AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (6)
Episode 6 — Aksa Ingin Viral
Aksa punya masalah baru.
Ia merasa hidupnya terlalu biasa.
Setiap hari sekolah.
Pulang.
Makan.
Main HP.
Tidur.
Besoknya diulang lagi.
“Gue butuh sesuatu yang bikin terkenal,” katanya kepada Dimas.
Dimas sedang makan kerupuk.
“Kenapa harus terkenal?”
“Biar hidup gue punya pencapaian.”
“Nilaimu?”
“Jangan bahas yang sensitif.”
Aksa akhirnya punya ide.
Membuat konten.
Bukan konten joget.
Bukan juga video prank.
Ia akan membuat video “Sehari Menjadi Anak SMP Paling Produktif.”
Konsepnya keren.
Bangun pagi.
Rapikan tempat tidur.
Belajar.
Olahraga.
Berangkat sekolah.
Di depan kamera, Aksa tersenyum penuh semangat.
“Pukul lima pagi. Saatnya memulai hari!”
Kamera dimatikan.
Aksa langsung tidur lagi.
Pukul 06.17, ibunya berteriak dari luar kamar.
“AKSA! KAMU SEKOLAH ATAU MAU MENGUNDURKAN DIRI DARI PENDIDIKAN?”
Aksa bangun.
“Konten gue gagal.”
Di sekolah, ia tidak menyerah.
Ia merekam video belajar di perpustakaan.
Masalahnya, lima menit kemudian ia tertidur di atas buku.
Dimas merekam diam-diam.
Video itu justru lebih lucu.
“Jangan upload!” kata Aksa panik.
Tapi Dimas sudah mengirimkannya ke grup kelas.
Lima menit kemudian...
47 orang melihat.
Sepuluh menit kemudian...
73 orang.
Satu jam kemudian...
video Aksa sudah menyebar ke kelas sebelah.
Aksa panik.
“Gue malu!”
Dimas tertawa.
“Bukannya mau viral?”
“Iya, tapi bukan begini!”
Yang membuat Aksa semakin kesal, teman-temannya justru menyukai video itu.
Ada yang berkomentar:
“Aksa akhirnya jujur juga.”
Yang lain:
“Konten paling relatable minggu ini.”
Aksa membaca semuanya sambil mengerutkan dahi.
Sore itu, ia melihat video lain yang sedang ramai.
Seorang siswa merekam temannya yang sedang dihukum guru tanpa izin.
Semua orang tertawa.
Tapi anak yang direkam justru terlihat tidak nyaman.
Aksa tiba-tiba teringat dirinya sendiri.
Viral memang menyenangkan.
Sampai kita menjadi bahan tontonan tanpa pernah diberi kesempatan memilih.
Malamnya Aksa menghapus video tidurnya.
Dimas protes.
“Padahal lucu.”
“Lucu buat kamu.”
Aksa kemudian membuat aturan sendiri.
Kalau mau merekam orang lain, tanya dulu.
Kalau tidak diizinkan?
Jangan upload.
“Bijak juga,” kata Dimas.
Aksa mengangguk.
“Tapi kalau aku sendiri yang jatuh?”
“Boleh upload?”
“Boleh.”
“Kenapa?”
“Karena penderitaannya milik pribadi.”
Dimas tertawa.
Beberapa hari kemudian Aksa kembali membuat konten.
Kali ini bukan tentang menjadi anak paling keren.
Judulnya:
“Cara Bertahan Hidup di Sekolah Tanpa Kehilangan Pulpen.”
Videonya ditonton 112 orang.
Aksa tersenyum bangga.
“Lumayan.”
Dimas melihat jumlah penonton.
“Seratus dua belas?”
Aksa mengangguk.
“Seratus dua belas manusia memilih menonton hidupku.”
Dimas mengangguk pelan.
“Sebagian mungkin salah pencet.”
Aksa menatapnya.
“Persahabatan kita perlu dievaluasi.”
Ternyata menjadi terkenal memang menyenangkan.
Tapi Aksa mulai paham:
tidak semua hal harus dipublikasikan hanya karena bisa.
Kadang menjaga privasi orang lain jauh lebih keren daripada mendapatkan seribu penonton.
---
Sen
