KITA YANG TAK PERNAH TERJADI

Aku jatuh cinta pada Aksa di hari yang sangat biasa.

Tidak ada hujan, tidak ada musik latar, tidak ada kejadian dramatis yang layak diceritakan ulang berkali-kali. Hanya ruang kelas yang panas, papan tulis yang penuh coretan, dan seorang laki-laki yang datang terlambat sambil membawa senyum yang entah kenapa terasa terlalu tenang untuk dunia yang berisik.

“Aku Aksa,” katanya singkat saat memperkenalkan diri.

Sejak saat itu, entah bagaimana, dunia jadi punya pusat.

Dan pusatnya… dia.

---

Aksa bukan tipe yang banyak bicara. Dia lebih sering duduk di pojok, menatap keluar jendela seolah ada sesuatu di luar sana yang lebih menarik daripada pelajaran atau manusia lain.

Anehnya, aku selalu duduk di dekatnya.

Bukan karena kebetulan. Lebih karena aku selalu mencari alasan.

“Kenapa sih kamu sering bengong?” tanyaku suatu hari.

Dia tidak langsung menjawab. Hanya tersenyum tipis.

“Karena kalau aku terlalu lama lihat ke dalam kelas… aku takut jadi terbiasa.”

“Terbiasa apa?”

“Terbiasa sama sesuatu yang mungkin nggak akan lama.”

Aku tidak benar-benar mengerti waktu itu. Tapi kalimat itu… tinggal.

---

Kami mulai dekat dengan cara yang sederhana. Tidak ada pengakuan besar, tidak ada momen dramatis. Hanya obrolan kecil yang lama-lama jadi penting.

Dia suka es teh terlalu manis.
Aku suka kopi pahit yang sebenarnya tidak benar-benar aku nikmati.

Dia sering lupa bawa buku.
Aku selalu membawa dua.

Dia sering menghilang saat istirahat.
Aku… mulai mencari.

---

Suatu sore, saat sekolah hampir kosong, aku menemukannya di lapangan belakang. Duduk sendirian, memandang langit yang mulai berubah warna.

“Kamu kenapa sih suka banget sendirian?” tanyaku lagi.

Dia menatapku kali ini.

Lama.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

“Aku nggak sendirian,” katanya pelan. “Aku cuma… nggak selalu kelihatan.”

Aku tertawa kecil.
“Apaan sih, misterius banget.”

Dia ikut tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak ikut tertawa.

---

Hari-hari berlalu, dan aku mulai menyadari satu hal aneh.

Tidak semua orang menyadari keberadaan Aksa.

Kadang, saat aku menyebut namanya, teman-temanku hanya mengernyit.

“Aksa? Siapa?”

Aku pikir mereka bercanda.

Sampai suatu hari, saat guru memanggil daftar hadir—

nama Aksa tidak pernah disebut.

---

Aku mulai gelisah.

“Sa, kamu tuh sebenarnya kelas kita kan?” tanyaku.

Dia mengangguk santai.

“Kamu duduk di sebelah aku tiap hari.”

“Iya, tapi… kenapa orang lain kayak nggak sadar kamu ada?”

Dia diam sebentar.

Lalu menjawab dengan nada ringan yang terasa terlalu ringan.

“Mungkin karena kamu aja yang benar-benar lihat aku.”

Jawaban itu seharusnya terdengar manis.

Tapi entah kenapa, yang aku rasakan justru dingin.

---

Aku mulai memperhatikan lebih serius.

Saat aku bicara dengannya di kantin, tidak ada yang menoleh.
Saat aku tertawa karena leluconnya, orang-orang melihatku seperti aku berbicara sendiri.

Aku mulai merasa… ada yang salah.

---

Puncaknya datang di hari hujan.

Sekolah sepi. Aku duduk di kelas, menunggu hujan reda. Aksa datang, seperti biasa, tanpa suara.

“Kamu percaya nggak kalau seseorang bisa tetap ada… walaupun sebenarnya sudah pergi?” tanyanya tiba-tiba.

Aku menatapnya.

“Kamu lagi ngomong apa sih?”

Dia tersenyum.

“Kalau suatu hari aku nggak ada… kamu bakal nyariin aku nggak?”

“Jangan ngomong aneh-aneh deh,” jawabku cepat. “Kamu kan di sini.”

Dia tidak menjawab.

Hanya menatapku dengan cara yang… berbeda.

---

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mencari tahu.

Aku membuka arsip sekolah. Mencari nama Aksa di daftar siswa.

Dan aku menemukannya.

Bukan di daftar aktif.

Tapi di berita lama.

Kecelakaan.

Seorang siswa bernama Aksa meninggal setahun lalu, dalam perjalanan pulang sekolah.

Tanganku gemetar saat membaca.

Wajah di foto itu…

tidak salah.

Itu dia.

---

Keesokan harinya, aku datang ke sekolah dengan perasaan kacau.

Aku mencari Aksa.

Di kelas.
Di kantin.
Di lapangan.

Tidak ada.

Hari itu, untuk pertama kalinya—

aku tidak menemukannya.

---

Hari-hari setelah itu terasa kosong.

Seolah ada bagian dari rutinitasku yang tiba-tiba hilang tanpa penjelasan.

Aku mulai bertanya-tanya… apakah semua itu nyata?

Atau hanya imajinasiku yang terlalu jauh?

---

Seminggu kemudian, aku duduk sendiri di kelas.

Tanpa sadar, aku menoleh ke kursi di sebelahku.

Kosong.

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang lebih mengganggu daripada apa pun.

Semua kenangan tentang Aksa…

hanya terjadi saat aku sendirian.

---

Aku membuka ponselku.

Mencari satu foto pun tentang dia.

Tidak ada.

Tidak pernah ada.

---

Dan saat itulah kenyataan yang sebenarnya datang.

Perlahan. Dingin.

Menghantam tanpa suara.

---

Aksa… memang pernah ada.

Tapi bukan di hidupku.

---

Aku yang menciptakan dia.

Dari rasa sepi yang terlalu lama aku simpan.
Dari keinginan untuk dimengerti tanpa harus menjelaskan.
Dari harapan sederhana… untuk punya seseorang yang memilih tinggal.

---

Aksa bukan hantu.

Bukan juga manusia.

Dia adalah versi dari diriku… yang selalu aku harapkan ada.

Seseorang yang mengerti aku tanpa syarat.

Seseorang yang tidak akan pergi…

karena sejak awal, dia tidak pernah benar-benar ada.

---

Sekarang, kursi itu selalu kosong.

Dan aku akhirnya belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di kelas mana pun:

Tidak semua cinta ditakdirkan untuk terjadi.

Beberapa… hanya cukup untuk dirasakan.

Lalu ditinggalkan.

---

Sen