KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (3) Bagian 2
SERI 3
RAKA YANG LEBIH SEMPURNA
Saat istirahat, Raka palsu pergi ke kantin bersama Dimas dan beberapa teman lain. Nara tetap duduk di kelas. Raka asli menunggu sampai ruangan sepi, lalu berdiri di depannya.
“Nara.”
Nara tidak bereaksi.
“Nara, kamu harus ingat aku.”
Ia mencoba menyentuh meja. Tangannya menembus permukaan.
Raka mulai panik. “Kamu satu-satunya orang yang tadi masih bisa melihatku. Kamu tahu tentang Alya. Kamu tahu soal buku itu.”
Nara membuka buku catatan.
Sesaat Raka berharap ia akan menulis sesuatu untuknya.
Namun Nara hanya menyalin tugas.
Raka memperhatikan wajahnya. Tidak ada tanda bahwa Nara sedang berpura-pura. Tatapannya kosong, sama seperti ketika seluruh kelas tidak mengenali Raka pagi tadi.
Ia benar-benar lupa.
Raka menunduk.
Aneh sekali. Ia baru beberapa hari berbicara lebih dekat dengan Nara, tetapi kehilangan ingatan gadis itu terasa berbeda. Mungkin karena Nara adalah satu-satunya bukti bahwa ia masih ada. Ketika Nara lupa, Raka merasa dirinya benar-benar mulai menghilang.
“Nara,” katanya lebih pelan. “Kamu bilang kakakmu juga mengalami ini.”
Tangan Nara berhenti menulis.
Raka langsung mendekat.
“Kamu dengar aku?”
Nara perlahan menoleh ke arah jendela. Wajahnya terlihat bingung.
Kemudian ia mengambil penghapus dan tanpa sadar menulis dengan ujung pensil di halaman kosong.
Alya.
Nara memandangi nama itu.
Alisnya berkerut.
“Alya siapa?” gumamnya.
Raka merasa ada celah.
Ia berteriak, “Kakakmu!”
Nara menulis lagi.
Kakak.
Tangannya mulai gemetar.
Raka terus berbicara.
“Alya kakakmu. Dia hilang tahun lalu. Kamu satu-satunya yang masih ingat. Kamu menunjukkan foto itu kepadaku di gudang.”
Mata Nara berkaca-kaca.
Ia menulis satu kata lagi.
Gudang.
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari lorong.
Raka palsu masuk sambil membawa dua bungkus roti. Begitu melihat tulisan di buku Nara, ekspresinya berubah.
Ia segera mendekat.
“Nara, kamu sedang menulis apa?”
Nara menatap halaman, seolah baru sadar ada kata-kata di sana.
“Aku tidak tahu.”
Raka palsu mengambil buku tersebut.
Raka asli berdiri di antara mereka.
“Jangan sentuh bukunya!”
Raka palsu menatap tepat ke arahnya.
Kemudian, tanpa mengalihkan pandangan, ia merobek halaman itu menjadi potongan kecil.
Nara terkejut. “Kenapa kamu sobek?”
“Cuma coretan.”
Ia membuang sobekan kertas ke tempat sampah.
Beberapa detik kemudian, ekspresi bingung Nara menghilang. Ia membuka bungkus roti yang diberikan kepadanya.
“Terima kasih.”
Raka palsu tersenyum.
Raka asli menatap mereka.
Ada sesuatu yang lebih kuat daripada lupa.
Ingatan Nara sempat kembali ketika nama Alya ditulis, tetapi menghilang lagi setelah tulisan itu dihancurkan.
Berarti benda-benda tertentu masih bisa menyimpan ingatan.
Buku biru.
Foto.
Tulisan tangan.
Mungkin itulah sebabnya semua bukti selalu dihapus.
Raka segera teringat buku biru di dalam tasnya.
Masalahnya, tas itu kini berada di bawah meja Raka palsu.
Ia berusaha meraih tas tersebut, tetapi tangannya menembus kain. Ia tidak bisa mengambilnya. Namun ketika menyentuh bagian tempat buku biru berada, sesuatu yang aneh terjadi.
