Anak Lelaki yang Mengajariku Bahasa Hujan
Aku pertama kali bertemu Willem saat umurku sembilan tahun.
Ia duduk sendirian di tepi sungai sambil mencoba menangkap ikan dengan tangan kosong.
Gagal terus.
---
Aku menertawakannya.
---
“Kalau begitu caranya, sampai tua juga nggak dapat.”
---
Ia menoleh cepat.
Wajahnya pucat kemerahan terbakar matahari.
Rambutnya pirang kusut.
Dan bahasa Indonesianya aneh sekali.
---
“Kamu bisa?”
---
Aku mengangguk sombong.
Anak kecil miskin biasanya cuma punya dua pilihan: cepat belajar… atau cepat lapar.
---
Aku menangkap seekor ikan kecil dalam sekali coba.
Willem terlihat kagum seperti baru melihat sulap.
---
Sejak itu kami jadi dekat.
---
Ayahnya orang Belanda yang bekerja di perkebunan karet dekat desa kami.
Ibuku tidak suka aku bermain dengannya.
---
“Jangan terlalu dekat sama keluarga kompeni,” katanya.
---
Aku tidak benar-benar mengerti waktu itu.
Bagiku Willem cuma anak laki-laki yang tidak bisa menangkap ikan dan selalu membawa roti manis dari rumahnya.
---
Kami sering bermain di rel kereta tua belakang kebun.
Kadang memancing.
Kadang bertukar kata.
Aku mengajarinya bahasa Indonesia.
Ia mengajariku beberapa kata Belanda yang sekarang bahkan tidak lagi kuingat.
Lucu ya.
Manusia sering lupa bahasa lebih cepat daripada luka.
---
Suatu sore Willem bertanya:
---
“Kalau Belanda pulang… kamu masih mau temenan sama aku?”
---
Aku mengernyit.
“Memangnya kamu mau ke mana?”
---
Ia menunduk.
“Mama bilang perang bikin semua berubah.”
---
Aku tidak paham perang waktu itu.
Yang kupahami cuma hujan, lapar, dan kapan sungai sedang banyak ikan.
---
Lalu tentara datang.
---
Bukan cuma sekali.
Berkali-kali.
---
Orang-orang desa mulai takut bicara keras.
Beberapa rumah dibakar.
Beberapa lelaki hilang.
Dan ibuku mulai melarangku keluar malam.
---
Aku tetap menemui Willem diam-diam.
---
Suatu hari aku melihat ayahnya dipukul beberapa orang di pasar.
Mereka meneriakinya penjajah.
---
Willem menangis waktu itu.
Dan untuk pertama kalinya aku sadar:
anak kecil bisa mewarisi kebencian bahkan sebelum mereka mengerti sejarah.
---
“Mereka benci aku ya?” tanyanya lirih.
---
Aku ingin bilang tidak.
Tapi anak-anak kadang lebih jujur daripada orang dewasa.
---
“Mereka benci keadaan,” jawabku akhirnya.
---
Itu jawaban terbaik yang bisa kuberikan.
---
Hari terakhir kami bertemu, hujan turun deras.
Kami duduk di gardu rel tua sambil diam lama.
---
“Aku besok pergi,” katanya pelan.
---
Aku mengangguk.
Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
---
“Ayah bilang kami tidak aman lagi di sini.”
---
Tangannya gemetar saat memberiku sesuatu.
Sebuah pisau lipat kecil dengan gagang kayu.
---
“Biar kamu ingat aku.”
---
Aku tertawa kecil.
“Mana mungkin lupa.”
---
Willem ikut tertawa.
Tapi matanya merah.
---
Sebelum pergi, ia berkata sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat jelas:
---
“Kamu tahu kenapa aku suka hujan di sini?”
---
Aku menggeleng.
---
“Karena waktu hujan turun… semua orang kelihatan sama.”
---
Lalu ia pergi.
---
Truk yang membawa keluarganya hilang di jalan berlumpur.
Dan aku tidak pernah melihatnya lagi.
---
Tahun-tahun berlalu.
Negara berubah.
Orang-orang tumbuh tua.
Perkebunan itu tutup.
Rel kereta berkarat.
---
Tapi setiap kali hujan turun deras…
aku masih teringat anak lelaki pirang yang tidak bisa menangkap ikan itu.
---
Dan kadang aku berpikir:
---
mungkin sejarah sebenarnya bukan tentang siapa yang menang atau kalah.
---
Tapi tentang orang-orang kecil…
yang dipaksa saling meninggalkan karena dunia orang dewasa terlalu sibuk berperang.
---
Sen
