Puncak Kemeriahan Erau Adat Kutai: Ribuan Warga Bersatu dalam Tradisi Belimbur

TITIKWARTA.COM - TENGGARONG – Pesta budaya tahunan Erau Adat Kutai mencapai puncaknya dalam suasana yang sarat sukacita dan nilai-nilai spiritual. Ribuan warga bersama wisatawan memadati kawasan pinggir Sungai Mahakam di Kota Tenggarong untuk melangsungkan ritual Belimbur, tradisi bersiram air secara kolosal yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian perhelatan adat tersebut.

 

Ritual Belimbur dimulai secara resmi tepat setelah prosesi Mengulur Naga selesai dilaksanakan, di mana replika naga dikirim melalui aliran Sungai Mahakam menuju Kutai Lama. Suasana hening dan khidmat saat prosesi adat seketika berubah menjadi riuh gembira ketika air mulai dipercikkan ke seluruh penjuru kota.

 

Berdasarkan kebiasaan leluhur Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Belimbur bukan sekadar ajang saling menyiram air untuk kesenangan semata. Tradisi ini sarat akan simbol penyucian diri secara lahir dan batin dari berbagai unsur negatif serta marabahaya.

 

Menggunakan air suci yang diambil khusus dari titik perairan Kutai Lama serta disirami percikan dari Naga Gendrik, prosesi ini diyakini membawa keberkahan, keselamatan, dan keharmonisan bagi seluruh masyarakat yang terlibat.

 

Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pangeran Notonegoro, menjelaskan bahwa nilai utama dari tradisi Belimbur terletak pada pesan pembersihan diri serta persatuan antar-sesama manusia tanpa memandang latar belakang.

 

"Belimbur adalah simbol pembersihan diri dari segala sifat buruk dan dosa. Melalui percikan air ini, kita diajarkan untuk saling memaafkan, menyucikan hati, serta mempererat tali persaudaraan. Namun, yang paling krusial adalah seluruh masyarakat wajib menjaga tata krama dan kesopanan selama ritual berlangsung," terang Pangeran Notonegoro dalam keterangannya hari ini di Tenggarong.

 

Pihak kesultanan bersama pemerintah daerah setempat juga telah menetapkan batasan dan aturan tegas (sintuk) dalam pelaksanaan Belimbur. Penggunaan air kotor, wadah plastik keras, serta aksi siram yang berlebihan kepada lansia, bayi, dan pengendara yang melintas sangat dilarang demi menjaga keaslian serta keamanan tradisi.

 

Pelaksanaan Belimbur tahun ini berlangsung aman, tertib, dan penuh kehangatan, sekaligus menegaskan posisi Erau sebagai salah satu warisan budaya takbenda Indonesia yang paling memikat. Pangeran Notonegoro berharap kelestarian tradisi ini terus terjaga dari generasi ke generasi. "Semoga nilai-nilai luhur dan keberkahan dari ritual Belimbur ini senantiasa melindungi daerah kita serta memperkuat kedamaian di tanah Kutai Kartanegara," pungkasnya.(yak/tw)