Catatan Harian Arga, Hanya Manusia Biasa (S2-E7)

Season 2 - Episode 7
Oleh : Sen

 

HIDUP SEWAAN : Hari yang Biasa Saja

 

Pukul 06.12.

Alarm Arga berbunyi.

Tangannya langsung mencari HP.

Alarm dimatikan.

Lima menit kemudian...

alarm berbunyi lagi.

Dimatikan lagi.

Pukul 06.37 Arga akhirnya bangun.

Ia duduk di kasur sambil bengong.

“Bangun.”

Tidak ada respons.

“Arga.”

Tetap diam.

Akhirnya ia berdiri sendiri.

***

Hal pertama yang dilakukan Arga bukan mandi.

Tapi membuka HP.

Cek saldo.

Masih ada.

Cek aplikasi ojol.

Masih bisa online.

Cek chat.

Tidak ada yang penting.

Arga mengangguk.

“Masih hidup.”

Baru kemudian mandi.

***

Setelah mandi, Arga memasukkan pakaian kotor ke ember.

Ia melihat cucian kemarin.

Sudah kering.

Tapi belum diangkat.

“Kenapa hidup gue isinya tugas yang belum selesai?”

Ia mengangkat jemuran.

Melipat sebagian.

Sisanya dimasukkan ke kursi.

Kursi yang sebenarnya sudah mulai kehilangan fungsi sebagai kursi.

***

Sarapan pagi:

Nasi sisa semalam.

Telur ceplok.

Kopi sachet.

Arga makan sambil berdiri di depan kamar.

Tidak ada yang istimewa.

Tapi cukup.

Setelah itu ia membersihkan kamar.

Menyapu.

Mengepel.

Mengganti sprei.

Membuang bungkus makanan yang entah kenapa sudah ada di bawah kasur.

Ia menatap bungkus itu.

“Ini kapan?”

Tidak ada jawaban.

Arga membuangnya.

***

Pukul 09.15.

Arga akhirnya siap ngojek.

Helm.

Jaket.

Sarung tangan.

HP.

Dompet.

Kunci motor.

Ia berhenti sebentar.

“Bensin.”

Cek indikator.

Masih setengah.

“Cukup.”

Lima menit kemudian...

Arga kembali ke kamar.

“Dompet.”

***

Di jalan, hari berjalan seperti biasa.

Order pertama mengantar pegawai kantor.

“Pagi, Mas.”

“Pagi.”

Selesai.

Order kedua seorang ibu ke pasar.

“Lewat sini saja, Mas.”

“Siap.”

Selesai.

Order ketiga mahasiswa.

Naik.

Pakai earphone.

Turun.

Selesai.

Tidak ada yang curhat.

Tidak ada yang salah alamat.

Tidak ada yang membawa ayam.

Hari itu semua orang seperti sedang sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Arga juga.

***

Siang hari ia berhenti di warung.

“Es teh, Bu.”

“Makan?”

“Nanti.”

“Kenapa?”

“Nunggu order.”

Ibu warung mengangguk.

“Order dulu, makan kemudian?”

“Iya.”

“Kalau begitu namanya diet.”

Arga tertawa.

“Diet ekonomi, Bu.”

***

Sore mulai turun.

Arga masih mengambil beberapa order.

Panas sudah berkurang.

Jalanan mulai ramai.

Sesekali ia berhenti di lampu merah sambil melihat langit.

Tidak ada yang spesial.

Tapi hari itu juga tidak membuatnya lelah secara pikiran.

Dan ternyata...

Arga mulai menikmati hari-hari seperti ini.

Tidak ada kejutan.

Tidak ada masalah.

Cuma kerja.

Pulang.

***

Malamnya Arga mampir membeli nasi goreng.

Sampai kos, ia membuka pintu kamar.

Kamarnya masih rapi.

Pakaian sudah terlipat.

Jemuran sudah kosong.

Arga duduk di lantai dan makan langsung dari bungkusnya.

Setelah selesai, ia mencuci piring.

Mengisi ulang air minum.

Mengisi daya HP.

Kemudian mengecek aplikasi ojol untuk besok.

Ia menyiapkan jaket dan helm di dekat pintu.

Biar pagi tidak sibuk mencari.

Setelah semuanya selesai, Arga kembali ke kasur.

Pukul 22.48.

Ia membuka HP sebentar.

Melihat video pendek.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tanpa sadar sudah setengah jam.

Arga mematikan HP.

“Besok jangan bangun kesiangan.”

Ia memasang alarm.

06.00.

06.10.

06.20.

06.30.

Arga tersenyum.

“Antisipasi.”

Lampu dimatikan.

Hari ini tidak ada kejadian besar.

Tidak ada cerita lucu yang bisa dibanggakan.

Tidak ada masalah yang perlu diceritakan.

Cuma hari biasa.

Tapi mungkin memang seperti itulah hidup kebanyakan orang.

Bangun.

Beres-beres.

Kerja.

Makan.

Pulang.

Tidur.

Lalu mengulanginya lagi besok.

Dan entah kenapa...

hari biasa seperti itu tetap terasa cukup.

— Bersambung —