Catatan Harian Arga, Hanya Manusia Biasa (S2-E4)
Season 2 - Episode 4
Oleh : Sen
HIDUP SEWAAN : Customer yang Bawa Ayam
Pagi itu Arga sarapan di teras kos.
Nasi dingin.
Telur.
Sambal.
Bayu lewat sambil membawa handuk.
“Sarapan?”
“Kalau ini disebut sarapan.”
“Terus disebut apa?”
“Upaya bertahan hidup.”
Bayu tertawa lalu masuk kamar.
Arga menghabiskan makanannya dan mulai ngojek.
---
Menjelang siang, order masuk.
Arga menuju sebuah pasar.
Customer-nya seorang ibu.
Begitu naik, Arga baru sadar ada sesuatu di antara mereka.
Ayam.
Seekor ayam hidup dimasukkan ke dalam kardus berlubang.
Arga menoleh.
“Bu.”
“Iya, Mas?”
“Itu ayam?”
“Iya.”
“Bisa ikut?”
“Bisa.”
Ayamnya tiba-tiba berbunyi.
Kukuruyuk!
Arga terkejut.
“Dia kenapa, Bu?”
“Takut.”
“Takut apa?”
“Takut naik motor.”
Arga diam.
“Ya wajar, Bu.”
---
Motor berjalan.
Setiap beberapa menit terdengar suara dari kardus.
Kukuruyuk!
Arga mulai merasa seperti sedang mengantar penumpang yang protes sepanjang perjalanan.
“Bu.”
“Iya?”
“Ini ayamnya jantan?”
“Iya.”
“Pantes.”
“Pantes apa?”
“Banyak komentar.”
Ibu itu tertawa.
---
Di tengah perjalanan ayam tiba-tiba bergerak keras.
Kardus bergoyang.
Arga panik.
“Bu!”
“Iya!”
“Dia mau keluar!”
“Jangan berhenti!”
“Kenapa?”
“Nanti kabur!”
Arga langsung memperlambat motor.
“Kalau kabur gimana?”
“Kejar.”
Arga membayangkan dirinya mengejar ayam sambil memakai jaket ojol.
“Bu, jangan sampai.”
Untungnya ayam kembali tenang.
---
Sampai tujuan.
Ibu turun sambil membawa kardus.
Ayam masih utuh.
Arga menghela napas lega.
“Terima kasih ya, Mas.”
“Sama-sama, Bu.”
Ibu itu pergi.
Arga melihat kardus ayam menjauh.
“Order paling menegangkan minggu ini.”
Ponselnya berbunyi.
TING!
Order baru.
Arga membuka aplikasi.
Customer berikutnya:
Bapak-bapak.
Arga tersenyum.
“Semoga manusia.”
---
Sore hari Arga pulang ke kos.
Bayu sedang menjemur pakaian.
“Dapat order?”
“Dapat.”
“Ramai?”
“Lumayan.”
“Ada kejadian?”
Arga membuka helm.
“Gue tadi nganter ayam.”
Bayu berhenti menjemur.
“Lu serius?”
“Serius.”
“Bayar?”
“Bayar.”
Bayu mengangguk.
“Berarti ayam lebih bertanggung jawab daripada beberapa manusia.”
Arga tertawa.
---
Malamnya Arga membuka laptop.
Satu lowongan kerja baru.
Ia melamar.
Belum ada hasil.
Tidak apa-apa.
Untuk sementara, ia masih punya motor.
Masih punya kamar kos.
Masih punya teman yang kadang bisa diajak makan.
Dan ternyata...
masih ada banyak manusia aneh yang bersedia membayar Arga untuk mengantarkan mereka.
Atau ayam mereka.
Arga mematikan laptop.
Dari kamar sebelah terdengar suara Bayu.
“Ga!”
“Apa?”
“Besok sarapan?”
“Kenapa?”
“Gue beli telur.”
Arga tersenyum.
“Jangan bilang telurnya hidup.”
— Bersambung —
