KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (4) Bagian 1
SERI 4
RUMAH YANG MEMILIH ANAKNYA
Beberapa detik setelah lampu kembali menyala, rumah itu terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara piring, tidak ada derit kipas, tidak ada bunyi motor tetangga yang biasanya terdengar dari luar pagar. Bahkan jam dinding di ruang tengah seolah berhenti berdetak. Ibu Raka masih memeluk seorang anak di dapur dengan sangat erat, seolah kalau pelukannya sedikit saja longgar, anak itu akan lenyap lagi. Anak itu tidak langsung bergerak. Ia hanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela, mencoba memastikan wajah yang melihat balik adalah wajah yang memang seharusnya ada. Rambut sedikit berantakan. Bekas luka tipis di dagu. Tahi lalat kecil dekat telinga kiri. Semua milik Raka Pradana. Ia menelan ludah, lalu berkata pelan, “Bu... aku Raka.” Ibunya tidak menjawab. Ia justru menangis semakin keras. Raka menarik tubuh sedikit menjauh. “Bu, aku Raka Pradana, kan?” Ibunya akhirnya menatap wajahnya. Ada lega di sana, tetapi juga sesuatu yang jauh lebih buruk: rasa takut.
“Iya,” kata ibunya. “Kamu Raka.”
Raka mengembuskan napas panjang.
Lalu ibunya menambahkan, “Untuk sekarang.”
Raka langsung menatapnya lagi. “Untuk sekarang maksudnya apa?”
Ibunya berjalan cepat ke ruang tengah, menutup semua tirai, mengunci pintu depan, lalu mencabut kabel telepon rumah yang bahkan hampir tidak pernah mereka gunakan. Ia memeriksa jendela satu per satu, seolah seseorang mungkin sedang mengintip dari luar. Raka berdiri di tengah ruangan dengan buku biru masih di tangannya. Ia ingin bertanya banyak hal sekaligus, tetapi mulutnya seperti kebanjiran pertanyaan sampai tidak tahu harus memilih yang mana dulu. Tentang saudara kembarnya. Tentang foto ulang tahun. Tentang “rumah yang memilih anaknya”. Tentang kenapa ibunya mengatakan tidak memilihnya. Tentang nomor 36. Tentang sekolah. Tentang Nara. Tentang anak yang kini entah berada di mana. Akhirnya ia memilih pertanyaan paling sederhana.
“Siapa Raka Perdana?”
Ibunya berhenti di depan lemari pajangan.
“Adikmu.”
“Katanya kembar.”
“Kakakmu.”
Raka mengernyit. “Lho?”
Ibunya mengusap wajah. “Kalian lahir selisih tujuh menit. Ibu tidak pernah sepakat siapa kakak siapa. Ayahmu bilang yang keluar duluan kakak. Ibu bilang yang bertahan lebih lama di perut lebih tua.”
Raka menatapnya datar. “Serius, Bu? Kita sedang membahas saudara kembar yang dihapus dari dunia dan Ibu masih sempat debat definisi kakak?”
Ibunya hampir tersenyum.
Hampir.
Lalu wajahnya kembali suram.
“Namanya Raka Perdana.”
“Kenapa namanya hampir sama?”
“Itu kesalahan ayahmu.”
“Kesalahan bagaimana?”
“Waktu di rumah sakit, ayahmu mengisi formulir nama. Ibu masih belum sadar penuh. Rencananya kamu Raka Pradana, saudaramu Raka Perdana.”
Raka terdiam.
“Beda satu huruf?”
Ibunya mengangguk.
“Kenapa?”
“Katanya biar kompak.”
Raka memejamkan mata.
“Kadang aku paham kenapa manusia dilarang membuat keputusan penting saat bahagia.”
Ibunya benar-benar tersenyum kecil kali ini, lalu duduk di sofa. “Awalnya kami pikir tidak ada masalah. Kalian tumbuh sehat. Sama-sama aktif. Sama-sama sulit tidur. Sama-sama membuat rumah seperti tempat pelatihan ketahanan mental.”
“Berarti sifat sialku memang bawaan keluarga?”
“Bukan itu intinya.”
“Oh.”
Raka duduk di depannya.
Ibunya menatap buku biru. “Masalah mulai muncul menjelang ulang tahun kelima.”
“Apa yang terjadi?”
“Orang-orang mulai salah mengingat.”
“Seperti sekarang?”
“Belum separah ini.”
Ibunya menarik napas. “Guru TK memanggil kalian dengan nama yang sama. Dokter salah menulis data. Kartu imunisasi kalian bertukar. Foto keluarga mulai aneh. Dalam satu foto, kadang hanya satu anak yang terlihat. Besoknya dua. Lalu kembali satu.”
Raka menatap buku di tangannya.
“Terus?”
“Suatu malam, ayahmu menemukan buku seperti itu.”
Raka langsung mengangkat buku biru.
“Ini?”
“Bukan buku yang sama. Tapi bentuknya sama.”
“Isinya?”
“Awalnya kosong.”
Raka merasakan tengkuknya dingin.
“Lalu muncul tulisan.”
Ibunya mengangguk.
“Apa tulisannya?”
Ibunya tidak langsung menjawab.
“Bu?”
“Dua nama yang terlalu mirip tidak bisa bertahan dalam satu ingatan.”
Raka tertawa kecil, tetapi tidak ada lucu di dalamnya. “Itu aturan siapa?”
“Tidak tahu.”
“Dan Ibu percaya?”
“Awalnya tidak.”
“Lalu?”
“Orang mulai lupa salah satu dari kalian.”
“Siapa?”
Ibunya menatapnya.
“Kamu.”
Raka diam.
“Setiap pagi, Ibu masih ingat dua anak. Menjelang siang, Ibu mulai hanya ingat Raka Perdana. Ayahmu juga begitu. Pengasuh kalian juga. Tetangga juga.”
Raka merasa perutnya mengeras.
“Jadi aku yang hampir hilang?”
“Iya.”
“Lalu kenapa sekarang dia yang tidak ada?”
Ibunya menggenggam tangannya erat.
“Karena Ibu menukar kalian.”
Raka menarik tangannya.
“Apa?”
“Ibu menukar nama di buku itu.”
“Buku bisa menukar manusia?”
“Ibu tidak tahu. Waktu itu Ibu hanya tahu satu hal: kalau tidak melakukan sesuatu, kamu akan benar-benar hilang.”
“Kenapa aku?”
Ibunya menangis lagi.
Raka menatapnya tajam. “Kenapa Ibu memilih aku?”
“Ibu tidak memilih.”
“Tadi Ibu bilang tidak memilihku.”
“Karena memang bukan begitu kejadiannya.”
“Terus bagaimana?”
Bersambung...
---
Sen
