KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (2) Bagian 2

SERI 2 BAGIAN 2

ANAK YANG TIDAK DIINGAT

Raka berdiri di samping mejanya, berharap guru itu akan menyadarinya. Namun Pak Junaidi berjalan melewatinya. Bahu mereka hampir bersentuhan, tetapi sang wali kelas hanya berhenti sejenak seolah merasakan hawa dingin.

“Jendela ditutup satu,” katanya.

Livia bangkit dan menutup jendela.

Pak Junaidi mulai memanggil nama satu per satu.

Nomor satu.

Nomor dua.

Nomor tiga.

Raka menunggu sampai nomor dua belas.

“Rafi Adinata.”

“Hadir, Pak.”

Raka tersentak.

Nomor dua belas seharusnya miliknya.

Ia melangkah maju. “Pak, itu nomor absen saya!”

Tak ada yang mendengar.

Pak Junaidi terus memanggil sampai nomor tiga puluh lima.

Kemudian daftar hadir ditutup.

“Lengkap.”

Raka merasa isi kepalanya berputar.

Bukan hanya namanya yang hilang. Posisi dan nomor absennya telah diisi orang lain. Anehnya, Rafi memang siswa di kelas itu. Seingat Raka, kemarin Rafi bernomor tiga belas. Sekarang semua nomor setelah dua belas tampak bergeser satu tingkat. Tidak ada lubang. Tidak ada tanda bahwa Raka pernah tercatat.

Ia meraih daftar hadir di meja guru. Tangannya menyentuh kertas, dan daftar itu bergerak sedikit.

Pak Junaidi menatapnya.

Raka terdiam.

Pak Junaidi mengernyit, lalu menggeser buku itu menjauh. “Anginnya kencang sekali.”

Raka ingin berteriak.

Ia ingin melempar kursi.

Ia ingin menulis namanya sebesar mungkin di papan tulis.

Tetapi sebelum sempat melakukan apa pun, seseorang berbisik dari belakang.

“Jangan.”

Raka berbalik.

Nara berdiri di dekat jendela.

Matanya menatap langsung ke arahnya.

Raka nyaris menangis karena lega.

“Kamu bisa lihat aku?”

Nara mengangguk tipis.

“Kamu ingat aku?”

“Iya.”

Raka mendekatinya. “Kenapa yang lain tidak bisa?”

Nara tidak langsung menjawab. Ia mengambil buku catatan, menulis sesuatu, lalu merobek halamannya.

Jangan bicara. Mereka mungkin tidak mendengarmu, tetapi dia bisa.

Raka membaca tulisan itu.

“Dia siapa?”

Nara kembali menulis.

Anak dalam foto.

Bel pelajaran berbunyi. Bu Mira masuk membawa tumpukan buku IPA. Nara segera duduk seperti biasa. Raka berdiri kebingungan di samping mejanya. Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Secara resmi, ia bukan siswa kelas itu. Namun ia juga tidak punya tempat lain.

Bu Mira mulai menjelaskan tentang sistem pernapasan manusia. Raka duduk di lantai dekat bangku Nara. Untuk sesaat, situasinya terasa begitu absurd. Ia sedang mengikuti pelajaran IPA sebagai manusia yang tidak diingat, sementara guru membahas bagaimana manusia membutuhkan oksigen untuk hidup. Raka ingin mengangkat tangan dan bertanya apakah seseorang masih disebut hidup kalau seluruh dunia lupa padanya, tetapi kemungkinan besar pertanyaan itu tidak keluar di ujian.

Nara menjatuhkan penghapus ke lantai.

Raka mengambilnya.

Saat tangan mereka bersentuhan, Nara berbisik sangat pelan, “Setelah istirahat, ke gudang belakang perpustakaan.”

“Kenapa?”

“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Bu Mira tiba-tiba berhenti menjelaskan.

“Nara, kamu bicara dengan siapa?”

Seluruh kelas menoleh.

Nara diam sebentar. “Menghafal, Bu.”

“Materi yang mana?”

Nara melihat buku di mejanya. “Pernapasan.”

Dimas menoleh dari bangkunya. “Kalau menghafalnya sambil bisik-bisik, paru-parunya mungkin ikut belajar.”

Beberapa siswa tertawa.

Raka menatap Dimas dan tanpa sadar ikut tersenyum. Bahkan ketika tidak mengingatnya, Dimas tetap Dimas. Hanya saja tawa itu terasa menyakitkan karena untuk pertama kalinya Dimas membuat lelucon tanpa menoleh kepadanya.

Saat istirahat, Raka mengikuti Nara keluar kelas. Mereka berjalan terpisah agar tidak menarik perhatian. Hal itu sebenarnya tidak perlu karena tak seorang pun bisa melihat Raka, tetapi Nara tetap berhati-hati. Ia melewati perpustakaan, kemudian menuju lorong sempit di belakang gedung. Di sana ada pintu kayu kecil bertuliskan GUDANG ARSIP.

