Catatan Harian Arga, Hanya Manusia Biasa (S2-E1)
Season 2 - Episode 1
Oleh: Sen
HIDUP SEWAAN : Kardus Terakhir dari Kantor
Senin pagi.
Arga datang ke kantor seperti biasa.
Jam 08.17.
“Telat lagi?” tanya Rina.
“Macet.”
“Macet di mana?”
“Di kehidupan.”
Rina tertawa.
Arga menyalakan komputer.
Belum sempat membuka pekerjaan, muncul email dari HR.
Pemberitahuan Penting Mengenai Status Karyawan.
Arga membaca.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
“Ga?” Rina mendekat.
“Kayaknya gue kena PHK.”
“Kayaknya?”
“Bahasanya panjang banget. Tapi intinya gue disuruh pulang.”
Rina membaca email itu.
“Gue juga.”
Bayu yang mendengar dari belakang ikut menyahut.
“Gue juga.”
Dimas muncul.
“Gue juga.”
Mereka berempat saling pandang.
Bayu menghela napas.
“Lumayan.”
“Apanya yang lumayan?”
“Kita kompak.”
---
Sore hari, Arga mengemas barang dari mejanya.
Satu mug.
Satu tumbler.
Dua kabel charger.
Satu pulpen.
Dan tanaman plastik.
Rina melihatnya.
“Lu bawa tanaman?”
“Iya.”
“Itu tanaman plastik, Ga.”
“Makanya. Dia enggak pernah mengecewakan gue.”
---
Di depan kantor, mereka berdiri membawa kardus.
Bayu bertanya,
“Besok kita ketemu?”
“Buat apa?”
“Enggak tahu.”
Mereka tertawa.
Selama ini mereka bertemu karena pekerjaan.
Sekarang pekerjaan sudah tidak ada.
Arga pulang membawa kardus di atas motor.
Malamnya, ia membuka situs lowongan kerja.
Lamaran pertama.
Kedua.
Ketiga.
Syaratnya panjang semua.
Pengalaman minimal lima tahun.
Usia maksimal 25 tahun.
Mampu bekerja di bawah tekanan.
Arga menatap layar.
“Gue baru kena PHK.”
Diam.
“Masih disuruh kerja di bawah tekanan.”
Laptop ditutup.
---
Ponselnya berbunyi.
Bayu.
Besok lu ngapain?
Cari kerja.
Kalau belum dapat?
Arga melihat motornya.
Gue coba ojol dulu.
Balasan Bayu:
Lu? Yang takut panas?
Arga:
Keadaan mengubah manusia.
Bayu:
Atau kemiskinan.
Arga tidak membalas.
---
Selasa pagi.
Arga memakai jaket ojol.
Helm.
Sarung tangan.
Ponsel di holder.
Ia menatap motornya.
“Mulai hari ini kita kerja sama.”
Motor diam.
“Jangan mogok.”
Diam.
“Bensin nanti gue isi.”
Tetap diam.
“Gue ngomong sama motor.”
Arga menghela napas.
“Gawat.”
Ia menekan tombol ONLINE.
Beberapa detik kemudian—
TING!
Pesanan pertama masuk.
Arga langsung berangkat.
---
Seorang laki-laki naik.
“Mas Arga?”
“Iya, Pak.”
Motor berjalan.
Lima menit kemudian...
“Mas.”
“Iya?”
“Boleh curhat?”
Arga menatap spion.
Baru juga mulai.
“Boleh, Pak.”
“Saya habis putus.”
“Oh.”
“Pacar saya selingkuh.”
“Waduh.”
“Sama teman saya.”
Arga mengangguk.
“Berat.”
“Menurut Mas, saya balikan enggak?”
Arga berpikir.
“Jangan dulu, Pak.”
“Kenapa?”
“Takut putus lagi.”
Penumpang tertawa.
“Mas pernah mengalami?”
“Enggak.”
“Terus kok bisa kasih nasihat?”
Arga menjawab jujur.
“Sering nonton film.”
---
Sampai tujuan.
Penumpang turun.
“Terima kasih ya, Mas. Lumayan lega.”
“Sama-sama, Pak.”
Arga melihat aplikasi.
Pendapatannya belum seberapa.
Tapi cukup untuk makan hari itu.
Ia tersenyum.
Ternyata pekerjaan barunya bukan cuma mengantar orang.
Kadang...
sekalian mengantar curhat.
TING!
Pesanan berikutnya masuk.
Mbak Cantika.
Arga melihat nama itu.
“Semoga enggak curhat.”
Motor melaju.
Dan hari pertama Arga sebagai ojol pun dimulai.
Tanpa kantor.
Tanpa meja.
Tanpa kepastian.
Tapi dengan satu hal yang ternyata tidak pernah habis:
manusia dengan masalahnya masing-masing.
— Bersambung —
