Tiga Hal yang Tidak Pernah Pulang

Babak Pertama: Nama yang Tertukar

Namanya Aruna.

Setidaknya, itu nama yang dulu ia kenali sebagai miliknya.

Hari itu, ia dipanggil ke ruang yang terlalu dingin untuk ukuran siang hari.

Pendingin ruangan bekerja berlebihan, seperti ingin memastikan tidak ada emosi yang bertahan di dalamnya.

“Kamu tahu ini soal apa?”

Aruna menggeleng.

Bukan karena tidak tahu.

Tapi karena terlalu banyak kemungkinan buruk, ia tidak tahu harus memilih yang mana.

Sebuah layar diputar ke arahnya.

Potongan video.

Wajah yang mirip dengannya.

Gerakan yang… tidak seharusnya ada.

“Itu bukan aku.”

Kalimat itu keluar cepat.

Refleks.

Seperti tubuhnya lebih dulu tahu sebelum pikirannya sempat menyusun kata.

Tidak ada yang langsung membantah.

Tapi juga tidak ada yang percaya.

Dan di titik itu, Aruna mulai mengerti:

Masalahnya bukan pada siapa di video itu.

Masalahnya adalah… wajahnya cukup mirip untuk disalahkan.

Babak Kedua: Dunia yang Menelan

Video itu menyebar lebih cepat dari penjelasan.

Lebih luas dari jangkauan pembelaan.

Lebih kuat dari kebenaran.

Aruna berhenti membuka ponsel.

Tapi dunia tidak berhenti membicarakannya.

Di lorong.

Di kelas.

Di tempat ia tidak hadir sekalipun.

Ibunya mulai jarang bicara.

Ayahnya berhenti menatapnya langsung.

Bukan karena benci.

Tapi karena tidak tahu harus percaya yang mana.

“Apa kamu yakin itu bukan kamu?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Pelan.

Hati-hati.

Tapi cukup untuk menghancurkan sesuatu yang selama ini ia pegang.

Aruna tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya, ia merasa jawabannya… tidak lagi cukup.

Ia mencoba mencari asal video itu.

Akun anonim.

Jejak yang hilang.

Nama yang tidak pernah bisa dipastikan.

Seolah seseorang sengaja membuatnya tidak bisa dilawan.

Dan pelan-pelan, Aruna lelah.

Babak Ketiga: Hal yang Tidak Bisa Dikembalikan

Hujan turun malam itu.

Tidak deras.

Tapi cukup untuk membuat jalanan sepi.

Aruna duduk di lantai kamarnya.

Lampu dimatikan.

Hanya cahaya dari jendela yang masuk sedikit, cukup untuk membuat bayangan terlihat lebih nyata dari bentuk aslinya.

Di tangannya, ponsel itu masih menyala.

Video itu masih ada.

Sudah ia hapus berkali-kali.

Tapi selalu muncul lagi.

Di tempat lain.

Di akun lain.

Di orang lain.

Seperti hidupnya… yang tidak lagi bisa ia kendalikan.

Ia membuka kamera depan.

Menatap dirinya sendiri.

Lama.

Wajah yang sama.

Wajah yang sekarang tidak lagi terasa miliknya.

Di luar, hujan semakin pelan.

Seolah dunia mulai tenang.

Pagi harinya, orang-orang menemukan sesuatu.

Bukan di sekolah.

Bukan di ruang dingin itu.

Di kamar yang terlalu sunyi.

Dengan ponsel yang masih menyala.

Tidak ada pesan panjang.

Tidak ada penjelasan.

Hanya satu video baru.

Bukan video yang menyebar itu.

Tapi wajah Aruna.

Diam.

Menatap kamera.

Dan satu kalimat yang diucapkan dengan suara hampir tak terdengar:

“Kalau ini bukan aku… kenapa tidak ada yang percaya?”

Setelah itu, layar gelap.

Beberapa hari kemudian, semua orang bicara.

Lagi.

Dengan nada yang berbeda.

Lebih pelan.

Lebih hati-hati.

Seolah rasa bersalah bisa memperbaiki sesuatu.

Video lama masih beredar.

Video baru ikut menyusul.

Ditonton.

Dibahas.

Disimpan.

Dan Aruna?

Akhirnya semua orang tahu satu hal:

Yang mereka hancurkan… memang bukan orang di video itu.

Tapi tetap seseorang yang nyata.

---

Sen