KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (10) TAMAT Bagian 2

SERI 10 TAMAT Bagian 2

NAMA YANG KITA PILIH UNTUK DIINGAT

Raka membawa buku biru menuju lapangan.

Entah kenapa ia tahu apa yang harus dilakukan.

Tidak ada lagi instruksi.

Tidak ada kalimat misterius.

Seluruh siswa dan guru perlahan berkumpul.

Sebagian tidak tahu mengapa.

Sebagian menangis karena ingatan yang kembali.

Sebagian memandang kebingungan.

Raka berdiri di depan mikrofon upacara.

Dimas berada di sampingnya.

“Pidato?”

“Kayaknya.”

“Kamu siap?”

“Enggak.”

“Bagus. Biasanya pidato spontan lebih singkat.”

Raka tertawa.

Ia menyalakan mikrofon.

Suara mendengung memenuhi lapangan.

“Teman-teman...”

Semua menoleh.

Raka tidak tahu bagaimana menjelaskan tiga puluh tahun eksperimen ingatan kepada ratusan anak SMP.

Jadi ia tidak mencoba.

“Kalau kalian tiba-tiba ingat seseorang hari ini... jangan takut.”

Beberapa orang mulai berbisik.

“Mungkin kalian ingat teman.”

“Atau saudara.”

“Atau seseorang yang bahkan kalian enggak tahu kenapa bisa lupa.”

Raka memegang buku.

“Jangan coba memanggil mereka kembali.”

Ratih menatapnya dari belakang.

“Cukup sebut namanya.”

Sunyi.

Raka membuka halaman pertama.

Kemudian membaca.

“Bima Pradana.”

Seseorang di kerumunan menangis.

Pak Junaidi membaca nama berikutnya.

“Adela Adelia.”

Ratih mengikuti.

“Mira Adelia.”

Nara berbisik,

“Alya Adelia.”

Dimas membaca namanya sendiri sambil tertawa kecil.

“Dimas Aryatama. Yang ini belum mati, ya. Catatan penting.”

Beberapa anak tertawa.

Ketegangan pecah sedikit.

Kemudian nama-nama lain muncul di halaman buku.

Ratusan.

Satu per satu mereka membacanya.

Guru.

Siswa.

Orang tua yang tiba-tiba datang karena entah bagaimana teringat seseorang.

Setiap nama yang disebut membuat satu bayangan di sekitar sekolah berubah menjadi cahaya tipis.

Bukan kembali menjadi manusia.

Bukan bangkit.

Hanya dikenali.

Pernah ada.

Dan ternyata itu cukup.

---

Saat nama terakhir dibaca, hanya tersisa tiga nama di halaman.

Raka Perdana.

Nara Adelia.

Raka Pradana.

Raka menatap Perdana.

Saudaranya tersenyum.

“Giliran.”

Ratih menggenggam tangan Raka.

Raka membaca,

“Raka Perdana.”

Ratih melanjutkan dengan suara bergetar.

“Anakku.”

Perdana memejamkan mata.

Tubuhnya mulai berubah menjadi cahaya.

Raka mendekat.

“Jadi kita enggak pernah sempat berantem beneran.”

Perdana tertawa.

“Kita sudah rebutan satu kehidupan. Kurang apa?”

“Benar juga.”

Perdana menatapnya.

“Jangan hidup terlalu rapi.”

Raka mengernyit.

“Kenapa?”

“Aku pernah coba jadi kamu versi sempurna.”

“Terus?”

“Membosankan.”

Raka tertawa.

“Berarti aku tetap boleh telat?”

“Jangan keterlaluan.”

Perdana mengulurkan tangan.

Kali ini Raka bisa menyentuhnya.

Mereka berjabat.

Lalu tanpa diduga Perdana menariknya dalam pelukan singkat.

“Selamat tinggal, saudara.”

Raka menutup mata.

“Selamat tinggal.”

Ketika membuka mata...

Perdana sudah tidak ada.

Tetapi Raka masih ingat wajahnya.

Dan kali ini tidak terasa seperti kehilangan.

Lebih seperti seseorang akhirnya pulang.

---

Nama berikutnya.

Nara Adelia.

Raka menatap gadis itu.

“Kita tinggal menyebut namamu?”

Nara mengangguk.

“Harusnya.”

“Harusnya?”

“Namanya juga eksperimen.”

“Jangan mulai.”

Nara tersenyum.

Raka membaca keras.

“Nara Adelia.”

Seluruh kelas VIII-B ikut mengucapkan namanya.

Beberapa wajah terlihat bingung.

Kemudian perlahan berubah.

Livia menutup mulut.

“Ya ampun... Nara.”

Farel menoleh.

“Nara?”

Pak Junaidi tersenyum.

“Nara Adelia.”

Semakin banyak orang menyebut namanya.

Tubuh Nara menjadi padat.

Kakinya menyentuh tanah.

Tangannya terlihat.

Wajahnya kembali utuh.

Raka menatap tanpa berkedip.

Nara membuka mata.

