AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (3)

Episode 3  - Operasi Menjadi Anak Rajin

 

Setelah mendapat ranking 27, Aksa membuat keputusan besar.

Ia akan berubah.

Bukan berubah menjadi orang lain.

Cukup menjadi Aksa yang lebih rajin.

Malam itu ia membuat jadwal.

04.30 — Bangun.
04.40 — Olahraga.
05.00 — Membaca buku.
05.30 — Mandi.
06.00 — Sarapan.
06.15 — Berangkat sekolah.

Aksa melihat jadwal itu dengan bangga.

“Mulai besok,” katanya, “hidupku akan tertata.”

Dimas yang sedang video call menatap layar.

“Kamu yakin?”

“Seratus persen.”

“Biasanya kamu yakin seratus persen sebelum melakukan sesuatu yang akhirnya bikin kita semua repot.”

“Diam. Ini serius.”

Pukul 04.30 alarm berbunyi.

Aksa membuka mata.

Melihat jam.

Menutup mata lagi.

“Lima menit.”

Pukul 05.17 ia terbangun.

Ia duduk di kasur.

“Masih pagi.”

Operasi dimulai.

Olahraga dibatalkan.

Membaca buku dipersingkat.

Mandi dilakukan dengan kecepatan yang bisa membuat sabun kehilangan kesempatan untuk bekerja.

Pukul 06.43 Aksa baru keluar rumah.

Ibunya bertanya, “Katanya mau bangun jam setengah lima?”

Aksa memakai sepatu sambil berlari.

“Sudah, Bu.”

“Jam berapa?”

“Setengah lima... secara spiritual.”

Hari pertama belum berhasil.

Hari kedua Aksa memasang lima alarm.

Hasilnya lebih buruk.

Ia berhasil mematikan kelimanya dalam kondisi setengah sadar tanpa mengingat satu pun.

Hari ketiga ia meminta Dimas menelepon untuk membangunkan.

“SAKSA! BANGUN!”

“Lima menit.”

“Sudah lima menit kemarin!”

“Berarti tinggal empat menit.”

Dimas terdiam.

“Logikamu dari mana?”

“Dari orang yang masih ngantuk.”

Hari keempat Aksa mulai menyerah.

Ia duduk di kantin bersama Dimas.

“Aku rasa menjadi rajin bukan bakatku.”

Dimas mengunyah gorengan.

“Rajin itu bukan bakat.”

“Terus?”

“Kebiasaan.”

Aksa berpikir.

“Berarti aku harus membiasakan diri?”

“Iya.”

“Mulai besok?”

Dimas menatapnya.

“Mulai sekarang.”

Aksa mengambil buku tugas dari tas.

Ia mengerjakan satu tugas yang selama ini selalu ditunda.

Tidak banyak.

Tidak sempurna.

Tapi selesai.

Hari berikutnya ia mengerjakan satu lagi.

Ia mulai tidur sedikit lebih awal.

Mengurangi bermain HP saat belajar.

Tidak lagi membuat jadwal yang isinya seperti jadwal kehidupan calon presiden.

Seminggu kemudian, nilai kuisnya naik.

Tidak drastis.

Dari 78 menjadi 83.

Aksa tersenyum melihat angkanya.

“Naik lima poin.”

Dimas mengangguk.

“Lumayan.”

Aksa memasukkan kertas itu ke tas.

“Ternyata aku bisa.”

Dimas tersenyum.

“Bisa apa?”

“Berubah.”

“Jangan terlalu cepat menyimpulkan.”

“Kenapa?”

“Besok ada ulangan.”

Aksa langsung pucat.

“Ya Tuhan. Perubahanku belum selesai.”

Dimas tertawa.

Aksa ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa menjadi lebih baik tidak harus dimulai dengan janji besar.

Kadang cukup dengan satu kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Walaupun...

pukul 04.30 tetap menjadi musuh bebuyutannya.

 

----

Sen