Jam yang Tidak Pernah Berdetak Lagi

Jam itu selalu tergantung di dinding ruang tamu.

Padahal sudah lama tidak berfungsi.

Jarumnya berhenti di pukul 03.17.

---

Setiap orang yang datang ke rumah kami selalu bertanya:

“Kenapa tidak diganti saja?”

---

Ayah selalu menjawab:

“Karena ada hal yang tidak harus diperbaiki.”

---

Dulu aku menganggap itu aneh.

Bukankah semua benda rusak seharusnya diperbaiki?

Bukankah sesuatu yang berhenti bekerja berarti sudah tidak berguna?

---

Ternyata tidak semua hal sesederhana itu.

---

Namaku Dira.

Aku tinggal bersama ayah di rumah lama peninggalan kakek.

Rumah itu kecil.

Catnya mulai pudar.

Atapnya sering bocor.

---

Tapi ayah tidak pernah mau pindah.

---

“Rumah ini banyak menyimpan cerita,” katanya.

---

Aku selalu berpikir cerita adalah alasan orang mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah waktunya dilepas.

---

Sampai hari aku menemukan kotak tua di lemari ayah.

---

Di dalamnya ada banyak barang.

Surat.

Foto.

Dan sebuah kertas kecil dengan angka:

03.17.

---

Aku membawa kertas itu kepada ayah.

---

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kali aku melihat ayah seperti seseorang yang sedang membuka pintu masa lalu yang selama ini dikunci.

---

“Dari mana kamu dapat?”

---

“Di kotak Ayah.”

---

Ayah duduk lama.

---

Lalu ia berkata:

“Itu waktu ibumu pergi.”

---

Aku terdiam.

---

Ibuku meninggal saat aku masih kecil.

Setidaknya itu cerita yang selalu aku tahu.

---

Ayah tidak pernah banyak bicara tentang hari itu.

---

“Kenapa jam itu berhenti?”

tanyaku.

---

Ayah melihat ke dinding.

---

“Karena waktu itu ayah berhenti jadi manusia yang sama.”

---

Malam itu, untuk pertama kalinya ayah bercerita.

---

Hari itu ibu sakit.

Mereka seharusnya pergi ke rumah sakit lebih cepat.

Tapi ayah menunda.

Ia yakin keadaan tidak separah itu.

---

Ketika akhirnya mereka berangkat, semuanya terlambat.

---

Jam di ruang tamu jatuh saat ayah berlari keluar rumah.

Jarumnya berhenti.

---

Di kepala ayah, waktu juga berhenti di sana.

---

“Ayah selalu merasa itu salah ayah.”

---

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

---

Selama ini aku melihat ayah sebagai orang yang kuat.

Ternyata ia hanya seseorang yang terlalu lama membawa rasa bersalah.

---

“Kenapa Ayah tidak pernah cerita?”

---

Ia tersenyum kecil.

---

“Karena ayah pikir diam bisa membuat semuanya lebih mudah.”

---

“Ternyata?”

---

“Diam hanya membuat luka belajar tinggal lebih lama.”

---

Beberapa hari kemudian, aku mengambil jam itu.

---

Aku membersihkannya.

Membuka bagian belakangnya.

---

Ternyata kerusakannya kecil.

Hanya satu roda kecil yang patah.

---

Aku membawanya ke tukang jam.

---

Seminggu kemudian, jam itu kembali berdetak.

---

Tik.

Tik.

Tik.

---

Saat aku memasangnya kembali di dinding, ayah hanya melihat diam.

---

“Kamu memperbaikinya?”

---

Aku mengangguk.

---

“Bukankah Ayah bilang ada hal yang tidak harus diperbaiki?”

---

Ayah tersenyum.

---

“Iya.”

---

“Lalu kenapa sekarang?”

---

Ayah menatap jam itu.

---

“Karena kadang kita bukan memperbaiki masa lalu.”

---

“Kita hanya belajar membiarkan waktu berjalan lagi.”

---

Sejak hari itu, rumah kami berubah.

Tidak lebih besar.

Tidak lebih mewah.

---

Tapi terasa lebih ringan.

---

Ayah mulai bercerita tentang ibu.

Bukan hanya tentang hari terakhirnya.

Tapi tentang hal-hal kecil.

Cara ibu tertawa.

Masakan favoritnya.

Kebiasaan buruknya.

---

Aku akhirnya mengenal seseorang yang sudah lama hilang.

---

Bukan dari kematian.

Tapi dari kesunyian.

---

Jam itu masih ada di dinding ruang tamu.

Sekarang berdetak setiap detik.

---

Dan setiap kali mendengarnya, aku teringat satu hal:

Ada luka yang tidak hilang karena dilupakan.

Ada luka yang sembuh ketika akhirnya berani diceritakan.

---

Karena waktu memang tidak bisa mengembalikan apa pun.

---

Sen

Tapi waktu bisa mengajari manusia cara melanjutkan hidup.