu?”
---
Bu Ratna menarik napas dalam.
“Rendra… sudah meninggal. Minggu lalu. Kecelakaan waktu pulang sekolah.”
---
Dunia seperti berhenti satu detik.
“Loh… tapi…” Dito terbata.
“Dia kemarin kayaknya masih ada deh, Bu.”
Bu Ratna menggeleng pelan.
“Kalian mungkin salah lihat.”
---
Aku dan Dito keluar tanpa banyak bicara.
Langkah terasa berat.
Kalau Rendra sudah meninggal…
lalu siapa yang duduk di pojok itu kemarin?
---
Malamnya, aku tidak bisa tidur.
Pikiranku penuh.
Tentang kursi kosong.
Tentang pantulan di kaca.
Tentang nama yang terus dipanggil tapi tidak pernah menjawab.
---
Keesokan harinya, aku datang lebih awal.
Kelas masih kosong.
Aku duduk di bangku sendiri, mencoba menenangkan diri.
Lalu tanpa sadar, mataku tertuju ke papan absen yang ditempel di dinding.
Daftar nama siswa.
Aku mencari nama Rendra.
Dan aku menemukannya.
---
Tapi ada yang aneh.
---
Di daftar itu…
nama Rendra sudah dicoret.
Dengan tinta merah.
---
Dan tepat di bawahnya—
ada satu nama lagi yang juga dicoret.
---
Namaku.
---
Tanganku langsung dingin.
Ini tidak mungkin.
Aku masih di sini.
Aku masih hidup.
---
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Pelan.
Mendekat.
---
“Akhirnya kamu sadar juga.”
---
Suara itu… suara Dito.
Aku menoleh perlahan.
Dia berdiri di sana.
Tersenyum.
Tapi senyumnya… tidak seperti biasanya.
---
“Apa maksud lo?” suaraku gemetar.
Dito berjalan mendekat.
“Lo inget nggak… minggu lalu kita pulang bareng?”
Aku mencoba mengingat.
Kosong.
---
“Hujan deras,” lanjutnya.
“Motor kita selip.”
---
Jantungku terasa berhenti.
Potongan-potongan ingatan mulai muncul.
Jalan basah.
Lampu kendaraan.
Suara benturan.
---
Dito tersenyum.
“Rendra meninggal di tempat.”
Dia berhenti tepat di depanku.
“Dan lo…”
---
Aku mundur perlahan.
“Nggak…”
---
Dia menatapku lurus.
“Lo juga.”
---
Kelas terasa sunyi.
Terlalu sunyi.
---
Tiba-tiba suara pintu terbuka.
Beberapa siswa masuk.
Mereka tertawa, berbicara, seperti hari biasa.
Salah satu dari mereka berkata,
“Eh, hari ini Bu Ratna pasti absen lagi ya.”
---
Bu Ratna masuk.
Membawa daftar absen.
---
“Baik, kita mulai.”
---
Namanya dipanggil satu per satu.
Seperti biasa.
---
Sampai akhirnya—
“Rendra?”
Hening.
“Dito?”
Hening.
---
Lalu…
“Raka?”
---
Aku ingin menjawab.
Aku benar-benar ingin.
Tapi tidak ada suara yang keluar.
---
Dan untuk pertama kalinya—
aku sadar.
Aku memang masih duduk di kelas itu.
Tapi bukan lagi sebagai siswa.
---
Aku hanya… sisa.
Yang belum sempat pergi.
---
Sekarang aku mengerti kenapa kelas itu terasa “kurang.”
---
Bukan karena ada yang hilang.
---
Tapi karena…
kami masih di sana.
--
Sen
