Kereta Terakhir ke Arah Selatan

Malam itu Iqbal membeli dua tiket.

Padahal dia tahu hanya satu orang yang akan berangkat.

---

Stasiun kecil itu hampir kosong.

Lampu peron berkedip.

Suara pengumuman terdengar patah-patah seperti orang mengantuk.

Di bangku paling ujung, Iqbal duduk sambil memegang amplop cokelat yang sudah kusut.

Isinya bukan uang.

Bukan dokumen.

Hanya tiga lembar surat yang tidak pernah dikirim.

---

Orang-orang bilang perjalanan paling berat adalah meninggalkan seseorang.

Menurut Iqbal, mereka salah.

Yang paling berat adalah pergi ketika seseorang itu masih terasa ada.

---

Lima tahun lalu, ia mengenal Aluna.

Perempuan yang selalu membawa buku kecil kemana-mana.

Bukan karena suka menulis.

Tapi karena takut lupa.

---

“Kalau suatu hari aku lupa semua hal penting dalam hidupku, aku masih punya catatan,” katanya.

---

Iqbal tertawa waktu itu.

“Kamu terlalu banyak mikir.”

---

Aluna hanya tersenyum.

“Kamu terlalu yakin semua hal akan tetap sama.”

---

Ternyata dia yang benar.

Manusia memang sering merasa masa depan adalah sesuatu yang bisa ditawar.

Padahal hidup tidak pernah mau negosiasi.

---

Mereka berencana pergi ke selatan.

Bukan karena tempatnya istimewa.

Tapi karena Aluna percaya ada kota kecil di sana yang bisa membuat orang memulai ulang hidupnya.

---

“Kalau semuanya terlalu berat, kita pergi.”

---

Itu janji mereka.

---

Tapi sebelum hari keberangkatan tiba, Aluna menghilang.

---

Tidak ada pesan.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada perpisahan.

---

Iqbal mencarinya berbulan-bulan.

Sampai akhirnya ia mendapat kabar:

Aluna menikah.

Dengan orang lain.

---

Lucu.

Orang bisa menghabiskan bertahun-tahun mengenal seseorang…

lalu tahu kabar hidupnya dari orang asing.

---

Sejak saat itu Iqbal membenci kereta.

Karena kereta selalu bergerak.

Tidak peduli siapa yang tertinggal.

---

Tapi malam ini ia kembali ke stasiun.

Karena lima tahun lalu mereka membeli dua tiket untuk perjalanan yang tidak pernah terjadi.

Dan entah kenapa tiket itu masih ia simpan.

---

“Masih suka datang ke sini?”

---

Suara itu membuat tubuhnya kaku.

---

Iqbal menoleh.

Aluna berdiri beberapa langkah darinya.

Lebih kurus.

Lebih dewasa.

Tidak seperti perempuan yang ia ingat.

---

“Kamu?”

---

Aluna tersenyum kecil.

“Aku tahu kamu masih simpan tiketnya.”

---

Kalimat itu membuat Iqbal marah.

---

“Kamu tahu?”

---

“Iya.”

---

“Lima tahun aku nunggu jawaban.”

---

Aluna menunduk.

---

“Aku sakit waktu itu.”

---

Iqbal diam.

---

“Aku kena penyakit yang kemungkinan membuat aku tidak bisa punya kehidupan normal.”

---

“Terus?”

---

“Aku tidak mau kamu ikut hancur.”

---

Iqbal tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena terlalu sakit untuk menangis.

---

“Jadi kamu memutuskan sendiri?”

---

Aluna tidak menjawab.

---

Kereta terdengar mendekat.

---

“Aku menikah bukan karena cinta,” katanya.

“Aku menikah karena keluargaku butuh seseorang yang bisa menjagaku.”

---

Iqbal menatapnya.

---

“Dan sekarang?”

---

Aluna tersenyum sedih.

---

“Sekarang aku sudah sendiri.”

---

Mereka berdiri dalam diam.

Lima tahun.

Hanya untuk sampai pada satu percakapan.

---

“Kenapa datang sekarang?”

tanya Iqbal.

---

Aluna melihat rel.

---

“Karena dokter bilang waktuku tidak banyak.”

---

Kalimat itu seharusnya membuat semuanya selesai.

Seharusnya.

---

Tapi hidup punya cara kejam membuat manusia berharap pada sesuatu yang sudah terlambat.

---

Kereta berhenti.

Pintu terbuka.

---

Iqbal melihat dua tiket di tangannya.

---

“Satu buat aku.”

Ia mengangkat tiket satunya.

“Dan satu buat kamu.”

---

Aluna menatap tiket itu.

---

“Kamu masih mau pergi?”

---

Iqbal menggeleng.

---

“Tidak.”

---

Ia merobek satu tiket.

---

“Dulu aku mau pergi karena ingin lari dari kehilangan kamu.”

---

Ia melihat Aluna.

---

“Sekarang aku cuma ingin berhenti membawa masa lalu kemana-mana.”

---

Kereta kembali berjalan.

Tanpa mereka.

---

Pagi harinya, petugas kebersihan menemukan sebuah amplop di bangku stasiun.

Di dalamnya ada tiga surat.

---

Surat pertama untuk Aluna.

Surat kedua untuk dirinya sendiri.

Surat ketiga kosong.

---

Karena beberapa cerita memang tidak membutuhkan akhir yang bahagia.

Kadang manusia hanya perlu ruang kosong…

untuk menerima bahwa tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan tinggal.

---

Sen