AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (12)
Episode 12 - Hari Ketika Aksa Mau Menyerah
Hari Senin pagi, Aksa sudah merasa ada yang tidak beres.
Alarm berbunyi.
Dia bangun.
Itu sudah keajaiban pertama.
Biasanya alarm berbunyi tiga kali sebelum Aksa mempertimbangkan keberadaannya.
Tapi pagi itu dia langsung bangun karena teringat sesuatu.
Ulangan Matematika.
“Waduh.”
Aksa buru-buru mengambil buku.
Baru membaca dua halaman, ibunya memanggil dari luar kamar.
“Aksa, jangan lupa tugas Bahasa Indonesia!”
Aksa menepuk jidat.
“Ya ampun.”
Belum selesai mencari tugas, ponselnya berbunyi.
Pesan dari grup kelas.
Salsa:
Guys, tugas IPA dikumpul hari ini.
Aksa menatap layar.
“...Hari ini?”
Dimas membalas:
Iya.
Aksa langsung berdiri.
“Kenapa hidup saya penuh kejutan?”
---
Di sekolah, masalah belum selesai.
Bu Rina membagikan hasil ulangan.
Aksa menerima kertasnya.
72.
Dia diam.
Biasanya nilai 72 masih bisa dia terima.
Tapi minggu itu rasanya semua berjalan berantakan.
Tugas menumpuk.
Nilai turun.
Dia lupa membawa buku.
Bahkan pagi tadi dia hampir memakai kaus kaki berbeda warna.
Aksa menyandarkan kepala ke meja.
Dimas melirik.
“Kenapa?”
“Capek.”
“Capek belajar?”
“Capek jadi Aksa.”
Dimas terdiam.
“Wah. Berat.”
Aksa tertawa kecil.
“Serius. Kadang aku merasa aku nggak bisa sebagus kalian.”
Dimas mengernyit.
“Kalian siapa?”
“Ya kalian.”
“Naya pintar. Salsa rajin. Kamu bendahara dadakan. Bimo…”
Dimas berhenti.
“Bimo memang agak beda spesies.”
Dari belakang, Bimo langsung menyahut.
“Aku dengar!”
“Bagus. Berarti pendengaranmu masih berfungsi.”
Aksa tertawa.
Tapi setelah itu dia kembali diam.
---
Saat istirahat, Naya menghampiri.
“Sa, kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kalau bilang nggak apa-apa sambil mukanya seperti orang kehilangan password Wi-Fi, berarti ada apa-apa.”
Aksa akhirnya bercerita.
Tentang nilai.
Tentang tugas.
Tentang dirinya yang merasa tertinggal.
Naya mendengarkan.
Lalu berkata,
“Kamu tahu nggak, semua orang juga pernah merasa nggak bisa.”
“Termasuk kamu?”
“Ya.”
“Serius?”
“Serius.”
Aksa menatap Naya.
“Kirain kamu kalau salah jawab langsung update sistem.”
Naya memukul lengannya dengan buku.
“Diam.”
Dimas ikut tertawa.
“Masalahnya bukan kamu gagal, Sa. Masalahnya kamu kadang terlalu sibuk mikirin harus langsung hebat.”
Aksa terdiam.
Kalimat itu masuk akal.
Selama ini dia memang sering ingin berubah sekaligus.
Mau rajin.
Mau pintar.
Mau jadi ketua kelas yang bagus.
Mau punya nilai tinggi.
Mau jadi anak yang bisa diandalkan.
Kadang dia lupa bahwa semua itu tidak mungkin terjadi dalam satu hari.
---
Sepulang sekolah, Aksa membuka kembali kertas ulangannya.
72.
Dia masih tidak suka melihat angka itu.
Tapi kali ini dia tidak merobeknya.
Dia mengambil pensil dan menulis di bawah nilai itu:
“Belum bisa. Bukan berarti nggak bisa.”
Dimas yang melihat tulisan itu tersenyum.
“Wah.”
“Apa?”
“Bijak.”
Aksa mengangguk bangga.
“Mulai sekarang aku akan menjadi manusia baru.”
“Besok bangun jam lima?”
Aksa diam.
“Jangan berlebihan.”
Dimas tertawa.
Aksa ikut tertawa.
Mungkin dia memang belum sehebat yang dia inginkan.
Masih sering salah.
Masih sering lupa.
Masih bisa mendapat nilai jelek.
Tapi ternyata tidak semua hari harus dimenangkan.
Ada hari ketika kita cukup bertahan, mengakui bahwa kita sedang lelah, lalu mencoba lagi besok.
Aksa memasukkan kertas ulangannya ke dalam buku.
“Besok aku coba lagi.”
Dimas mengangguk.
“Bagus.”
Aksa berdiri.
“Tapi malam ini aku mau istirahat.”
“Bagus.”
“Tanpa belajar?”
“Jangan.”
Aksa menghela napas.
“Ya ampun. Ternyata kamu bukan teman. Kamu guru BK berkedok manusia.”
Dimas tertawa.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Aksa merasa sedikit lebih ringan.
Ternyata gagal sekali tidak membuat seseorang menjadi gagal selamanya.
Kadang, kita cuma sedang berada di hari yang buruk.
Dan besok masih ada kesempatan untuk mencoba lagi.
---
Sen
