Catatan Harian Arga, Hanya Manusia Biasa (S2-E6)
Season 2 - Episode 6
Oleh : Sen
HIDUP SEWAAN : Paket yang Katanya Flashdisk
Pagi itu Arga sebenarnya sudah bangun sejak pukul enam.
Tapi dia belum mau bangun dari kasur.
Alarm berbunyi.
Dimatikan.
Berbunyi lagi.
Dimatikan lagi.
Bayu lewat depan kamar.
“Lu ngojek?”
“Nanti.”
“Jam berapa?”
“Kalau sudah siap.”
“Siapnya kapan?”
Arga menarik selimut.
“Jangan terlalu banyak bertanya.”
Akhirnya pukul sembilan Arga baru berangkat.
---
Siang hari, masuk order pengantaran paket.
Customer menyerahkan sebuah amplop kecil.
“Mas, ini isinya flashdisk.”
“Siap.”
“Jangan sampai rusak ya, Mas.”
“Tenang.”
Arga memasukkan paket ke tas.
Tidak ada yang aneh.
Ia berangkat.
---
Sampai di alamat tujuan, Arga menyerahkan paket.
Orang yang menerima baru saja membuka amplop ketika beberapa polisi datang.
“Mas!”
Arga kaget.
“Iya, Pak?”
“Paket ini dari siapa?”
Arga menunjuk ke belakang.
“Dari customer saya, Pak.”
“Mas tahu isinya?”
“Flashdisk.”
Polisi membuka paket tersebut.
Arga melihat isinya.
Bukan flashdisk.
Bukan juga sesuatu yang bentuknya mirip flashdisk.
Arga langsung pucat.
“Pak...”
“Iya?”
“Kalau saya bilang saya juga baru tahu, percaya?”
Polisi menatapnya.
“Nanti kita jelaskan di kantor.”
Arga menelan ludah.
Dalam hati:
Pagi tadi saya cuma malas bangun. Kenapa siang sudah sampai kantor polisi?
---
Beberapa jam kemudian, Arga diperiksa.
Ia menjelaskan semuanya.
Pesanan masuk dari aplikasi.
Customer menyerahkan paket.
Katanya flashdisk.
Arga tidak membuka.
Tidak tahu isinya.
Nomor customer dan riwayat order diperiksa.
Polisi kemudian berhasil menangkap orang yang mengirim paket.
Arga akhirnya dinyatakan hanya sebagai saksi.
Ia menghela napas panjang.
“Berarti saya boleh pulang, Pak?”
“Boleh.”
Arga berdiri.
Kemudian bertanya,
“Pak.”
“Iya?”
“Besok kalau ada order paket, saya harus buka dulu?”
Polisi tersenyum.
“Enggak usah. Yang penting kalau mencurigakan, laporkan.”
Arga mengangguk.
“Siap, Pak.”
---
Malamnya Arga pulang ke kos.
Hari sudah larut.
Ia membuka pintu kamar.
Kemudian diam.
Di lantai ada pakaian yang belum dilipat.
Baju kerja lama.
Celana.
Jaket.
Handuk.
Semuanya menumpuk seperti sedang mengadakan rapat.
Arga menatapnya.
“Gue tinggal beberapa jam.”
Tidak ada jawaban.
Ia duduk di kasur.
Hari itu panjang sekali.
Pagi malas bangun.
Siang masuk masalah.
Sore berurusan dengan polisi.
Malam pulang dengan kepala penuh.
Dan sekarang...
masih harus melipat pakaian.
Arga mengambil satu baju.
Melipat.
Lalu melihat tumpukannya.
Masih banyak.
Ia meletakkan kembali baju itu.
“Besok aja.”
Kemudian berbaring.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Bayu:
Lu udah pulang?
Arga:
Udah.
Gimana hari ini?
Arga mengetik panjang.
Menghapus.
Lalu mengirim:
Panjang ceritanya. Besok gue ceritain.
Bayu membalas:
Oke.
Beberapa detik kemudian:
Jangan lupa lipat baju.
Arga menatap tumpukan pakaian.
“Pengkhianat.”
Ia mematikan lampu.
Hari itu Arga belajar satu hal:
Kadang hidup tidak butuh masalah besar untuk membuat kita capek.
Cukup satu pagi yang malas.
Satu order yang salah.
Dan satu tumpukan baju yang tidak mau melipat dirinya sendiri.
— Bersambung —
