Catatan Harian Arga, Hanya Manusia Biasa (S2-E2)
Season 2 - Episode 2
Oleh : Sen
HIDUP SEWAAN : Saldo Tipis, Gaya Tetap Optimis
Sudah seminggu Arga jadi ojol.
Pagi itu Bayu membangunkannya.
“Ga!”
“Hm?”
“Jam tujuh!”
Arga membuka mata.
“Masih pagi.”
“Lu mau ngojek atau pensiun?”
Arga langsung bangun.
---
Di dapur, isi kulkas cuma:
Air putih.
Sambal.
Telur satu.
Bayu melihat telur.
“Kita bagi dua?”
“Iya.”
Lima menit kemudian telur matang.
Bayu mengambil bagian lebih besar.
Arga menatap.
“Katanya bagi dua.”
“Ini dua.”
“Yang lu lebih besar.”
“Gue lebih lapar.”
Arga menghela napas.
“Pantes negara susah maju.”
---
Siangnya Arga mulai ngojek.
Order pertama lancar.
Order kedua juga.
Order ketiga...
customer minta jemput di sebuah gang.
Arga masuk.
Makin dalam.
Makin sempit.
Sampai akhirnya...
mentok.
Di depan ada mobil parkir.
Di belakang ada motor.
Arga tidak bisa maju.
Tidak bisa mundur.
Customer menelepon.
“Mas, sudah sampai?”
“Sudah, Mbak.”
“Di mana?”
“Di tengah masalah.”
“Hah?”
“Gang-nya enggak bisa lewat.”
Customer keluar berjalan kaki.
Melihat posisi Arga.
“Oh.”
“Kenapa, Mbak?”
“Saya biasanya naik motor.”
Arga menatapnya.
“Terus?”
“Saya kira Mas juga.”
---
Akhirnya Arga dan customer berjalan bersama keluar gang.
Motor ditinggal sebentar.
Begitu sampai jalan besar, customer berkata,
“Maaf ya, Mas.”
“Enggak apa-apa.”
Customer memberikan uang tip.
Arga tersenyum.
“Wah, terima kasih.”
Customer pergi.
Arga kembali mengambil motor.
Baru mau jalan...
TING!
Pesanan baru masuk.
Arga membuka aplikasi.
Jarak jemput:
1,2 kilometer.
Arga tersenyum.
“Dekat.”
Lalu melihat kondisi jalan.
Hujan mulai turun.
Arga menatap langit.
“Kenapa hidup saya selalu ada plot twist?”
---
Sore hari Arga pulang dalam keadaan basah.
Bayu melihatnya dari teras.
“Kenapa?”
“Hujan.”
“Jas hujan?”
“Lupa bawa.”
“Kenapa?”
“Karena pagi tadi cerah.”
Bayu mengangguk.
“Pintar.”
Arga melepas jaket.
“Terima kasih atas dukungannya.”
“Gue cuma bilang pintar.”
---
Malamnya Arga menghitung penghasilan.
Tidak terlalu banyak.
Tapi masih cukup.
Ia membuka laptop dan kembali mencari lowongan kerja.
Bayu rebahan di belakangnya.
“Dapat?”
“Belum.”
“Semangat.”
Arga mengangguk.
“Semangat ada.”
“Uang?”
Arga melihat saldo.
“Sedang dalam perjalanan.”
Bayu tertawa.
Arga menutup laptop.
Besok ia akan ngojek lagi.
Dan mungkin...
besok tidak hujan.
Mungkin.
Karena setelah seminggu jadi ojol, Arga mulai memahami satu hal:
yang paling tidak bisa diprediksi bukan orderan.
Tapi hidup.
— Bersambung —
