Mengatasi Tantangan Membangun Infrastruktur Digital di Kaltim, Fyber Optic Jadi Solusi

TERTANTANG: Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal (kanan) berbagi pandangan tentang upaya Pemprov Kaltim dalam membangun infrastruktur digital.

TITIKWARTA.COM - SAMARINDA - Digitalisasi telah menjadi bagian dari kemajuan dunia. Sayang, belum semua masyarakat berkesempatan merasakan kemajuan itu. Yakni mereka yang hidup di desa wilayah terpencil. Boro-boro teknologi, acapkali mereka masih harus berjibaku dengan problem infrastruktur pembangunan fisik.

 

Menyikapi hal tersebut, Pemprov Kaltim terus bergerak meningkatkan dan memperluas infrastruktur digital. Kelak, di desa terpencil sekalipun, jaringan internet tetap bisa terjamah.

 

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim Muhammad Faisal mengatakan, menggiring masyarakat pedesaan ikut berlari di era digitalisasi sudah menjadi visi Pemprov Kaltim.

 

“Kita harus memahami bahwa infrastruktur dasar itu bukan hanya soal jalan dan jembatan, tapi juga jaringan telekomunikasi,” ungkapnya dalam talkshow radio Smart FM di Studio Diskominfo Kaltim, Selasa (17/6).

 

Dia tak memungkiri, sulit sekali membangun koneksi internet di wilayah seluas Kaltim yang terbentang di 127 ribu km2 dan dihuni 4 juta jiwa. Luasan itu setara dengan keseluruhan Pulau Jawa. Sementara, dengan wilayah seluas itu, hanya 11 entitas pemerintah daerah (pemda) yang menangani. Terdiri dari 10 pemerintah kabupaten/kota, dan 1 pemprov. Berbeda dengan Jawa memiliki ratusan entitas pemerintah di berbagai tingkatan.

 

“Jangankan internet, bangun jalan saja pakai APBD Kaltim tidak cukup. Ditambah, perusahaan telekomunikasi swasta akan berpikir untung-rugi sebelum membangun jaringan ke pedalaman seperti Mahulu misalnya,” jelas Faisal.

 

Kendati demikian, ia tetap optimistis. Pemprov Kaltim terus menggalakkan berbagai upaya untuk membangun akses telekomunikasi hingga ke pelosok desa. Salah satunya melalui jaringan fiber optik (FO) yang terhubung dalam sistem jaringan Palapa Ring.

 

“Fiber optik adalah satu-satunya solusi internet murah dan cepat. Tapi kita juga hadapi tantangan kabel FO yang sering putus karena digigit binatang, tergilas alat tambang, hingga putus karena aktivitas perkebunan,” ungkapnya.

 

Selain infrastruktur, Faisal menyoroti pentingnya literasi digital. Menurutnya, masyarakat harus dibekali pemahaman untuk menggunakan teknologi secara produktif. Transformasi digital, lanjut Faisal, juga mampu mendorong pertumbuhan UMKM desa lewat digital marketing. “Kita tak hanya buka akses, tapi juga dorong kolaborasi untuk branding desa, promosi, hingga pengembangan potensi ekonomi lokal.”

 

Ia juga menegaskan perlunya melibatkan perangkat desa dalam pelatihan literasi digital, serta menjaga keamanan data dan informasi sebagai fondasi digitalisasi desa yang berkelanjutan. (adv/diskominfokaltim/KRV/pt/wan)