AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (4)

Episode 4 -  Bimo, Tugas Kelompok, dan Pengkhianatan

 

“Kelompok kalian berisi lima orang.”

Kalimat Bu Rina membuat kelas langsung ribut.

Aksa berharap satu hal.

Jangan Bimo.

Bukan karena Bimo jahat.

Bimo hanya punya kemampuan luar biasa untuk menghilang ketika tugas kelompok dibagikan.

“Kelompok satu: Aksa, Dimas, Naya, Salsa, dan Bimo.”

Aksa menutup mata.

“Ya Tuhan.”

Bimo menoleh.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Syukurlah.”

Proyek mereka adalah membuat presentasi tentang lingkungan.

Hari pertama, Naya sudah membuat pembagian tugas.

“Aksa cari materi. Dimas desain. Salsa bagian presentasi. Aku menyusun isi. Bimo—”

“Dokumentasi.”

Bimo mengangguk mantap.

“Siap.”

Tiga hari kemudian, mereka bertemu untuk menyelesaikan tugas.

Naya membawa laptop.

Dimas membawa desain.

Salsa membawa catatan.

Aksa membawa materi.

Bimo datang membawa...

“Bimo, tugasmu mana?” tanya Naya.

Bimo membuka tas.

Mengeluarkan botol minum.

Kotak bekal.

Satu buku.

Satu charger.

Lalu kerupuk.

“Dokumentasi belum?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Bimo mengangkat bahu.

“Belum ada yang bisa didokumentasikan.”

Aksa mengernyit.

“Lah, kita sudah kerja dari tadi.”

“Nah, makanya. Kalian sudah bekerja. Aku tinggal mendokumentasikan.”

Naya hampir melempar penghapus.

Hari berikutnya Bimo tidak datang.

Hari setelahnya juga tidak.

Grup chat mulai panas.

Naya:
Bimo, bagian kamu belum selesai.

Bimo:
Iya.

Naya:
Kapan?

Bimo:
Segera.

Naya:
Segera itu kapan?

Bimo tidak membalas.

Aksa membaca percakapan itu sambil menggeleng.

“Dia memang konsisten.”

Dimas menoleh.

“Dalam hal apa?”

“Tidak bertanggung jawab.”

Akhirnya, malam sebelum presentasi, Bimo mengirim pesan.

Bimo:
Maaf guys. Aku bantu malam ini.

Aksa sudah bersiap marah.

Tapi beberapa menit kemudian Bimo mengirim hasil pekerjaannya.

Ternyata dokumentasinya lengkap.

Foto kegiatan mereka, susunan slide, bahkan video pendek untuk pembuka presentasi.

Semuanya bagus.

Naya terdiam.

Aksa juga.

Bimo mengirim satu pesan lagi.

Maaf baru selesai. Aku bantu orang tua jualan sore sampai malam, jadi sering nggak bisa ikut kumpul.

Aksa membaca pesan itu sekali lagi.

Tiba-tiba rasa kesalnya hilang.

Besoknya, sebelum presentasi, Aksa menghampiri Bimo.

“Maaf, ya.”

Bimo bingung.

“Kenapa?”

“Aku kira kamu malas.”

Bimo tertawa.

“Aku memang malas juga sih.”

Aksa ikut tertawa.

“Tapi ternyata tidak separah yang kami kira.”

“Terima kasih?”

“Bukan pujian.”

“Ya sudah.”

Presentasi mereka berjalan lancar.

Nilainya bagus.

Setelah kelas selesai, Naya berkata,

“Mulai sekarang kalau ada tugas kelompok, kita atur jadwal yang bisa diikuti semua orang.”

Aksa mengangguk.

Ia baru sadar satu hal.

Tidak semua orang yang terlihat tidak berkontribusi berarti tidak peduli. Bisa jadi mereka hanya punya keadaan yang tidak kita ketahui.

Bimo menepuk bahu Aksa.

“Ngomong-ngomong, tugas berikutnya kapan?”

Aksa menatapnya curiga.

“Kenapa?”

“Aku mau memastikan bagian dokumentasi.”

“Bagus.”

“Biar aku bisa tidur dulu sebelum tugasnya datang.”

Aksa menghela napas.

Ternyata memahami teman tidak berarti harus berhenti mengomelinya.

Dan Bimo tetap Bimo.

---

Sen