Pintu itu terkunci.

Nara mengeluarkan kunci dari saku.

Raka menatapnya. “Kamu dapat dari mana?”

“Bu Wati.”

“Guru BK?”

Nara mengangguk.

“Kenapa Bu Wati memberimu kunci gudang arsip?”

“Dia tidak memberikannya.”

Raka menatap kunci itu.

Nara menambahkan, “Aku meminjam tanpa izin.”

“Namanya mencuri.”

“Aku akan mengembalikan.”

“Itu tetap mencuri.”

Nara memandangnya datar. “Kita sedang mencari alasan kenapa keberadaanmu dihapus dari ingatan semua orang.”

Raka berpikir sejenak. “Baiklah. Dalam kondisi tertentu, mencuri memang terdengar seperti penelitian.”

Gudang itu berdebu dan gelap. Bau kertas tua memenuhi ruangan. Lemari besi berjejer di sepanjang dinding. Ada tumpukan buku induk, map rapor, foto kegiatan sekolah, dan kardus berisi dokumen yang sebagian sudah dimakan rayap.

Nara menyalakan senter ponselnya.

“Sekolah ini menyimpan foto kelas sejak tiga puluh tahun lalu,” katanya.

“Terus?”

“Lihat sendiri.”

Mereka membuka sebuah album besar bersampul cokelat. Di halaman pertama tertulis Tahun Ajaran 1996/1997. Foto kelas ditempel rapi dengan daftar nama di bawahnya.

Raka menghitung.

Tiga puluh lima siswa.

Album berikutnya.

Tiga puluh lima.

Tahun setelahnya.

Tiga puluh lima lagi.

“Semua kelas memang tiga puluh lima?” tanya Raka.

“Bukan.”

Nara menarik satu lembar dokumen dari map transparan. Itu daftar penerimaan siswa baru.

Kuota kelas: tiga puluh enam.

Jumlah diterima: tiga puluh enam.

Namun foto kelulusan hanya memuat tiga puluh lima wajah.

Raka membuka album berikutnya dengan lebih cepat. Di setiap tahun, jumlah siswa saat masuk selalu tiga puluh enam. Tetapi foto kelulusan hanya tiga puluh lima.

“Jadi setiap tahun ada satu siswa yang hilang?”

Nara tidak menjawab.

Raka memandangnya. “Kamu sudah tahu?”

“Aku curiga.”

“Sejak kapan?”

Nara membuka album tahun sebelumnya. Kelas VII-B.

Di foto itu, Raka masih terlihat.

Dimas juga.

Nara berdiri di barisan depan.

Dan di barisan paling belakang ada seorang siswi berambut panjang yang wajahnya dicoret menggunakan tinta hitam.

Raka menunjuknya. “Siapa itu?”

Nara menelan ludah.

“Namanya Alya.”

“Kamu ingat dia?”

Nara mengangguk.

“Kenapa aku tidak?”

“Karena tahun lalu, dia yang hilang.”

Raka membuka daftar nama di bawah foto.

Tidak ada Alya.

Hanya tiga puluh lima nama.

“Tapi kenapa wajahnya masih ada?”

“Karena foto ini belum sempat diganti.”

“Diganti oleh siapa?”

Nara menatap pintu gudang, seolah takut seseorang sedang mendengarkan.

“Setiap kali satu siswa dipilih, semua bukti tentang dirinya akan berubah. Foto, daftar hadir, rapor, pesan, bahkan ingatan. Biasanya prosesnya selesai dalam satu malam.”

“Dipilih oleh siapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu bilang anak dalam foto bisa mendengar kita.”

“Aku bilang mungkin.”

“Kenapa kamu masih ingat?”

Nara terdiam cukup lama.

Raka mulai merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.

“Nara.”

“Alya kakakku.”

Raka tidak langsung memahami kalimat itu.

“Kakakmu?”

“Kami beda satu tahun. Dia seharusnya sekarang kelas sembilan.”

“Orang tuamu tidak ingat?”

Nara menggeleng. “Tidak ada yang ingat selain aku.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu yakin?”

Nara menatapnya. Matanya berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap tenang.

“Sebelum hilang, Alya memberiku buku biru.”

Raka segera membuka tas dan mengeluarkan buku itu.

“Buku ini?”

Wajah Nara berubah.

Ia mengambil buku itu dengan tangan gemetar, membuka halaman demi halaman, kemudian berhenti di halaman terakhir.

“Bukan.”

“Bukan milik Alya?”

“Bentuknya sama, tapi tulisan ini bukan tulisannya.”

“Terus buku Alya di mana?”

Nara menatap Raka.

“Hilang saat Alya hilang.”

Tiba-tiba terdengar bunyi keras dari salah satu lemari.

Duk.

Raka dan Nara sama-sama menoleh.

Duk.

Suara itu muncul lagi.

Seperti ada seseorang memukul pintu lemari dari dalam.