Ujung jarinya terasa hangat.
Raka mencoba lagi.
Kali ini jarinya tidak sepenuhnya menembus tas.
Ia bisa merasakan permukaannya.
Buku itu masih terhubung dengannya.
Raka palsu langsung menoleh.
“Kamu sedang apa?” bisiknya.
Nara memandangnya. “Kamu bicara dengan siapa?”
Raka palsu tersenyum tipis. “Tidak ada.”
Ia mengambil tas dan memindahkannya ke sisi lain kursi.
Raka asli menyadari anak itu takut dirinya menyentuh buku biru.
Artinya, buku itu penting.
Sepanjang sisa jam pelajaran, Raka mengikuti tas tersebut ke mana pun dibawa. Ia mencoba menyentuhnya berkali-kali. Setiap kali jarinya mengenai bagian buku, tubuh transparannya terasa sedikit lebih padat. Kakinya sesekali bisa menginjak lantai. Bayangannya muncul selama beberapa detik, lalu hilang lagi.
Saat bel pulang berbunyi, Raka palsu berjalan bersama Dimas.
Raka mengikuti mereka.
Dimas tampak sangat gembira.
“Rak, hari ini kamu aneh banget.”
“Aneh bagaimana?”
“Rapi. Pintar. Tidak kena masalah. Tadi bahkan Bu Tatik kasih kembalian dengan benar.”
“Bagus, kan?”
“Bagus, sih.”
Dimas menatapnya dari samping.
“Tapi agak menyeramkan.”
Raka palsu tersenyum. “Kenapa?”
“Karena kamu seperti Raka, tapi bukan Raka.”
Raka asli berhenti.
Dimas merasakannya.
Ia mungkin tidak ingat, tetapi ada bagian kecil dalam dirinya yang menyadari sesuatu tidak benar.
Raka palsu ikut berhenti.
“Apa maksudmu?”
Dimas tertawa kecil, meski terlihat gugup.
“Ya, maksudku kamu seperti habis diperbarui. Raka versi baru. Bug-nya sudah diperbaiki.”
“Bukankah itu lebih baik?”
“Mungkin.”
Dimas menggaruk kepala.
“Tapi kalau semua bug-nya hilang, jadi bukan kamu lagi.”
Raka asli menatap sahabatnya dengan haru.
“Dim, akhirnya otakmu berguna juga.”
Dimas tiba-tiba menoleh ke belakang.
Raka menahan napas.
Mata Dimas tampak memandang tepat ke arahnya.
Namun setelah beberapa saat, Dimas hanya menggeleng.
“Kenapa?” tanya Raka palsu.
“Enggak. Kayak dengar ada yang ngomong.”
“Mungkin angin.”
“Iya.”
Mereka kembali berjalan.
Raka asli mempercepat langkah, lalu berdiri di sisi Dimas.
“Aku di sini.”
Dimas tidak menjawab.
“Aku Raka.”
Langkah Dimas melambat sedikit.
“Aku yang pernah masukin bola ke gawang sendiri.”
Dimas mendadak tersenyum kecil tanpa alasan.
“Aku yang bantu kamu kabur waktu kamu mecahin pot Bu Wati.”
Dimas mengernyit.
“Aku yang selalu traktir kamu kalau punya uang, meskipun akhirnya kita cuma bisa beli satu gorengan dibagi dua.”
Dimas berhenti berjalan.
Raka palsu ikut berhenti.
“Kenapa lagi?”
Dimas memegang kepalanya.
“Aku seperti ingat sesuatu.”
“Apa?”
“Enggak tahu.”
Raka berdiri tepat di depannya.
“Dimas, ingat aku.”
Dimas menatap ruang kosong di depan wajahnya.
Bibirnya bergerak perlahan.
“Raka?”
Raka palsu segera memegang bahu Dimas.
“Aku di sini.”
Dimas menoleh kepadanya.
Ekspresi bingungnya menghilang.
“Oh, iya.”
Raka asli mengumpat pelan.
Bersambung...
---
Sen
Anak itu bisa menguatkan ingatan palsu hanya dengan sentuhan.
