AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (10)
Episode 10 — Gosip, Grup Kelas, dan Aksa yang Salah Paham
Aksa punya satu masalah sejak menjadi ketua kelas.
Semua orang merasa dia tahu segalanya.
Padahal sebenarnya...
Aksa bahkan sering tidak tahu kenapa dia masuk kamar.
Senin pagi, Salsa datang sambil berbisik.
“Aksa, kamu sudah dengar?”
Aksa langsung waspada.
“Dengar apa?”
“Katanya ada yang mau pindah sekolah.”
Aksa membelalakkan mata.
“Siapa?”
Salsa mendekat.
“Rahasia.”
“Kalau rahasia, kenapa kamu kasih tahu aku?”
Salsa berpikir.
“Biar jadi rahasia bersama.”
Aksa mengangguk.
Logika yang sulit dibantah.
Siangnya, kabar itu sudah berubah.
Menurut Bimo, ada dua orang yang mau pindah.
Menurut Dimas, tidak ada yang pindah.
Menurut anak kelas sebelah, bahkan ada guru yang akan pindah.
Aksa mulai bingung.
Akhirnya ia bertanya langsung kepada Salsa.
“Yang sebenarnya mau pindah siapa?”
Salsa menjawab santai.
“Temanku di kelas sebelah.”
Aksa terdiam.
“Jadi bukan anak kelas kita?”
“Bukan.”
“Terus kenapa dari tadi kita ribut?”
Salsa mengangkat bahu.
“Kan seru.”
Aksa menutup wajah.
Masalah belum selesai.
Sore itu muncul pesan di grup kelas:
Bimo:
Katanya Aksa mau pindah sekolah.
Aksa langsung berdiri dari tempat tidur.
“APA?!”
Ia membalas:
Aksa:
DARI MANA BERITANYA?!
Bimo:
Katanya Salsa.
Salsa:
HAH?
Dimas:
WKWKWK.
Aksa langsung menelepon Dimas.
“Gue mau klarifikasi.”
“Silakan.”
“Kenapa gue yang mau pindah?”
Dimas tertawa.
“Karena gosip memang tidak membutuhkan izin.”
Besoknya Aksa datang ke sekolah dengan wajah serius.
Ia menghampiri Salsa.
“Kenapa kamu bilang aku mau pindah?”
Salsa mengernyit.
“Aku nggak bilang kamu.”
“Bimo bilang dari kamu.”
Salsa menoleh ke Bimo.
“Bimo!”
Bimo mengangkat tangan.
“Eh, aku cuma bercanda.”
Aksa menatap mereka berdua.
“Jadi semuanya cuma salah paham?”
Dimas muncul dari belakang.
“Selamat.”
“Untuk apa?”
“Kamu baru saja menjadi korban pertama gosip yang kamu sendiri ikut sebarkan kemarin.”
Aksa terdiam.
Benar juga.
Kemarin ia ikut menyebarkan kabar tanpa tahu kebenarannya.
Hari ini kabar yang tidak benar justru berbalik kepadanya.
Aksa menghela napas.
“Mulai sekarang aku nggak mau percaya gosip.”
Dimas mengangguk.
“Bagus.”
“Kalau belum jelas, jangan disebarkan.”
“Bagus.”
“Kalau ada kabar penting, cek dulu.”
“Bagus.”
Aksa mengangguk puas.
Kemudian Bimo bertanya,
“Eh, tapi beneran nggak kamu mau pindah?”
Aksa menatapnya.
“Bimo.”
“Iya?”
“Keluar.”
“Dari kelas?”
“Dari percakapan.”
Bimo tertawa.
Aksa ikut tertawa.
Sejak hari itu Aksa belajar satu hal:
informasi yang belum tentu benar tidak berubah menjadi benar hanya karena sudah diceritakan kepada lima orang.
Dan ternyata menjadi ketua kelas bukan cuma soal mengurus kas dan piket.
Kadang tugasnya juga memastikan teman-temannya tidak menjadikan gosip sebagai mata pelajaran tambahan.
Walaupun...
Aksa sendiri masih harus belajar.
---
Sen
