Menakar Positif-Negatif Kehadiran Media Sosial, Pemerintah Tertantang untuk Adaptif
NGAPEH: Muhammad Faisal (kedua kiri) bersama para konten kreator berbagi seputar wawasan bermedia sosial.
TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Media sosial menjadi kanal baru bagi masyarakat dalam menyerap informasi. Tampilannya lebih ringan, aktual, praktis, serta entertaining membuatnya seketika menjadi rujukan informasi baru yang diandalkan masyarakat.
"Dunia sosial mengubah tatanan pola kehidupan dan segalanya. Bahkan teori-teori yang diyakini sebagai sebuah teori komunikasi bisa berubah gara-gara media sosial," ungkap Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim Muhammad Faisal saat menjadi pembicara pada program Ngapeh dengan tema berkarya melalui media sosial, Selasa (10/6).
Menurut pemerintah, kehadiran media sosial menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, mereka pun bersiap dengan segala kemungkinan dan risiko, termasuk penyebaran disinformasi alias hoaks dan praktik pendengung alias buzzer.
"Suka tidak suka, pemerintah belajar ikut terjun di dalamnya. Ternyata banyak juga keuntungan maupun manfaatnya daripada hal-hal negatif. Tapi pemerintah harus siap-siap dan menyiapkan," jelasnya.
Pemerintah pun dituntut beradaptasi dengan kehadiran media sosial. Termasuk bagaimana ikut nimbrung dalam menyampaikan sosialisasi dan diseminasi informasi. Di samping itu, penting juga mengantisipasi kemungkinan negatif yang muncul dari media sosial.
"Perilaku netizen ini berubah-ubah. Sehingga dibutuhkan bukan hanya update wawasan pengetahuan dan situasi terkini, tapi juga strategi oleh survei-survei dan ini menjadi bagian dari strategi," kata Faisal.
Pemerintah pun mulai beradaptasi dengan tren konten yang lebih ringkas. "Kalau dulu bikin video panjang-panjang, sekarang justru pendek. Yang pendek bukan lebih mudah, tapi pendek malah lebih sulit," imbuh Faisal.
Hal ini juga memunculkan peluang kerja baru yang menjanjikan bagi generasi muda yang melek digital. Namun, percepatan transformasi digital harus diimbangi dengan percepatan literasi digital. Menurutnya, kemajuan teknologi dengan literasi digital harus sejalan. Kalau tidak, internet rawan disalahgunakan.
Pemerintah juga menyadari bahwa tidak mudah menjadi content creator, sehingga kini mereka bekerja sama dengan content creator yang sesuai tema yang ingin disampaikan. Selain itu, Pemerintah mulai melirik peran content creator dan influencer untuk memastikan pesan-pesan yang dibuat dapat dilihat dan dinikmati masyarakat, sehingga apapun konten yang dibuat, pesannya sampai ke masyarakat. (adv/diskominfokaltim/prb/ty/wan)
