Ketika Kartini Masuk Kelas Hari Ini
OPINI
Nurul Ulfa Apriliani, S.Pd., M.Pd - Guru di SMPN 2 Samarinda
Setiap tahun R.A. Kartini selalu “dipanggil” lagi untuk sekadar jadi simbol: kebaya, lomba-lomba, caption manis. Sementara di ruang kelas, guru justru berhadapan dengan realitas yang jauh lebih rumit dari sekadar emansipasi versi poster.
Sebagai seorang guru, Hari Kartini hari ini bukan lagi soal “perempuan boleh sekolah” — itu sudah lewat satu abad. Tantangannya sekarang jauh lebih halus, tapi juga lebih licin: apakah pendidikan benar-benar memberi ruang setara bagi semua siswa untuk berkembang, atau hanya mengganti bentuk ketidakadilannya?
Kebijakan pemerintah dengan program Kurikulum Merdeka sebenarnya membawa semangat yang sejalan dengan cita-cita Kartini: kebebasan berpikir, ruang eksplorasi, dan pengakuan terhadap potensi individu. Secara konsep, ini indah. Guru didorong untuk tidak lagi sekadar “mengajar”, tapi membimbing. Siswa tidak lagi dipaksa seragam dalam cara belajar.
Masalahnya, konsep bagus sering kali jatuh ke realitas yang... ya, manusiawi. Tidak semua sekolah punya sumber daya yang sama. Tidak semua guru mendapat pelatihan yang cukup. Dan tidak semua siswa punya akses yang adil terhadap teknologi atau lingkungan belajar yang mendukung. Di titik ini, semangat “merdeka belajar” bisa terasa seperti slogan yang terlalu optimis.
Dari perspektif gender, situasinya juga belum sepenuhnya selesai. Secara formal, laki-laki dan perempuan sudah punya akses pendidikan yang sama. Tapi di kelas, bias itu masih muncul dalam bentuk yang lebih halus: ekspektasi berbeda, stereotip pilihan jurusan, bahkan cara guru tanpa sadar merespons siswa. Kartini mungkin tidak lagi berjuang melawan larangan sekolah, tapi kalau dia masuk kelas hari ini, dia mungkin akan mengernyit melihat bentuk-bentuk ketidaksetaraan yang lebih terselubung.
Sebagai guru, Hari Kartini jadi semacam pengingat yang agak mengganggu. Bukan nostalgia, tapi evaluasi. Apakah kita sudah benar-benar mendidik siswa untuk berpikir merdeka, atau hanya mengganti cara lama dengan istilah baru? Apakah kebijakan yang ada benar-benar membebaskan, atau justru menambah beban administratif yang diam-diam menggerus kualitas interaksi di kelas?
Kartini dulu menulis karena dia tidak punya banyak ruang untuk berbicara. Siswa hari ini justru hidup di dunia yang terlalu bising. Tugas guru sekarang bukan lagi membuka akses, tapi membantu mereka menyaring, memahami, dan berani berpikir sendiri.
Ironisnya, itu jauh lebih sulit.
Jadi kalau mau jujur, merayakan Hari Kartini sebagai guru itu bukan soal seremoni. Ini lebih mirip alarm tahunan: sudah sejauh mana pendidikan kita benar-benar memerdekakan manusia, bukan sekadar mencetak lulusan. Dan alarm itu, sayangnya, masih sering kita snooze.(sen/tw)
