Anak Tidak Cerita Bukan Berarti Tidak Punya Masalah
Ilustrasi
TITIKWARTA.COM - Ada anak yang pulang ke rumah tanpa banyak bicara. Ketika ditanya bagaimana sekolahnya, jawabannya singkat. Ketika ditanya apakah ada masalah, ia mengatakan tidak ada.
Bagi orang tua, mungkin itu terlihat seperti hal biasa.
Namun bagi seorang remaja, diam tidak selalu berarti tidak terjadi apa-apa.
Data Global School-based Student Health Survey (GSHS) Indonesia 2023 menunjukkan 57,4 persen pelajar mengatakan orang tua atau wali mereka tidak pernah atau jarang memahami masalah dan kekhawatiran yang mereka alami.
Angka itu tidak membuktikan bahwa orang tua tidak peduli. Tetapi ia menunjukkan adanya persoalan komunikasi yang layak diperhatikan: anak dan orang tua bisa tinggal di rumah yang sama, tetapi belum tentu berada dalam ruang emosional yang sama.
Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika anak bertambah besar.
Remaja mulai memiliki teman, percakapan, pengalaman dan persoalan yang tidak semuanya ingin mereka bagikan kepada keluarga. UNICEF juga menekankan bahwa remaja perlu mendapatkan ruang untuk berkembang menjadi lebih mandiri dan memiliki hak atas privasi tertentu, sementara orang tua tetap perlu memberikan pendampingan sesuai usia dan risiko yang dihadapi.
Dalam kajian UNICEF mengenai aktivitas daring anak di Indonesia yang diterbitkan pada 2025, misalnya, 36,5 persen orang tua mengatakan mereka memperbolehkan anak memiliki privasi daring. Dalam kajian tersebut, sejumlah orang tua mengakui bahwa anak yang lebih besar membutuhkan ruang dan kepercayaan karena orang tua tidak mungkin mengawasi aktivitas anak selama 24 jam.
Tetapi memberikan ruang tidak sama dengan melepaskan anak sendirian.
Di dunia digital, anak tetap menghadapi risiko. Kajian UNICEF yang menggunakan data 2023 menemukan 42 persen anak pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring, sementara 50,3 persen pernah melihat gambar seksual di media sosial. Kajian tersebut diterbitkan UNICEF Indonesia pada Februari 2025.
Karena itu, tantangannya bukan membuat orang tua mengetahui setiap aktivitas anak.
Tantangannya adalah menciptakan hubungan yang membuat anak mau datang ketika sesuatu yang serius terjadi.
UNICEF menganjurkan orang tua untuk mendengarkan secara aktif, tidak langsung menghakimi, memberikan ruang ketika anak belum siap berbicara, serta menunjukkan bahwa mereka tetap tersedia ketika anak membutuhkan tempat untuk bercerita.
Hal tersebut menjadi semakin penting melihat laporan KPAI pada Januari 2026. Sepanjang 2025, KPAI menerima 2.031 pengaduan pelanggaran hak anak. Dalam pemaparan KPAI pada Juni 2026, sekitar separuh pengaduan tersebut berkaitan dengan persoalan keluarga, termasuk konflik orang tua, perceraian, sengketa pengasuhan dan penelantaran. KPAI juga menyoroti meningkatnya tantangan perlindungan anak di ruang digital.
Angka-angka itu mengingatkan bahwa keluarga seharusnya bukan hanya tempat anak tinggal.
Keluarga seharusnya menjadi tempat anak merasa aman untuk mengatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Mungkin karena itu, ukuran keberhasilan komunikasi dengan remaja bukan seberapa banyak rahasia yang berhasil diketahui orang tua.
Bukan pula seberapa sering ponsel anak diperiksa.
Melainkan apakah ketika anak menghadapi masalah—dibully, diancam, dipermalukan, dimanfaatkan seseorang di internet, melakukan kesalahan, atau sekadar merasa tidak baik-baik saja—ia masih berpikir untuk mencari orang tuanya.
Sebab pada akhirnya, orang tua tidak mungkin mengetahui seluruh dunia anak.
Mereka tidak mungkin berada di setiap percakapan, setiap pertemanan, setiap ruang digital, atau setiap keputusan yang dibuat anak.
Tetapi orang tua masih bisa memastikan satu hal:
Ketika dunia anak mulai terasa terlalu berat, rumah tidak menjadi tempat terakhir yang ia datangi. Rumah menjadi tempat pertama.(Sen/tw)
