Catatan Harian Arga, Manusia Kantoran Biasa (8)
EPISODE 8
HIDUP SEWAAN : HUJAN TURUN DI WAKTU YANG SALAH
Pukul 07.12 Arga keluar dari kos.
Hari itu sebuah keajaiban terjadi.
Ia bangun tepat waktu.
Mandi tanpa antre.
Kemeja rapi.
Rambut lumayan.
Bahkan sempat makan roti.
Arga memasang helm dengan perasaan bangga.
“Begini harusnya hidup.”
Bayu yang sedang menyiram motor menoleh.
“Tumben pagi.”
“Manusia bisa berubah, Yu.”
Bayu melihat ke langit.
“Kayaknya mau hujan.”
Arga ikut melihat.
Mendung sedikit.
“Enggak lah.”
“Bawa jas hujan.”
Arga sudah menaiki motor.
“Bikin penuh jok.”
“Yaudah.”
Arga menyalakan motor.
Hari ini ia merasa berkuasa atas hidupnya.
Alam mendengar itu.
Lalu tersinggung.
---
Lima menit perjalanan, gerimis turun.
Arga masih santai.
“Ah, cuma gerimis.”
Dua menit kemudian gerimis berubah menjadi hujan.
Bukan hujan biasa.
Hujan yang seperti punya masalah pribadi.
Arga mempercepat motor mencari tempat berteduh.
Semua pengendara lain mulai memakai jas hujan.
Arga melihat mereka dengan iri.
Ada yang berhenti sebentar, membuka jok, mengambil jas hujan, lalu melanjutkan perjalanan dengan tenang.
Orang-orang yang hidupnya terencana.
Arga membenci mereka.
---
Ia akhirnya berteduh di depan minimarket bersama sekitar sebelas pengendara lain.
Pukul 07.27.
Masih aman.
Arga menunggu.
07.32.
Hujan makin deras.
07.38.
Tidak berubah.
Arga mulai gelisah.
Absensi maksimal pukul 08.00.
Seorang bapak di sebelahnya terlihat sangat santai sambil minum kopi.
“Kayaknya lama, Mas.”
Arga menatap hujan.
“Jangan ngomong gitu, Pak.”
Bapak itu tertawa.
“Mau kerja?”
“Iya.”
“Jam delapan?”
Arga menoleh.
“Bapak cenayang?”
“Lihat muka Mas.”
Ternyata wajah orang yang terancam terlambat memang punya ciri khas.
---
Pukul 07.44 Arga mengambil keputusan.
Terobos.
Hujan sudah sedikit berkurang.
Sedikit.
Dalam arti sekarang airnya tidak lagi seperti ditumpahkan pakai ember.
Arga melaju.
Awalnya baik-baik saja.
Sampai sebuah mobil melewati genangan di sebelahnya.
BYURRR.
Air menyapu celana Arga dari lutut sampai sepatu.
Arga diam.
Motor tetap berjalan.
Ia tidak marah.
Ada tingkat penderitaan tertentu yang membuat manusia melewati fase emosi dan langsung masuk ke penerimaan.
“Yaudah.”
---
Pukul 07.57 Arga sampai kantor.
Ia berlari menuju mesin absensi.
Kemeja bagian depan basah.
Celana basah.
Sepatu berbunyi cek-cek setiap melangkah.
Sidik jari ditempel.
TERIMA KASIH.
Arga mengembuskan napas lega.
“Sama-sama.”
Ia berjalan ke meja.
Rina menatapnya dari atas sampai bawah.
“Ga.”
“Apa?”
“Lu habis berenang?”
“Hujan.”
“Enggak bawa jas hujan?”
Arga meletakkan tas.
“Jas hujan bikin jok penuh.”
Rina diam sebentar.
“Sekarang?”
Arga duduk dengan celana basah.
“Sekarang gue sadar jok motor ternyata cukup luas.”
---
Pukul 08.15 hujan berhenti.
Matahari keluar.
Terang.
Cerah.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Arga melihat keluar jendela.
Lalu melihat celananya yang masih basah.
“Kurang ajar.”
Rina tertawa.
“Kenapa?”
“Dia berhenti.”
“Ya bagus.”
“Setelah gue sampai.”
Arga menunjuk langit.
“Ini personal, Rin.”
Sejak hari itu Arga selalu membawa jas hujan di dalam jok.
Tidak pernah dikeluarkan.
Tidak pernah ditinggal.
Selalu siap.
Dan seperti hukum alam yang sangat menyebalkan...
sejak Arga rajin membawa jas hujan,
selama dua minggu berikutnya tidak turun hujan sama sekali.
— BERSAMBUNG —
