AKSA DAN KEKACAUAN KECIL BERNAMA SMP (8)

Episode 8 - Aksa Jadi Ketua Kelas

 

“Aksa.”

Aksa menoleh.

“Iya, Bu?”

“Kamu jadi ketua kelas.”

Aksa diam.

Kelas juga diam.

Bimo pelan-pelan bertepuk tangan.

Satu orang.

Dua kali.

Plak. Plak.

“Terima kasih, Bimo,” kata Aksa datar.

“Siap, Ketua.”

Aksa tidak tahu harus senang atau mengajukan surat pengunduran diri sebelum menjabat.

Masalahnya, ia tidak pernah berniat menjadi ketua kelas.

Ia bahkan sering lupa membawa penghapus sendiri.

Tapi entah bagaimana, teman-temannya memilih dia.

“Kenapa aku?” tanya Aksa.

Naya mengangkat bahu.

“Karena kamu paling sering bicara.”

Aksa tersenyum.

“Berarti kalian mengakui kemampuan komunikasiku?”

“Bukan,” kata Dimas. “Kami cuma ingin melihat apa yang terjadi.”

Aksa langsung curiga.

Hari pertama menjadi ketua kelas dimulai dengan tugas sederhana:

mencatat siswa yang tidak piket.

Aksa membawa buku.

Siap menjalankan amanah.

Lima menit kemudian, ia melihat lantai kelas.

Kotor.

“Siapa yang piket hari ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Aksa melihat jadwal.

Nama yang tertulis:

Aksa.

Ia terdiam.

Dimas tertawa.

“Ketua kelas lupa kalau dia sendiri piket.”

“Ini jebakan administrasi.”

Akhirnya Aksa mengambil sapu.

Belum selesai menyapu, Bu Rina masuk.

“Aksa, tolong kumpulkan tugas.”

Aksa mengangguk.

“Siap, Bu.”

Ia mulai mengumpulkan.

Satu orang belum mengumpulkan.

Dua orang.

Tiga.

Lima.

Bimo tidak ada.

“Bimo mana?”

Salsa menunjuk kantin.

Aksa mengejar.

“BIMO!”

Bimo sedang makan bakso.

“Apa?”

“Tugas!”

“Oh, iya.”

“Kenapa belum dikumpulkan?”

Bimo berpikir.

“Karena belum selesai.”

Aksa memejamkan mata.

Ia mulai memahami kenapa jabatan ketua kelas tidak disertai tunjangan.

Siang itu Aksa pulang dengan kepala pusing.

Menjadi ketua kelas ternyata bukan cuma berdiri di depan kelas dan berkata, “Teman-teman, tolong tenang.”

Kadang harus mengingatkan.

Kadang harus mendengarkan.

Kadang harus bertanggung jawab atas sesuatu yang bahkan bukan kesalahannya.

Malamnya, Aksa melihat buku catatan ketua kelas.

Ia menulis satu kalimat:

Menjadi pemimpin ternyata bukan soal menyuruh orang. Kadang justru harus menjadi orang pertama yang melakukan.

Ia mengangguk puas.

Kemudian menutup buku.

Lima detik kemudian, ia membuka lagi.

Menambahkan:

Catatan tambahan: jabatan ini ternyata tidak ada gajinya.

Aksa tersenyum.

Besok pagi ia akan datang lebih awal.

Ia akan menjadi ketua kelas yang bertanggung jawab.

Pukul 06.45 alarm berbunyi.

Aksa mematikannya.

“Lima menit lagi.”

Pukul 07.12 ia terbangun.

“ASTAGA!”

Ternyata menjadi pemimpin memang sulit.

Apalagi kalau pemimpinnya masih susah bangun pagi.

 

---

Sen