Kotak Kayu di Loteng

Nenek selalu melarangku membuka pintu loteng.

Bukan karena takut aku jatuh.

Bukan karena tangganya rapuh.

Tapi karena katanya:

“Tidak semua barang lama perlu ditemukan kembali.”

---

Waktu kecil aku mengira itu hanya kalimat orang tua yang suka membuat sesuatu terdengar misterius.

Orang tua memang punya bakat aneh.

Mereka bisa menyembunyikan kunci lemari lalu membuatnya terdengar seperti rahasia kerajaan.

---

Namaku Lila.

Aku kembali ke rumah nenek setelah hampir sepuluh tahun tinggal di kota.

Bukan karena rindu.

Hanya karena rumah itu harus dijual.

Nenek sudah meninggal.

Tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan rumah tua dengan halaman luas dan dinding yang mulai retak.

---

Tetangga bilang rumah itu menyimpan banyak cerita.

Tentu saja.

Rumah tua selalu begitu.

Kalau temboknya bisa bicara, mungkin manusia akan lebih sering malu daripada bangga.

---

Hari ketiga membersihkan rumah, aku menemukan pintu loteng.

Kuncinya masih tergantung.

Seolah seseorang sengaja meninggalkannya untukku.

---

Di dalam, debu menutupi hampir semuanya.

Kursi tua.

Buku-buku.

Baju lama.

Dan sebuah kotak kayu kecil di sudut ruangan.

---

Tidak besar.

Tidak indah.

Tapi ada ukiran nama di atasnya.

---

“Untuk Laras.”

---

Laras adalah nama ibuku.

---

Aku langsung berhenti.

Karena selama hidupku, nenek hampir tidak pernah membicarakan ibu.

---

Ibuku meninggal saat aku masih kecil.

Itu yang selalu dikatakan keluarga.

Kecelakaan.

Selesai.

Tidak ada cerita lain.

---

Aku membuka kotak itu.

Isinya bukan emas.

Bukan surat warisan.

Bukan benda berharga.

---

Hanya kaset lama.

Foto.

Dan satu buku catatan.

---

Di halaman pertama tertulis:

"Kalau Lila menemukan ini, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskan sendiri."

---

Tanganku dingin.

---

Itu tulisan ibu.

---

Aku membaca perlahan.

---

Ibu ternyata tidak meninggal karena kecelakaan.

---

Ia pergi.

---

Bukan meninggal.

Pergi.

---

Selama bertahun-tahun aku hidup dengan cerita bahwa ibuku dimakamkan.

Padahal kenyataannya…

ibuku masih hidup ketika aku tumbuh tanpa dirinya.

---

Aku membaca halaman demi halaman.

Dan semakin jauh membaca, semakin aku sadar:

cerita keluargaku dibangun dari kebohongan yang rapi.

---

Ibuku menikah muda.

Ayahku bukan laki-laki baik seperti yang selalu diceritakan nenek.

Ia kasar.

Sering mabuk.

Sering menyakiti.

---

Suatu malam ibu pergi.

Meninggalkan aku yang masih kecil.

---

Tapi nenek memilih mengatakan ibu meninggal.

Karena menurutnya…

anak kecil lebih mudah menerima kematian daripada kenyataan bahwa ibunya memilih pergi.

---

Aku marah.

Sangat marah.

---

Bukan pada ibu.

Bukan juga pada nenek.

---

Tapi pada semua orang dewasa yang merasa berhak menentukan luka apa yang boleh diketahui seorang anak.

---

Di bagian terakhir buku itu, ada alamat.

---

Sebuah kota kecil.

---

Dan nama:

Laras Wening.

---

Ibuku.

---

Aku menemukannya tiga bulan kemudian.

---

Dia tinggal di rumah sederhana dekat pantai.

Rambutnya sudah putih.

Tangannya penuh bekas luka.

---

Saat melihatku, dia tidak menangis.

Tidak langsung memeluk.

Hanya berdiri diam.

---

“Kamu Lila?”

---

Aku mengangguk.

---

“Aku tahu suatu hari kamu akan datang.”

---

Kalimat itu membuatku kesal.

---

“Kalau tahu, kenapa tidak pernah datang?”

---

Dia menunduk.

---

“Karena aku pengecut.”

---

Jawaban sederhana.

Tidak dramatis.

Tidak memberi alasan panjang.

---

Aneh.

Kadang manusia paling sulit menerima bukan kebohongan.

Tapi kejujuran yang terlambat.

---

“Aku pikir meninggalkan kamu akan membuat hidupmu lebih baik.”

---

Aku tertawa kecil.

---

“Terus?”

---

Dia menangis.

---

“Terus ternyata aku salah.”

---

Kami tidak langsung menjadi ibu dan anak seperti film.

Tidak ada pelukan panjang.

Tidak ada musik sedih.

---

Kami hanya duduk minum teh.

Dua orang asing yang kebetulan punya darah sama.

---

Sebelum pulang, ibu memberiku sesuatu.

---

Kotak kecil.

---

“Apa ini?”

---

Dia tersenyum.

---

“Buka nanti.”

---

Di rumah nenek, aku membuka kotak itu.

---

Isinya sebuah foto.

Foto aku saat bayi.

Digendong ibu.

---

Di belakang foto ada tulisan:

"Aku mungkin gagal menjadi ibu yang tinggal. Tapi aku tidak pernah berhenti menjadi ibu yang mengingat."

---

Aku menangis malam itu.

Bukan karena semuanya kembali.

---

Tapi karena aku sadar:

beberapa kehilangan tidak terjadi saat seseorang pergi.

---

Kadang kehilangan terjadi saat seseorang masih ada…

tapi tidak tahu bagaimana cara kembali.

---

Sen