Yang Menunggu di Antara Pepohonan

Aku dulu percaya pada ayahku.

Percaya sepenuhnya, tanpa sisa.

Waktu itu dunia masih kecil. Hutan di belakang rumah terasa seperti batas antara yang nyata dan yang tidak perlu dipertanyakan.

“Ada yang menjaga di sana,” kata ayah suatu malam.

Aku duduk di pangkuannya, mendengarkan seperti itu adalah hal paling masuk akal di dunia.

“Dia tidak akan menyakiti. Tapi dia juga tidak suka dilupakan.”

Aku mengangguk, meski tidak benar-benar paham.

Yang penting, ayah percaya. Dan itu cukup.

---

Masalahnya, dunia tidak sebaik itu.

Di sekolah, cerita itu berubah jadi bahan tertawaan.

Awalnya hanya satu dua orang. Lalu jadi satu kelas.

Lalu jadi satu sekolah.

Aku masih ingat suara mereka.

“Eh, tanya dong ke penjaga hutanmu!”
“Dia temenan sama hantu!”
“Ayahnya gila!”

Yang terakhir itu paling sering.

Dan entah kenapa, yang paling sulit dibantah.

---

Aku mulai membenci ayahku pelan-pelan.

Bukan karena dia jahat.

Justru karena dia tetap baik.

Tetap tersenyum. Tetap membantu orang-orang yang diam-diam menertawakannya.

Seolah hinaan itu tidak pernah menyentuhnya.

Seolah aku yang terluka ini… tidak penting.

---

“Tidak semua orang harus mengerti,” katanya suatu hari.

Aku ingin berteriak waktu itu.

Karena aku yang harus menanggung akibatnya.

Bukan dia.

---
Saat beranjak dewasa, kuputuskan pergi merantau secepat mungkin.

Tanpa menoleh.

Tanpa rindu.

Tanpa niat kembali.

Dan untuk waktu yang lama, aku berhasil.

Aku jadi orang “normal”.

Tidak ada lagi cerita aneh. Tidak ada lagi bisikan tentang sesuatu di hutan.

Hidupku bersih.

Atau setidaknya… terlihat begitu.

---

Sampai telepon itu datang.

Suara di seberang terdengar ragu.

“Ayahmu sering ke hutan… sendirian. Malam-malam.”

Aku memejamkan mata.

Tentu saja.

Tentu saja dia tidak pernah berubah.

---

Aku pulang bukan karena rindu.

Aku pulang karena marah.

---

Rumah itu masih sama.

Hanya terasa lebih kosong.

Ayah duduk di teras saat aku datang.

Lebih kurus. Lebih diam. Tapi matanya… tetap sama.

Seolah dia sudah tahu aku akan datang.

“Kamu akhirnya pulang,” katanya pelan.

Tidak ada tuduhan. Tidak ada keluhan.

Itu justru membuatku semakin kesal.

---

“Ayah masih ke hutan?” tanyaku tanpa basa-basi.

Dia tidak langsung menjawab.

Hanya menatap ke arah pepohonan yang mulai gelap.

“Dia masih menunggu.”

Jawaban itu seperti tamparan.

Aku tertawa. Keras. Kasar.

“Ayah sadar gak sih kenapa orang-orang dulu nganggep Ayah aneh?”

Dia diam.

Dan diamnya lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

---

Malam itu, aku mengikutinya.

Tanpa izin.

Tanpa suara.

Dia berjalan pelan ke arah hutan, seolah sudah hafal setiap langkah.

Seolah memang itu tempatnya.

Aku mengikutinya sampai cukup dalam.

Sampai suara desa hilang.

Sampai hanya ada kami… dan sesuatu yang tidak terlihat.

---

“Aku tahu kamu di situ,” kata ayah tiba-tiba.

Aku membeku.

Dia tidak menoleh.

Tidak perlu.

“Seharusnya kamu tidak datang dengan marah,” lanjutnya.

Nada suaranya berubah.

Lebih berat.

Lebih… takut?

---

Angin berhenti.

Benar-benar berhenti.

Hutan yang tadi penuh suara tiba-tiba sunyi seperti ditahan.

Aku ingin bergerak.

Tapi tubuhku seperti tidak mau bekerja sama.

---

Lalu aku melihatnya.

Bukan jelas.

Bukan bentuk utuh.

Hanya… sesuatu yang terlalu besar untuk jadi bayangan, dan terlalu nyata untuk jadi ilusi.

Bergerak di antara pepohonan.

Mengamati.

Menunggu.

---

Ayah berlutut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihatnya… takut.

“Maaf,” katanya pelan.

Kepada sesuatu yang bukan aku.

---

Aku ingin berlari.

Tapi kakiku masih terpaku.

Dan sesuatu itu… bergerak mendekat.

Perlahan.

Sengaja.

Seolah tahu kami tidak bisa ke mana-mana.

---

“Ayah…” suaraku pecah.

Akhirnya.

Dia menoleh.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat penyesalan di matanya.

“Seharusnya aku tidak membiarkanmu melupakan ini,” katanya.

“Karena yang dilupakan… tidak selalu ikut menghilang.”

---

Sesaat kemudian, semuanya terasa terlalu cepat.

Angin kembali.

Pepohonan berguncang keras.

Dan aku kehilangan ayahku.

Bukan seperti orang meninggal.

Bukan seperti orang pergi.

Tapi seperti… diambil.

Dihapus dari tempat dia berdiri.

---

Aku ditemukan pagi harinya di pinggir hutan.

Sendirian.

Tidak ada jejak.

Tidak ada bukti.

Tidak ada apa-apa.

---

Orang-orang bilang ayahku tersesat.

Atau mungkin lari.

Atau mungkin akhirnya benar-benar gila.

Aku tidak membantah.

Aku juga tidak menjelaskan.

Karena tidak ada yang akan percaya.

---

Sekarang, aku punya anak.

Dan beberapa malam, dia menatap ke arah hutan dengan cara yang terlalu familiar.

“Pa,” katanya suatu malam.

“Ada yang nunggu, ya?”

---

Aku menutup mata.

Dada terasa berat.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu…

Aku mengangguk.

---

Kali ini, aku tidak akan membiarkan cerita itu jadi bahan tertawaan.

Karena sekarang aku tahu…

Beberapa hal tidak butuh dipercaya untuk menjadi nyata.

---

Sen