Sepatu yang Selalu Dibersihkan Malam Hari
Setiap malam, sebelum tidur, Iqbal membersihkan sepatunya.
Bukan karena sepatu itu mahal.
Justru sebaliknya.
Sepatu itu sudah terlalu tua.
Solnya mulai tipis.
Bagian depannya menganga sedikit.
---
Tapi bagi Iqbal, sepatu itu adalah alasan dia tetap berangkat sekolah.
---
“Kalau sepatu masih bisa dipakai, jangan buru-buru minta yang baru,” kata ibunya.
---
Bukan karena ibu pelit.
Iqbal tahu.
Di rumah mereka, setiap uang punya tujuan.
Beras.
Listrik.
Obat nenek.
Dan kadang-kadang, sesuatu yang harus dikorbankan.
---
Iqbal tinggal di kampung kecil dekat perkebunan.
Setiap pagi ia berjalan hampir tiga kilometer menuju sekolah.
---
Teman-temannya sering bertanya:
“Kenapa nggak naik motor?”
---
Iqbal hanya tertawa.
Karena beberapa jawaban terlalu panjang untuk dijelaskan.
---
Ayahnya sudah tidak ada sejak ia kelas tiga.
Bukan meninggal.
Pergi.
---
Ibunya tidak pernah bercerita banyak.
Hanya mengatakan:
“Ada orang yang tidak kuat menghadapi tanggung jawab.”
---
Iqbal kecil tidak mengerti.
Sekarang ia mengerti.
---
Pagi-pagi sekali, sebelum sekolah, ia membantu ibu menjual kue.
Membawa nampan.
Mengantar pesanan.
Baru setelah itu berangkat.
---
Kadang ia terlambat.
Kadang ia mengantuk di kelas.
---
Tapi nilai Iqbal selalu bagus.
Bukan karena hidupnya mudah.
Justru karena ia tahu kesempatan tidak datang dua kali.
---
Suatu hari sekolah mengumumkan lomba esai tingkat kabupaten.
Hadiah utamanya beasiswa.
---
Guru Bahasa Indonesia langsung menunjuk Iqbal.
“Kamu ikut.”
---
Iqbal ragu.
---
“Saya tidak punya laptop, Bu.”
---
“Bisa pinjam.”
---
“Saya tidak pandai cerita.”
---
Gurunya tersenyum.
---
“Orang yang hidupnya penuh cerita biasanya justru paling sulit menceritakannya.”
---
Malam itu Iqbal menulis.
Tentang ibunya.
Tentang sepatu.
Tentang perjalanan pagi yang tidak pernah masuk foto siapa pun.
---
Ia menang.
---
Bukan juara satu.
Bukan hadiah besar.
---
Tapi cukup untuk mendapat beasiswa.
---
Hari pengumuman, semua teman bertepuk tangan.
Iqbal hanya diam.
---
Karena yang ia pikirkan bukan dirinya.
---
Ia membayangkan wajah ibunya.
---
Saat pulang, ibunya sedang melipat kue.
---
“Bu.”
---
“Iya?”
---
“Aku dapat beasiswa.”
---
Tangan ibunya berhenti.
---
“Serius?”
---
Iqbal mengangguk.
---
Ibunya tersenyum.
Lalu menangis kecil.
---
“Kenapa menangis?”
---
Ibunya mengusap wajah.
---
“Karena ibu takut selama ini kamu merasa harus kuat terus.”
---
Kalimat itu membuat Iqbal diam.
---
Selama ini semua orang melihatnya rajin.
Semangat.
Pantang menyerah.
---
Tidak ada yang melihat ia juga pernah iri.
Pernah malu.
Pernah ingin berhenti.
---
Tapi ia tetap berangkat.
---
Beberapa tahun kemudian, Iqbal kembali ke sekolah lamanya.
Bukan sebagai murid.
Sebagai guru muda.
---
Di kelas tempat dulu ia belajar, ia melihat seorang anak duduk di belakang.
Sepatunya rusak.
Tasnya sudah kusam.
---
Anak itu terlihat ingin menyerah.
---
Iqbal duduk di sampingnya.
---
“Kenapa diam saja?”
---
Anak itu mengangkat bahu.
---
“Kayaknya sekolah bukan buat saya, Pak.”
---
Iqbal melihat sepatu anak itu.
---
Lalu tersenyum.
---
“Dulu Bapak juga pernah berpikir begitu.”
---
“Terus?”
---
Iqbal melihat keluar jendela.
Ke jalan yang dulu setiap pagi ia lewati.
---
“Terus Bapak tetap berangkat.”
---
Karena kadang keberhasilan tidak dimulai dari langkah besar.
---
Kadang hanya dari hal kecil:
bangun pagi,
memakai sepatu yang sama,
dan memilih berjalan sekali lagi.
---
Sen
