YANG TAK PERNAH PERGI

Aku dulu percaya satu hal yang sekarang terasa… memalukan.

Bahwa cinta itu harus datang dari ketertarikan.
Bahwa laki-laki harus menarik, keren, membuat orang lain iri saat berjalan di sampingku.

Waktu itu, aku masih muda.
Dan, seperti kebanyakan orang muda, aku merasa tahu segalanya.
---

Masa kuliahku penuh dengan hal-hal yang… ringan.

Pertemanan yang ramai.
Obrolan yang panjang.
Dan hubungan-hubungan yang datang dan pergi tanpa pernah benar-benar tinggal.

Aku pernah berpikir, itu semua biasa.

Semua orang juga begitu, kan?
---

Sampai suatu hari, aku dan teman-temanku membuat sesuatu yang bahkan sekarang pun sulit aku banggakan.

Taruhan.

“Siapa yang bisa punya pacar paling banyak dalam seminggu.”

Konyol.
Dangkal.
Dan aku… ikut.
---

Di minggu itulah aku bertemu dia.

Seorang laki-laki yang sebenarnya sudah sering kulihat di kampus. Satu tingkat di atasku.

Namanya… tidak penting waktu itu.

Yang penting hanya satu:

Dia tidak masuk kriteriaku.
---

Tapi dia mudah didekati.

Dan aku butuh satu nama lagi untuk memenangkan taruhan.
---

Jadi aku mendekat.

Berbicara.

Tersenyum.

Dan, seperti yang bisa ditebak, dia menerima.
---

Kami “berpacaran.”

Jika itu pantas disebut begitu.
---

Selama satu minggu itu, dia memperlakukanku… seperti sesuatu yang berharga.

Setiap pagi, dia datang membawa sarapan.
Menungguku di depan kelas.
Mengirim pesan panjang tentang hal-hal kecil yang menurutnya penting.
---

Aku menganggapnya berlebihan.

Lucu.

Sedikit… memalukan.
---

Aku tidak pernah benar-benar melihatnya.

Aku hanya melihat bagaimana aku terlihat di sampingnya.

Dan itu… tidak cukup.
---

Seminggu berlalu.

Taruhan selesai.
---

Aku datang menemuinya.

Tanpa perasaan bersalah.

Tanpa penjelasan panjang.

“Kita cukup sampai di sini, ya.”

Dia tidak langsung menjawab.

Hanya diam.

Matanya… yang waktu itu tidak pernah benar-benar kuperhatikan…

tiba-tiba terasa terlalu dalam.

 “Tapi aku serius,” katanya pelan.

Aku tersenyum tipis.
Senyum yang sekarang terasa kejam.

“Aku nggak.”

Selesai.

Sesederhana itu.

Kupikir itu akhir.

Ternyata tidak.

Hari-hari setelah itu, dia tetap ada.

Masih datang dengan sarapan.
Masih menunggu di tempat yang sama.
Masih mengirim pesan… walau sering tidak kubalas.
---

Bahkan saat aku mulai dekat dengan laki-laki lain, dia tidak pergi.

“Aku cuma mau kamu bahagia,” katanya suatu kali.

Kalimat yang dulu kuanggap berlebihan.

Sekarang… terasa berbeda.
---

Bulan berganti.

Hidupku berjalan seperti biasa.

Sampai suatu hari, dia bilang harus pergi.

Mengikuti pendidikan militer, katanya.

Kami bertemu untuk terakhir kalinya sebelum dia berangkat.

Dia menangis.

Laki-laki yang selama ini terlihat kuat, sederhana, dan selalu tersenyum itu… menangis di depanku.

“Tolong jaga diri kamu,” katanya.

Aku hanya mengangguk.

Tanpa benar-benar mengerti apa yang ia rasakan.

Dan setelah itu—

dia pergi.

Kupikir… kali ini benar-benar selesai.

Ternyata aku salah lagi.

Dia tetap menghubungiku.

Lewat pesan.
Lewat media sosial.
Lewat apa pun yang masih bisa menjangkaunku.

Kadang aku membalas.

Kadang tidak.
---

Tahun demi tahun berlalu.

Aku tumbuh.
Lebih dewasa.
Lebih realistis.
---

Aku mulai melihat dunia tidak lagi dari luar.
Tapi dari dalam.

Pertanyaan mulai berubah.
Bukan lagi “siapa yang terlihat paling baik.”
Tapi “siapa yang benar-benar ada.”
--

Sembilan tahun berlalu dengan dia yang tak pernah benar benar pegi—
hidup mempertemukan kami lagi.
Tanpa rencana.
Tanpa sengaja.

Aku melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya…
aku benar-benar melihat.

Dia tidak banyak berubah.
Masih sederhana.
Masih tenang.

Tapi ada sesuatu yang dulu tidak pernah kusadari.
Keteguhan.
 
Kami berbicara.
Tidak canggung.
Tidak juga terlalu dekat.

Tapi cukup… untuk membuka sesuatu yang dulu tertutup.
Dan entah bagaimana—
aku mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
 
Bukan lagi dari luar.
Tapi dari semua hal yang pernah ia lakukan… tanpa diminta.

Aku tidak langsung jatuh cinta.
Tidak.
Tapi untuk pertama kalinya…
aku tidak menolak.
 
Tiga bulan, kami menikah
Singkat, karena aku pikir kami sudah cukup untuk saling mengenal
---

Malam itu, setelah semuanya terasa tenang, aku bertanya padanya.

