Implementasi Etika Digital di Sekolah Dinilai Belum Optimal, Guru Hadapi Tantangan Baru
Ilustrasi
TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa tantangan baru di dunia pendidikan, khususnya di Samarinda. Implementasi pendidikan etika digital di sekolah dinilai masih belum optimal, meskipun kebutuhan akan hal tersebut semakin mendesak.
Fenomena penyebaran hoaks, perundungan daring (cyberbullying), hingga penggunaan media sosial yang tidak bijak di kalangan pelajar menjadi indikasi bahwa literasi digital belum sepenuhnya dipahami. Banyak siswa yang aktif di dunia digital, namun belum memiliki kemampuan untuk menyaring informasi secara kritis.
Sejumlah guru mengungkapkan bahwa mereka menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan materi etika digital ke dalam pembelajaran. Selain keterbatasan waktu, belum semua pendidik memiliki panduan atau perangkat ajar yang sistematis terkait topik tersebut.
Di sisi lain, kurikulum pendidikan saat ini mulai mendorong penguatan karakter dan profil pelajar Pancasila, termasuk dalam aspek tanggung jawab digital. Namun, implementasinya di lapangan masih memerlukan penyesuaian dan dukungan yang lebih konkret.
Pengamat pendidikan menilai bahwa etika digital seharusnya tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi juga melalui praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan kontekstual dinilai lebih efektif dalam membentuk kebiasaan positif dalam penggunaan teknologi.
Beberapa sekolah mulai mengambil inisiatif dengan mengadakan program literasi digital, diskusi interaktif, serta simulasi kasus untuk meningkatkan kesadaran siswa. Meski demikian, upaya ini masih belum merata di semua satuan pendidikan.
Situasi ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada kesiapan siswa menghadapi dunia digital. Kolaborasi antara guru, sekolah, dan orang tua menjadi kunci dalam membangun generasi yang cerdas secara digital dan bertanggung jawab dalam bermedia.(sen/tw)
