AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (5)

Episode 5 — Teman Sebangku yang Bikin Naik Darah

 

Aksa percaya bahwa setiap orang punya batas kesabaran.

Batas kesabarannya bernama Reno.

Reno adalah teman sebangkunya.

Masalahnya bukan karena Reno nakal.

Reno hanya punya terlalu banyak cara untuk mengganggu ketenangan hidup Aksa.

Pagi-pagi, pensil Aksa hilang.

“Ren, pensilku mana?”

Reno menunjuk meja Aksa.

“Di situ.”

Aksa mencari.

Tidak ada.

“Enggak ada.”

Reno mengambil sesuatu dari telinganya.

Pensil Aksa.

Aksa menatapnya.

“Kenapa pensilku ada di telingamu?”

Reno berpikir.

“Kayaknya aku lagi mikir.”

“Terus pensilku ikut mikir?”

Reno mengangguk.

“Biar nggak sendirian.”

Aksa menarik napas.

Baru jam tujuh.

Hari masih panjang.

Sayangnya.

Saat pelajaran dimulai, Reno mulai mengetuk meja.

Tok.

Tok.

Tok.

Aksa menoleh.

Berhenti.

Dua menit kemudian.

Tok. Tok. Tok.

Aksa berbisik, “Ren.”

“Hm?”

“Mejanya nggak salah apa-apa.”

Reno berhenti.

Lima detik.

Tok.

Aksa menutup mata.

Dalam hati ia mulai menyusun rencana pindah tempat duduk.

Masalahnya, wali kelas mereka punya aturan:

Tempat duduk tidak boleh pindah-pindah.

Aksa merasa hidupnya tidak adil.

Saat istirahat, ia mengadu kepada Dimas.

“Gue nggak tahan duduk sama Reno.”

Dimas makan bakso.

“Kenapa?”

“Dia berisik.”

Dimas mengangguk.

“Terus?”

“Pensil gue sering hilang.”

“Terus?”

“Dia suka pinjam penghapus.”

“Terus?”

“Dia kalau ketawa kayak motor susah distarter.”

Dimas berhenti mengunyah.

“Yang terakhir itu masalah pribadi.”

Aksa mengangguk.

“Benar juga.”

Hari berikutnya Aksa berniat cuek.

Sampai pelajaran pertama.

Reno tidak datang.

Aksa merasa...

tenang.

Tidak ada ketukan meja.

Tidak ada pensil hilang.

Tidak ada suara aneh.

Aksa bahkan bisa mendengar suara kipas angin.

“Indah sekali,” gumamnya.

Tapi saat jam kedua, Aksa mulai melihat kursi kosong di sebelahnya.

Entah kenapa terasa aneh.

Besoknya Reno datang.

Aksa langsung berkata,

“Tumben hidup.”

Reno tertawa.

“Maaf kemarin nggak masuk.”

“Kenapa?”

Reno diam sebentar.

“Bantu ibu.”

Aksa mengangguk.

Lalu Reno bercerita sedikit tentang keadaan di rumahnya. Ayahnya sedang sakit, jadi sepulang sekolah ia sering membantu ibunya dan menjaga adiknya.

Aksa mendengarkan.

Tiba-tiba ia merasa bersalah sudah sering mengomel.

Tapi kemudian Reno mengambil pensil Aksa.

“Pinjam.”

Aksa langsung merebutnya.

“Tidak.”

Reno tertawa.

“Baru juga selesai cerita sedih.”

“Sedih boleh. Nyolong pensil tetap tidak boleh.”

Reno tertawa lebih keras.

Aksa ikut tertawa.

Sejak hari itu, Aksa masih sering kesal kepada Reno.

Tentu saja.

Memahami seseorang ternyata tidak otomatis membuat semua kebiasaannya menjadi menyenangkan.

Tapi Aksa jadi belajar satu hal:

kadang kita terlalu cepat menyebut seseorang menyebalkan, padahal kita belum tahu apa yang sedang dia hadapi.

Dan untuk urusan pensil...

Aksa membeli dua belas batang sekaligus.

Bukan karena boros.

Tapi karena ia sudah belajar satu hal penting:

kalau punya teman seperti Reno, alat tulis harus punya sistem pertahanan.

---

Sen