Bayangan yang Selalu Mengikuti Sari
ilustrasi
Sari punya kebiasaan melihat ke langit setiap pagi.
Bukan karena suka awan.
Bukan karena mencari cuaca.
---
Ia hanya ingin memastikan satu hal:
apakah hari ini bayangan hitam itu masih ada.
---
Orang lain tidak pernah melihatnya.
Mereka hanya melihat Sari.
Perempuan dua puluh tujuh tahun yang bekerja di perpustakaan.
Yang selalu tersenyum.
Yang selalu membantu orang mencari buku.
Yang selalu berkata:
“Aku baik-baik saja.”
---
Kalimat paling sering diucapkan manusia saat sebenarnya sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
---
Sari punya banyak hal yang orang lain anggap cukup.
Pekerjaan tetap.
Tempat tinggal.
Teman.
---
Tapi ada ruang kecil dalam dirinya yang selalu terasa kosong.
---
Ruang itu muncul sejak ibunya meninggal.
---
Sari tidak menangis saat pemakaman.
Semua orang menganggapnya kuat.
Padahal sebenarnya ia hanya tidak tahu cara merasakan kehilangan yang terlalu besar.
---
Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa.
Dan justru itu yang membuatnya takut.
---
Bagaimana mungkin dunia tetap berjalan ketika seseorang yang sangat berarti sudah tidak ada?
---
Setiap malam, Sari menulis di buku kecil.
Bukan diary.
Ia menyebutnya “tempat membuang suara.”
---
Di sana ada semua hal yang tidak pernah ia katakan.
Marah.
Sedih.
Takut.
Kecewa.
---
Karena Sari tahu:
kalau semua disimpan terlalu lama, hati manusia bisa menjadi tempat sampah yang tidak pernah dibersihkan.
---
Suatu hari, seorang anak kecil datang ke perpustakaan.
Namanya Raka.
Ia sering membaca buku sendirian.
---
“Kak, kenapa kakak selalu lihat jendela?”
---
Sari tersenyum.
“Memangnya?”
---
“Iya. Seperti menunggu sesuatu.”
---
Sari terdiam.
Anak kecil memang sering bertanya tanpa tahu bahwa pertanyaannya bisa membuka pintu yang sudah lama dikunci.
---
“Mungkin aku memang sedang menunggu.”
---
“Apa?”
---
Sari melihat langit.
---
“Diriku yang dulu.”
---
Raka tidak mengerti.
Tapi ia tetap duduk di sana.
---
Hari demi hari, anak itu datang.
Kadang membaca.
Kadang hanya bercerita.
---
Dan tanpa sadar, Sari mulai berubah.
---
Ia mulai tertawa lebih sering.
Mulai pergi bersama teman.
Mulai membuka tirai kamar saat pagi.
---
Hal kecil.
Tapi bagi seseorang yang lama hidup dalam gelap, cahaya kecil pun terasa besar.
---
Suatu sore, hujan turun.
Sari melihat awan hitam besar menggantung di atas kota.
---
Dulu ia akan menganggap itu pertanda buruk.
---
Tapi hari itu tidak.
---
Ia justru berdiri di bawah teras dan tersenyum.
---
Ternyata awan gelap tidak selalu berarti badai.
Kadang hanya berarti langit sedang membawa sesuatu.
---
Malam itu ia membuka buku catatannya.
Halaman pertama berisi tulisan lama:
*"Aku takut aku tidak akan pernah sembuh."*
---
Ia menatap kalimat itu lama.
Lalu menulis di bawahnya:
*"Ternyata sembuh bukan berarti melupakan."*
---
*"Sembuh berarti bisa mengingat tanpa ikut tenggelam."*
---
Beberapa bulan kemudian, Sari menemukan buku lamanya di perpustakaan.
Buku yang dulu sering dibacakan ibunya.
---
Di halaman terakhir ada tulisan kecil.
Tulisan ibunya.
---
*"Untuk Sari, kalau suatu hari kamu merasa sendirian, lihat langit. Tidak semua awan datang untuk menutupi matahari."*
---
Sari membaca itu sambil tersenyum.
---
Selama ini ia mengira awan hitam di atas kepalanya adalah musuh.
Sesuatu yang harus diusir.
---
Ternyata tidak.
---
Awan itu hanya bagian dari perjalanan.
Datang.
Berhenti.
Lalu bergerak pergi.
---
Dan akhirnya Sari mengerti:
manusia tidak harus selalu menjadi langit yang cerah.
Kadang cukup menjadi seseorang yang tetap berjalan…
meski membawa sedikit mendung di dalam dirinya.
---
Sen