“Gimana bisa ya… kita akhirnya di sini?”

Dia tersenyum.
Senyum yang dulu sering kulihat… tapi tidak pernah kupahami.

“Setiap sujud,” katanya pelan,
“selalu ada namamu.”
 
Aku terdiam.
 
Tiba-tiba, semua potongan masa lalu kembali.

Sarapan pagi.
Pesan-pesan yang tidak kubalas.
Tangis di perpisahan.

Ternyata tenangnya tidak selalu diam, doa adalah cara langit mewujudkan
---

Pernikahan kami berjalan setahun, sederhana.
Tidak ada yang mewah.
Tidak ada yang dramatis.

Hanya dua orang yang belajar hidup bersama, dari hal-hal kecil yang dulu tidak pernah kupikirkan.

Dia selalu bangun lebih pagi dariku.
Mengerjakan semua pekerjaan rumah, tanpa mengeluh

Aku sering pura-pura tidur, hanya untuk merasakan satu kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak masa kuliah—
dia masih menyiapkan sarapan.
 
“Bangun, nanti telat,” katanya pelan.
Nada suaranya tidak pernah memaksa.

Selalu seperti itu.

Kadang aku mengeluh.
“Capek,”

Dia hanya tersenyum.
“Yaudah, lima menit lagi. Tapi nanti aku yang anter.”

Hal-hal kecil.
Sederhana.
Tapi entah kenapa… hangat.
---

Kami tidak sering bertengkar.
Bukan karena selalu sepakat.
Tapi karena Rama selalu memilih mengalah.

 “Kenapa sih kamu selalu ngalah?” tanyaku suatu malam.
Dia berpikir sebentar.

“Karena aku pernah hampir kehilangan kamu… bahkan sebelum benar-benar punya.”
Aku terdiam.
Kalimat itu tidak pernah terasa ringan.
Tapi mungkin, dalam
 
Di rumah kecil kami, waktu berjalan pelan.

Aku mulai mengenal sisi-sisinya yang dulu tidak pernah kulihat.
Cara dia diam saat lelah.
Cara dia tetap berusaha tersenyum saat aku marah tanpa alasan jelas.
Cara dia… selalu ada.
 
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—
aku tidak merasa perlu mencari apa pun di luar.
---

Sampai suatu hari-
Dia harus berangkat tugas.

"Tidak lama"
Katanya.

“Lima bulan aja” ujarnya, mencoba terdengar santai.

Sebuah konsekuensi yang tidak bisa di kompromikan
---

Dia mendekat. Menggenggam tanganku.
“Dulu aku yang nunggu kamu,” katanya pelan.
“Sekarang gantian ya.”

Aku tersenyum.
Dipaksa.
 
Pagi itu, aku mengantarnya.
Untuk pertama kalinya…
aku ada di posisi yang dulu tidak pernah kupahami.
 
Menatap seseorang pergi…
tanpa tahu pasti kapan kembali.
 
“Jaga diri kamu,” kataku.
Dia tertawa kecil.

“Kalimat itu harusnya aku yang bilang.”
Aku tidak tertawa.

Karena entah kenapa…
rasanya berbeda.
 
Hari-hari setelah itu terasa lebih panjang.

Rumah jadi lebih sunyi.

Sarapan tidak lagi ada yang menyiapkan.
Pesan-pesan darinya jadi satu-satunya hal yang kutunggu.
 
Kadang singkat.
Kadang hanya satu kalimat.

 

> “Aku baik-baik aja.”
---
Aku membalas lebih panjang.

Selalu.

Seolah ingin mengganti semua pesan yang dulu tidak pernah kubalas.
Sampai malam terasa panjang karena pesan yang tak kunjung datang…
 
Satu hari.
Dua hari.
 
Aku mulai gelisah.

Dan kemudian—
kabar itu datang.
 
Singkat.

Resmi.

Tidak memberi ruang untuk penolakan.

Rama, dia, suamiku… tidak akan kembali.
 
Dunia tidak langsung runtuh.
Tidak ada suara keras.
Tidak ada adegan dramatis.
 
Hanya sunyi.
 
Sunyi yang terlalu dalam… sampai aku tidak tahu harus merasa apa.
---

Aku duduk di rumah.
Di tempat yang dulu hangat.
Sekarang… terasa asing.

Di meja makan, ada satu kursi kosong.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi—
aku benar-benar mengerti.

Tentang semua hal yang dulu kuabaikan.
Tentang semua rasa yang dulu tidak sempat kubalas.
 
Tentang seseorang…
yang mencintaiku begitu lama—
bahkan saat aku tidak memilihnya.
 
Air mataku jatuh.
Pelan.
 
“Ram…”
Namanya terasa berbeda sekarang.

Bukan lagi seseorang yang ada di sampingku.
Tapi seseorang…
yang akan selalu tinggal.
---
 
Di setiap pagi yang tidak lagi sama.
Di setiap sarapan yang kini harus kubuat sendiri.
Di setiap doa—
yang akhirnya kupanjatkan…
dengan penuh pengertian.
Dan sekarang aku tahu—
cinta yang paling tulus…
tidak selalu datang di waktu yang tepat.

Tapi jika diberi kesempatan—
ia akan tetap tinggal.

Bahkan…
setelah kita terlambat menyadarinya.

---

Sen