AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (13) TAMAT
Episode 13 - Aksa, SMP, dan Kekacauan yang Ternyata Berharga
Hari itu Aksa duduk sendirian di bangku kelas setelah semua teman pulang.
Entah kenapa, dia tiba-tiba membuka buku catatannya dari awal semester.
Halaman pertama penuh coretan.
Ada jadwal belajar yang hanya bertahan dua hari.
Ada catatan nilai.
Ada daftar tugas.
Ada tulisan besar:
“TARGET: JADI ANAK PRODUKTIF.”
Di bawahnya ada coretan kecil:
“Gagal.”
Aksa tertawa sendiri.
Dia membalik halaman.
Ternyata selama beberapa bulan terakhir, hidupnya memang tidak pernah benar-benar tenang.
Pernah ingin viral.
Pernah ranking 27.
Pernah berusaha bangun pagi dan gagal.
Pernah menyontek.
Pernah jadi ketua kelas.
Pernah kehilangan uang kas.
Pernah ikut menyebarkan gosip.
Pernah terlalu gampang bilang “siap” sampai tugas orang lain hampir menjadi tugas hidupnya.
Aksa menutup buku.
“Gila.”
Tiba-tiba Dimas muncul dari pintu.
“Ngapain?”
“Flashback.”
“Umurmu baru segitu.”
“Biar dramatis.”
Dimas duduk di sebelahnya.
“Kamu kenapa?”
Aksa mengangkat bahu.
“Lagi mikir. Ternyata aku banyak banget bikin masalah.”
Dimas mengangguk.
“Betul.”
Aksa menoleh.
“Harusnya kamu bilang ‘nggak kok’.”
“Buat apa bohong?”
Aksa mengambil penghapus dan melemparkannya.
---
Naya dan Salsa kemudian datang.
Bimo muncul paling terakhir sambil membawa makanan.
“Kalian ngumpul?”
Dimas menjawab,
“Iya.”
Bimo duduk.
“Ada makanan?”
“Ini refleksi kehidupan, Bim.”
“Oh.”
Bimo berpikir sebentar.
“Berarti nggak ada makanan?”
“Bener.”
Bimo langsung berdiri.
“Aku pulang.”
Aksa tertawa.
“Duduk!”
Akhirnya mereka berempat duduk bersama.
Tidak ada yang benar-benar membicarakan masa depan.
Tidak ada yang tiba-tiba menjadi sangat bijaksana.
Mereka hanya ngobrol tentang hal-hal kecil yang pernah mereka lalui.
Tentang Aksa yang pernah hampir viral karena ketiduran.
Tentang Bimo yang pernah menghilang saat tugas kelompok.
Tentang Naya yang selalu benar.
Tentang Dimas yang ternyata lebih sering menasihati Aksa daripada mengerjakan tugasnya sendiri.
“Eh, tapi kalian sadar nggak?” kata Salsa.
“Apa?”
“Beberapa bulan lalu kita masih kayak orang asing.”
Aksa mengangguk.
Sekarang mereka sudah tahu kebiasaan masing-masing.
Tahu siapa yang suka lupa.
Tahu siapa yang gampang panik.
Tahu siapa yang selalu punya alasan.
Dan tahu siapa yang akan tetap duduk di sebelah mereka ketika hari sedang tidak baik-baik saja.
Aksa tersenyum.
Mungkin selama ini dia terlalu sibuk ingin menjadi anak yang lebih baik sampai lupa bahwa dia sebenarnya sudah belajar banyak.
Bukan menjadi sempurna.
Tapi menjadi sedikit lebih sadar.
Kalau salah, berani mengaku.
Kalau gagal, mencoba lagi.
Kalau mendapat masalah, tidak langsung menyalahkan orang lain.
Dan kalau tidak sanggup, belajar berkata:
“Maaf, aku nggak bisa.”
Aksa membuka kembali bukunya.
Di halaman terakhir, dia menulis satu kalimat:
“Ternyata menjadi remaja memang ribet.”
Dia berpikir sebentar, lalu menambahkan:
“Tapi untung nggak sendirian.”
Dimas membaca tulisan itu.
“Bagus.”
Aksa tersenyum.
“Lumayan.”
“Boleh aku foto?”
“Boleh.”
Dimas mengeluarkan ponsel.
Klik.
Aksa langsung menoleh curiga.
“Kamu mau upload?”
“Enggak.”
“Serius?”
“Serius.”
Aksa mengangguk lega.
Lima detik kemudian ponsel Salsa berbunyi.
Notifikasi grup kelas.
Dimas mengirim foto tulisan Aksa dengan caption:
“Aksa akhirnya bijak.”
Aksa berdiri.
“DIMAS!”
Dimas langsung lari.
Bimo ikut lari.
Naya dan Salsa tertawa.
Dan sore itu, kelas kembali ramai.
Mungkin memang begitu masa SMP.
Ada nilai yang bikin kecewa.
Ada tugas yang bikin pusing.
Ada teman yang bikin emosi.
Ada kesalahan yang membuat malu.
Ada hari ketika ingin menyerah.
Tapi di antara semua kekacauan itu, ada tawa, persahabatan, dan banyak hal kecil yang diam-diam membuat seseorang tumbuh.
Aksa mungkin belum menjadi versi terbaik dari dirinya.
Tapi setidaknya sekarang dia tahu satu hal:
Tidak apa-apa kalau masih berantakan. Yang penting, jangan berhenti belajar membereskan diri.
Dan kalau suatu hari Aksa membaca kembali semua cerita itu, mungkin dia akan tertawa.
Atau malu.
Atau dua-duanya.
Karena begitulah Aksa.
Anak SMP biasa yang hidupnya tidak pernah benar-benar luar biasa.
Tapi selalu punya cara sendiri untuk membuat hari-harinya—
sedikit lebih kacau.
---TAMAT---
---
Sen
