Jam Rusak di Pergelangan Tangan Ayah

Fikri selalu memakai jam tangan rusak milik ayahnya.

Jarumnya berhenti di pukul 04.17.

Sudah bertahun-tahun.

Tapi Fikri tidak pernah melepasnya.

---

“Itu sudah mati,” kata teman-temannya.

Fikri hanya mengangguk kecil.

Ia tahu.

Tapi beberapa benda tetap dipertahankan bukan karena masih berfungsi.

Melainkan karena cuma itu yang tersisa.

---

Ayahnya dulu buruh bongkar pelabuhan.

Tubuh besar. Tangan kasar. Bau rokok dan laut.

Lalu suatu hari, ayahnya tidak pulang.

---

Bukan karena pergi.

Bukan juga karena meninggal secara dramatis seperti di sinetron murahan yang manusia suka tonton sambil makan gorengan.

---

Ayahnya hanya… jatuh saat bekerja.

Dan setelah itu hidup mereka ikut jatuh pelan-pelan.

---

Jam itu ditemukan di kantong celana ayah di rumah sakit.

Kacanya retak.

Jarumnya berhenti.

Seolah waktu ayahnya memang selesai di situ.

---

Ibu Fikri bilang jam itu sebaiknya dijual saja.

“Lumayan buat beli beras.”

---

Tapi Fikri menolak.

Keras kepala yang aneh untuk anak sekurus dia.

---

Ia mulai bekerja sepulang sekolah.

Mengangkat galon. Membersihkan warung. Kadang membantu tukang parkir.

---

Setiap malam, ia tetap memandangi jam rusak itu sebelum tidur.

Seolah kalau ia cukup lama melihatnya…

sesuatu akan bergerak lagi.

---

Suatu sore, hujan turun deras.

Fikri berteduh di kios kecil dekat pasar.

Di sana ada seorang lelaki tua tukang reparasi jam.

---

“Rusak?” tanya lelaki itu sambil menunjuk pergelangan tangannya.

---

Fikri mengangguk.

---

“Boleh lihat?”

---

Fikri ragu sebentar sebelum menyerahkannya.

Lelaki tua itu membuka bagian belakang jam dengan hati-hati.

Diam cukup lama.

---

“Bisa diperbaiki,” katanya akhirnya.

---

Mata Fikri langsung terang.

“Serius?”

---

“Tapi mahal.”

---

Harapan memang sering datang bersama harga yang tidak sanggup dibayar orang miskin.

---

“Berapa?”

---

Lelaki tua itu menyebut angka.

Dan Fikri langsung tahu mustahil.

---

Malam itu ia tidak tidur.

Bukan karena sedih.

Lebih karena marah.

---

Pada kemiskinan.

Pada waktu.

Pada hidup yang bahkan tidak mengizinkannya memperbaiki satu benda kecil.

---

Hari-hari berikutnya ia bekerja lebih keras.

Sampai akhirnya uangnya cukup.

---

Ia datang lagi ke kios itu sambil membawa tabungan lusuh di kantong plastik.

Tapi kiosnya tutup.

---

Tetangga sebelah bilang lelaki tua itu meninggal dua hari lalu.

---

Fikri berdiri lama di depan kios kosong.

Hujan rintik turun pelan.

---

Lucu ya.

Bahkan kesempatan kecil pun kadang datang terlalu cepat… atau terlalu lambat.

---

Ia pulang tanpa bicara.

---

Malamnya, ia duduk di depan rumah sambil memutar-mutar jam rusak itu.

---

Lalu sesuatu terjadi.

---

Jarumnya bergerak.

Sedikit.

---

Satu detik.

---

Fikri menahan napas.

---

Dua detik.

---

Lalu berhenti lagi.

---

Ia menatap jam itu lama sekali.

---

Dan entah kenapa…

ia mulai menangis.

---

Bukan karena jamnya rusak.

Bukan juga karena ayahnya.

---

Tapi karena akhirnya ia sadar:

---

Tidak semua hal yang kita cintai bisa kembali berjalan.

---

Kadang yang bisa kita lakukan cuma membawanya tetap hidup di tangan kita…

meski waktunya sudah lama berhenti.

---

Sen