Catatan Harian Arga, Hanya Manusia Biasa (S2-E3)

Season 2 - Episode 3
Oleh : Sen

 

HIDUP SEWAAN : Orderan Jam Makan Siang

 

Sudah hampir dua minggu Arga jadi ojol.

Ia mulai hafal jalan.

Mulai hafal titik macet.

Dan mulai hafal satu hal penting:

Jam makan siang adalah waktu paling menyebalkan untuk lapar.

Hari itu orderan Arga lumayan ramai.

Sampai pukul sebelas ia sudah dapat beberapa penumpang.

Jam dua belas...

perutnya mulai protes.

Grrr...

Arga melihat jam.

“Tenang.”

Perutnya tidak menjawab.

“Gue juga lapar.”

---

TING!

Order masuk.

Arga berhenti di depan sebuah warung.

Seorang ibu naik membawa dua kantong makanan.

“Mas, antar ke sini ya.”

Arga melihat alamat.

“Siap, Bu.”

Motor berjalan.

Bau ayam goreng dari kantong makanan memenuhi udara.

Arga menelan ludah.

“Bu.”

“Iya?”

“Itu ayam?”

“Iya.”

“Enak?”

Ibu itu tertawa.

“Enak, Mas.”

Arga mengangguk.

“Baik.”

Dalam hati:

Semoga hidup Ibu selalu dimudahkan.

---

Sampai tujuan.

Ibu turun.

Arga kembali membuka aplikasi.

Belum sempat jalan...

TING!

Pesanan baru.

Lokasinya dua kilometer.

Arga berangkat.

Sampai di sebuah restoran.

Customer keluar membawa satu kotak besar.

“Mas, tolong hati-hati ya.”

“Iya.”

Arga melihat kotaknya.

“Isinya apa, Pak?”

“Pizza.”

Arga diam.

Hari itu hidup benar-benar sedang menguji imannya.

---

Di perjalanan, aroma pizza semakin kuat.

Arga menelan ludah lagi.

Ponselnya berdering.

Bayu.

“Kenapa?”

“Lu makan siang?”

“Belum.”

“Gue juga.”

“Di kos ada apa?”

“Mi.”

Arga menghela napas.

“Masak.”

“Telurnya?”

“Enggak ada.”

“Ya sudah.”

Telepon ditutup.

Arga melanjutkan perjalanan sambil mencium aroma pizza orang.

---

Sampai tujuan.

Customer mengambil pizzanya.

“Terima kasih, Mas.”

“Sama-sama.”

Customer masuk rumah.

Pintu tertutup.

Arga masih berdiri di depan pagar.

Menatap pintu.

Kemudian menatap motornya.

“Gue kerja buat mengantar kebahagiaan orang.”

Ia menghela napas.

“Tanpa ikut menikmati.”

---

Sore hari Arga pulang.

Bayu sudah makan.

Arga membuka kulkas.

Kosong.

Ia melihat Bayu.

“Lu makan apa?”

“Mi.”

“Mi siapa?”

“Mi gue.”

“Kenapa enggak masak sekalian buat gue?”

Bayu santai menjawab,

“Lu enggak bilang.”

Arga mengangguk.

“Benar juga.”

Ia mengambil ponsel.

Buka aplikasi makanan.

Lalu melihat saldo.

Menutupnya lagi.

“Mi lebih sehat.”

Bayu tertawa.

---

Malamnya Arga duduk di teras sambil minum kopi sachet.

Hari itu melelahkan.

Tapi setidaknya penghasilannya lumayan.

Tidak besar.

Namun cukup untuk membuatnya bertahan satu hari lagi.

Ponselnya berbunyi.

Email masuk.

Satu lamaran kerja ditolak.

Arga membacanya.

Lalu memasukkan ponsel ke saku.

“Besok coba lagi.”

Bayu menoleh.

“Enggak sedih?”

“Sedih.”

“Terus?”

“Ya sudah.”

Arga menyeruput kopi.

“Besok kan masih ada.”

Bayu mengangguk.

Kemudian bertanya,

“Besok sarapan apa?”

Arga berpikir.

“Mi.”

“Telur?”

“Belum tentu.”

Bayu menghela napas.

“Nasib.”

Arga tertawa.

Ternyata setelah kehilangan pekerjaan, yang paling sering dipikirkan bukan soal karier.

Tapi...

makan apa besok.

— Bersambung —