Raka mengambil gagang sapu tua yang bersandar di dinding.

Nara berbisik, “Jangan dibuka.”

“Kalau ada orang di dalam?”

“Tidak mungkin.”

Duk.

Kali ini lebih keras.

Debu berjatuhan dari atas lemari.

Raka maju perlahan. “Halo?”

Tidak ada jawaban.

Ia memegang gagang lemari.

Nara mencengkeram lengannya. “Raka.”

“Kalau kita kabur, kita tidak akan tahu apa-apa.”

“Kalau kita buka, mungkin kita justru tahu terlalu banyak.”

Raka menatapnya. “Kalimatmu tidak membantu.”

Ia menarik pintu lemari.

Kosong.

Hanya ada setumpuk map dan sebuah kamera lama.

Raka mengembuskan napas lega. “Tuh, tidak ada apa-apa.”

Namun Nara tidak menjawab.

Ia menatap kamera itu.

“Kamera itu milik sekolah,” katanya pelan. “Dipakai untuk foto kelas sebelum fotografer luar datang.”

Raka mengambilnya. Kamera digital tua itu masih memiliki daya. Ketika tombol dinyalakan, layarnya menyala redup.

Ada satu foto tersimpan.

Foto kelas VIII-B yang diambil kemarin.

Raka membukanya.

Tiga puluh enam siswa terlihat.

Namun kali ini semua wajah buram, kecuali dua orang.

Raka dan Nara.

Di layar, Raka berdiri di barisan tengah. Nara berada di sampingnya.

Sementara di belakang mereka, anak yang mirip Raka berdiri sambil tersenyum.

Tangannya tidak lagi berada di bahu Raka.

Tangannya berada di bahu Nara.

Di bawah foto terdapat penanda waktu.

Hari ini, pukul 10.17.

Raka melihat jam di ponselnya.

Pukul 10.16.

“Foto ini belum terjadi,” katanya.

Tepat saat angka jam berubah menjadi 10.17, pintu gudang menutup sendiri.

Lampu senter ponsel Nara padam.

Ruangan menjadi gelap.

Lalu terdengar suara langkah di antara lemari.

Pelan.

Mendekat.

Raka mengangkat gagang sapu.

“Siapa di sana?”

Sebuah suara laki-laki menjawab dari kegelapan.

Suaranya sangat mirip suara Raka.

“Aku yang seharusnya bertanya begitu.”

Layar kamera menyala sendiri.

Foto di dalamnya berubah.

Kini hanya ada tiga puluh lima siswa.

Nara masih ada.

Anak misterius itu juga.

Tetapi Raka sudah tidak terlihat.

Sebagai gantinya, muncul tulisan baru di bawah foto.

Yang terlupakan tidak selalu hilang. Kadang-kadang mereka ditukar.

Dari belakang, seseorang menyentuh bahu Raka.

Ia berbalik cepat.

Anak laki-laki yang mirip dirinya berdiri hanya beberapa sentimeter di depannya.

Wajahnya pucat, tetapi matanya hidup.

Anak itu tersenyum.

Lalu berbisik,

“Akhirnya aku bisa masuk.”

Raka hendak mundur, tetapi tubuhnya tiba-tiba terasa ringan. Pandangannya bergetar. Suara Nara terdengar memanggil namanya, semakin lama semakin jauh.

Saat Raka membuka mata lagi, ia sudah berdiri di luar gudang.

Pintu terkunci.

Ia mengetuk keras.

“Nara!”

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba membuka pintu, tetapi tangannya menembus gagang.

Raka menatap telapak tangannya dengan ngeri.

Tubuhnya mulai transparan.

Dari balik pintu gudang terdengar suara Nara.

Namun bukan sedang meminta tolong.

Nara tertawa kecil.

Lalu berkata kepada seseorang,

“Raka, kita harus kembali ke kelas.”

Raka membeku.

Suara laki-laki menjawab.

Suara itu sama persis dengan suaranya.

“Iya. Jangan sampai mereka curiga.”

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Nara keluar bersama anak yang mirip Raka.

Anak itu kini mengenakan seragam Raka, membawa tas Raka, dan wajahnya tidak lagi pucat.

Ia terlihat sepenuhnya hidup.

Nara berjalan di sampingnya tanpa menunjukkan rasa takut.

Saat melewati Raka yang berdiri transparan di lorong, Nara sempat berhenti.

Tatapannya mengarah tepat kepadanya.

Raka menunggu.

Berharap Nara masih bisa melihatnya.

Namun Nara hanya mengernyit, lalu berkata,

“Aneh. Tadi aku merasa seperti ada seseorang di sini.”

Raka menatapnya tak percaya.

Anak yang memakai wajahnya tersenyum tipis.

Kemudian ia menoleh ke arah Raka.

Hanya dia satu-satunya yang masih bisa melihat.

Bibirnya bergerak pelan.

“Sekarang cari tempatmu sendiri.”

 Bersambung…

---

Sen