AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (9)
Episode 9 - Aksa dan Uang Kas yang Menghilang
Menjadi ketua kelas ternyata punya satu tugas yang paling dibenci Aksa.
Bukan mengatur kelas.
Bukan mencatat siswa yang ribut.
Bukan bahkan menyapu kelas.
Menagih uang kas.
Senin pagi, Bu Rina memberikan tugas.
“Aksa, tolong kumpulkan kas kelas minggu ini.”
Aksa mengangguk percaya diri.
“Siap, Bu.”
Ia merasa ini mudah.
Tinggal bilang:
«“Teman-teman, bayar kas.”»
Selesai.
Ternyata tidak.
“Bimo, kas.”
“Besok.”
“Kenapa besok?”
“Dompetku sedang tidak sehat.”
Aksa menghela napas.
“Dimas?”
“Sudah.”
“Naya?”
“Sudah.”
“Salsa?”
“Sudah.”
Aksa mencatat.
Lalu melihat daftar.
Masih ada tujuh orang.
“Teman-teman, kasnya mana?”
Satu orang menjawab,
“Lupa.”
Yang lain:
“Besok ya.”
Yang paling belakang:
“Aku sudah bayar.”
Aksa melihat catatannya.
“Namamu belum ada.”
“Oh.”
Aksa menunggu.
“Berarti aku belum bayar.”
Aksa menatap langit-langit kelas.
Tuhan, ini ujian macam apa?
Hari Selasa, Aksa mencoba strategi baru.
Ia berdiri di depan kelas.
“Yang belum bayar kas, saya kasih waktu sampai pulang sekolah.”
Bimo mengangkat tangan.
“Kalau nggak bayar?”
Aksa berpikir.
“Didoakan.”
“Didoakan apa?”
“Semoga sadar.”
Bimo mengangguk.
“Berat juga hukumannya.”
Hari Rabu, uang kas mulai terkumpul.
Aksa menghitung.
“Sepuluh ribu... dua puluh... tiga puluh...”
Tiba-tiba ia berhenti.
“Kurang lima puluh ribu.”
Semua menoleh.
Aksa panik.
“Uangnya hilang!”
Kelas langsung ribut.
Dimas berdiri.
“Terakhir kamu taruh di mana?”
Aksa berpikir.
“Di amplop.”
“Amplopnya?”
“Di tas.”
“Tasku mana?”
Aksa menunjuk kursinya.
Tas ada.
Ia membukanya.
Buku.
Tempat pensil.
Botol minum.
Roti.
Dua bungkus permen.
Satu kaus kaki.
Dimas menatapnya.
“Kenapa ada kaus kaki?”
Aksa mengangkat bahu.
“Jangan alihkan topik.”
Mereka mencari ke seluruh kelas.
Tidak ada.
Aksa mulai berkeringat.
“Kalau uang ini benar-benar hilang, aku ganti.”
Dimas menepuk bahunya.
“Tenang.”
“Aku ketua kelas gagal.”
“Belum tentu.”
Bimo tiba-tiba berkata,
“Eh, ini bukan?”
Ia mengangkat sebuah amplop.
Aksa langsung merebutnya.
“ITU!”
Semua bersorak.
Aksa membuka amplop.
Uangnya lengkap.
Aksa menatap Bimo.
“Dari mana kamu dapat?”
Bimo menunjuk meja guru.
“Dari tadi ada di sana.”
Aksa terdiam.
“Kenapa kamu baru bilang?”
Bimo mengangkat bahu.
“Aku baru lihat.”
Aksa memejamkan mata.
“Bimo.”
“Iya?”
“Mulai besok kamu yang nagih kas.”
Bimo langsung pucat.
“Kenapa?”
“Biar kamu tahu penderitaan rakyat.”
Besoknya Bimo benar-benar membawa daftar kas.
Ia berdiri di depan kelas.
“Yang belum bayar, bayar.”
Tidak ada yang bergerak.
Bimo menatap mereka.
“Serius. Bayar.”
Masih tidak ada.
Bimo menarik napas.
Lalu berkata,
“Kalau nggak bayar, Aksa yang nagih.”
Tujuh orang langsung mengeluarkan uang.
Aksa terdiam.
Bimo menoleh sambil tersenyum.
“Ketua, saya menemukan bakat saya.”
Aksa mengangguk kagum.
“Bakat menakut-nakuti orang?”
“Bukan.”
Bimo memasukkan uang ke amplop.
“Bakat menjadi bendahara.”
Aksa menatap daftar kas.
Hari itu ia belajar satu hal penting tentang kepemimpinan:
kalau tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri, cari orang yang lebih cocok mengerjakannya.
Dan sejak hari itu, Bimo resmi menjadi bendahara kelas.
Aksa lega.
Sampai Bimo bertanya,
“Ketua, gaji bendahara berapa?”
Aksa tersenyum.
“Pengalaman.”
Bimo langsung mengembalikan amplop.
“Kalau begitu, saya mengundurkan diri.”
Aksa menghela napas.
Menjadi ketua kelas ternyata memang tidak mudah.
Apalagi kalau bawahannya mulai pintar negosiasi.
---
Sen
