AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (11)
Episode 11 - Aksa dan Janji yang Kebablasan
Sejak menjadi ketua kelas, Aksa menemukan satu fakta penting tentang kehidupan:
Orang yang terlihat sibuk akan lebih sering dimintai tolong.
Masalahnya, Aksa juga punya kelemahan.
Dia susah mengatakan tidak.
“Sa, nanti bantu aku bawa buku ke ruang guru, ya?”
“Siap.”
“Sa, nanti tolong fotoin tugas kelompok.”
“Siap.”
“Sa, bisa ingetin aku kalau besok ada ulangan?”
“Siap.”
“Sa, bisa pinjemin penghapus?”
“Siap.”
Dimas yang duduk di sebelahnya langsung menoleh.
“Sa.”
“Apa?”
“Kamu sadar nggak, dari tadi kamu jawab ‘siap’ terus?”
Aksa mengangguk.
“Siap.”
Dimas menatapnya beberapa detik.
“Ya Allah, penyakitnya kambuh.”
---
Masalah mulai muncul ketika Bu Rina masuk kelas.
“Anak-anak, besok tugas kelompok dikumpulkan. Jangan lupa.”
Aksa langsung mencatat di buku.
Belum selesai menulis, Salsa sudah datang.
“Sa, kelompok kita nanti kamu yang print, ya?”
“Siap.”
“Terus sekalian jilid.”
“Siap.”
“Terus…”
Aksa mulai curiga.
“Kenapa aku yang ngerjain?”
Salsa tersenyum.
“Karena kamu ketua kelas.”
“Itu bukan jabatan CEO!”
Dimas tertawa.
“Makanya belajar bilang tidak.”
Aksa mengangguk mantap.
“Benar. Mulai sekarang aku akan tegas.”
Lima menit kemudian Bimo datang.
“Sa, titip beli es teh.”
Aksa refleks menjawab,
“Siap.”
Dimas langsung menepuk jidat.
---
Pulang sekolah, Aksa membuka catatan tugasnya.
Ada tugas Matematika.
Tugas Bahasa Indonesia.
Print tugas kelompok.
Jilid tugas.
Mengingatkan Bimo.
Mengingatkan Salsa.
Meminjamkan buku ke Reno.
Dan entah bagaimana ada satu catatan:
“Belikan kerupuk buat Bimo.”
Aksa menatap kertas itu lama.
“Kenapa hidupku begini?”
Dimas yang berjalan di sampingnya menjawab santai,
“Karena mulutmu terlalu cepat bilang iya.”
Aksa akhirnya berhenti.
“Mulai sekarang aku harus belajar bilang tidak.”
“Bagus.”
“Kalau ada yang minta tolong, aku pikir dulu.”
“Bagus.”
“Kalau memang nggak sanggup, aku bilang nggak sanggup.”
“Bagus.”
Aksa tersenyum bangga.
“Berarti aku sudah dewasa.”
Dimas menggeleng.
“Belum. Kamu baru belajar satu kata yang selama ini hilang dari kamusmu.”
“Apa?”
“Nggak.”
---
Besoknya, Salsa kembali datang.
“Sa, nanti bisa bantu—”
“Nggak.”
Salsa terdiam.
Dimas yang mendengar langsung menoleh.
Aksa tersenyum.
“Aku sudah berubah.”
Salsa mengangguk.
“Oke. Aku cuma mau bilang terima kasih karena tugasmu sudah selesai.”
Aksa membeku.
“...Oh.”
Dimas tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
Ternyata belajar berkata tidak juga butuh timing.
Aksa akhirnya sadar, menjadi orang yang baik bukan berarti harus selalu mengatakan iya.
Membantu orang lain memang penting. Tapi kalau semua orang dibantu sampai diri sendiri kewalahan, akhirnya yang perlu dibantu malah diri sendiri.
Aksa memasukkan buku ke tas.
“Mulai besok aku akan lebih bijak.”
Dimas mengangguk.
“Bagus.”
“Dan aku nggak akan gampang bilang siap lagi.”
Bimo tiba-tiba muncul dari belakang.
“Sa, pinjem uang dua ribu.”
Aksa refleks menjawab,
“Siap.”
Dimas langsung berteriak,
“BELUM SEMBUH!”
---
Sen
