AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (7)
Episode 7 - Nilai Seratus yang Mencurigakan
Hari itu Aksa mendapatkan sesuatu yang selama ini ia impikan.
Nilai 100.
Ia menatap kertas ulangan itu dengan mata berbinar.
“Gue jenius.”
Dimas mengambil kertasnya.
“Seratus?”
“Ya.”
“Matematika?”
“Iya.”
Dimas menatap Aksa.
Aksa menatap Dimas.
Mereka saling diam.
“Kenapa?” tanya Aksa.
“Enggak.”
“Tatapanmu mencurigakan.”
“Nilaimu yang mencurigakan.”
Aksa mengambil kembali kertasnya.
“Orang pintar memang sering tidak dipercaya.”
Masalahnya, Aksa tahu persis kenapa ia mendapat nilai seratus.
Kemarin, sebelum ulangan dimulai, ia sempat melihat jawaban yang tertulis di secarik kertas milik teman di sebelahnya.
Awalnya cuma satu nomor.
Lalu dua.
Lalu...
Aksa berhenti menghitung karena mulai merasa dirinya sedang mengikuti program beasiswa.
Hari itu Bu Rina masuk kelas.
“Karena hasil ulangan kalian bagus, hari ini kita latihan soal yang sedikit lebih sulit.”
Aksa langsung pucat.
Bu Rina menulis soal di papan.
Aksa membaca.
Lalu membaca lagi.
Kemudian melihat Dimas.
Dimas mengangkat alis.
Aksa berbisik,
“Dim.”
“Hm?”
“Ini Matematika?”
“Iya.”
“Kenapa aku nggak ngerti?”
Dimas tersenyum.
“Mungkin karena kemarin yang belajar bukan kamu.”
Aksa terdiam.
Satu per satu siswa mengerjakan soal.
Aksa masih memegang pensil.
Kertasnya kosong.
Kosong seperti isi kepalanya saat itu.
Bu Rina berjalan mendekat.
“Aksa, sudah selesai?”
“Belum, Bu.”
“Kenapa?”
Aksa melihat soal.
Kemudian melihat nilai 100 yang masih ada di dalam bukunya.
“Bu... saya mau jujur.”
Bu Rina menunggu.
“Saya kemarin menyontek.”
Kelas mendadak sunyi.
Dimas menunduk.
Bimo bahkan berhenti makan.
Itu lebih mengejutkan daripada pengakuan Aksa.
Bu Rina tidak marah.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
Aksa menelan ludah.
“Karena nilai 100 ternyata tidak bisa membantu saya mengerjakan soal hari ini.”
Bu Rina tersenyum tipis.
“Itu sebabnya nilai bukan hanya tentang angka.”
Aksa mengangguk.
Nilai 100 itu akhirnya tidak jadi nilai terbaik yang pernah ia dapat.
Justru menjadi nilai yang paling membuatnya malu.
Sepulang sekolah, Dimas bertanya,
“Menyesal?”
Aksa mengangguk.
“Banget.”
“Besok belajar?”
Aksa berpikir.
“Pasti.”
Dimas menatapnya.
“Serius?”
“Serius.”
“Jam berapa?”
“Setelah makan.”
“Jam berapa makannya?”
Aksa diam.
“Setelah aku lapar.”
Dimas menghela napas.
“Kejujuranmu berkembang. Manajemen waktumu belum.”
Aksa tertawa.
Tapi malam itu ia benar-benar membuka buku Matematika.
Bukan untuk mengejar nilai 100.
Setidaknya kali ini, ia ingin kalau suatu hari mendapatkan nilai 100 lagi...
nilai itu benar-benar miliknya.
---
Sen