Kemudian berkata,

“Kenapa lihat begitu?”

Raka tersadar.

“Enggak.”

Dimas langsung muncul.

“Dia kangen.”

“DIMAS.”

Nara menahan senyum.

Raka memukul bahu Dimas.

“Aduh! Baru selesai misteri sudah main kekerasan.”

“Biar normal.”

Nara tertawa.

Dan entah kenapa, suara itu menjadi salah satu suara terbaik yang pernah didengar Raka.

---

Tinggal satu nama.

Raka Pradana.

Raka mengernyit.

“Kenapa namaku masih ada?”

Buku tidak menjawab.

Dimas melihat halaman.

“Baca saja.”

“Kalau aku baca terus hilang?”

“Jangan ngomong begitu.”

“Katanya jangan janji.”

Dimas terdiam.

Kemudian mengangguk.

“Benar.”

Raka memandang semua orang.

Ibunya.

Dimas.

Nara.

Pak Junaidi.

Teman-temannya.

Ia tiba-tiba mengerti.

Sejak awal ia begitu takut dilupakan.

Padahal manusia tidak bisa mengontrol berapa lama dirinya akan berada dalam hidup orang lain.

Yang bisa dilakukan hanyalah menjalani hidup sehingga ketika suatu saat pergi...

pernah ada sesuatu yang berarti.

Raka membaca namanya.

“Raka Pradana.”

Tidak terjadi apa-apa.

Dimas berseru,

“Hadir!”

Seisi VIII-B tertawa.

Pak Junaidi ikut berkata,

“Hadir.”

Nara,

“Hadir.”

Ratih sambil menangis,

“Hadir.”

Kemudian seluruh kelas menjawab.

“HADIR!”

Buku biru bergetar.

Halaman-halamannya terlepas satu per satu.

Terbang terbawa angin.

Raka melihat setiap lembar berubah menjadi kosong.

Nama-nama hilang.

Bukan karena dilupakan.

Karena tidak lagi membutuhkan buku untuk menyimpannya.

Sampul biru jatuh ke tanah.

Kosong.

Selesai.

---

TIGA BULAN KEMUDIAN

SMP Negeri Arunika kembali menjadi sekolah biasa.

Kalau istilah “biasa” bisa digunakan untuk sekolah yang pernah hampir kehilangan ratusan orang dari ingatan.

Foto-foto lama diperbaiki.

Arsip sekolah mencantumkan kembali nama-nama siswa yang pernah hilang.

Pak Junaidi mengusulkan sebuah dinding kecil di perpustakaan.

Bukan untuk menjelaskan eksperimen.

Bukan juga untuk membuat sekolah terlihat angker.

Hanya sebuah tulisan:

“Setiap orang pernah menjadi bagian dari sebuah cerita. Jangan meremehkan keberadaan siapa pun.”

Dimas menganggap kalimat itu terlalu serius.

Ia mengusulkan tambahan:

“Termasuk orang yang belum bayar kas.”

Usul ditolak.

Nara kembali duduk dekat jendela.

Anehya, setelah semua yang terjadi, hubungan mereka tidak berubah menjadi kisah cinta dramatis seperti yang mungkin dibayangkan Dimas.

Raka tetap Raka.

Nara tetap Nara.

Kadang mereka belajar bersama.

Kadang bertengkar.

Kadang Nara meminjam pulpen Raka dan lupa mengembalikannya.

Suatu siang Raka memberanikan diri bertanya,

“Nar.”

“Hm?”

“Kalau misalnya... ada orang suka sama kamu...”

Nara tetap membaca.

“Iya?”

“Terus orangnya enggak terlalu pintar.”

“Iya.”

“Agak sial.”

“Iya.”

“Kadang telat.”

“Iya.”

“Rambutnya juga susah rapi.”

Nara menutup buku.

“Raka.”

“Apa?”

“Kalau mau bicara soal Dimas, langsung saja.”

Dimas yang sedang makan di belakang langsung tersedak.

“Kenapa aku?!”

Nara tertawa.

Raka menatapnya kesal.

Tetapi diam-diam lega.

Mungkin romantisme memang tidak perlu terburu-buru.

Mereka masih empat belas tahun.

Masih ada PR.

Masih ada ujian.

Masih ada orang tua yang marah kalau pulang terlambat.

Hidup tidak harus selalu diselesaikan sekarang.

---

Hari pembagian foto kelas akhirnya tiba.

Pak Junaidi membawa hasil cetaknya.

“Periksa nama kalian.”

Dimas mengambil satu.

“Pak, muka saya kenapa begini?”

“Itu muka asli kamu.”

“Fotografer tidak ada fitur perbaikan?”

“Tidak.”

Raka tertawa.

Ia mengambil fotonya.

Tiga puluh enam siswa.

Semua ada.

Tidak ada wajah buram.

Tidak ada bangku kosong.

Tidak ada nama yang hilang.

Nara berdiri di sebelah kiri.

Dimas di kanan.

Raka berada di tengah dengan mata setengah tertutup karena berkedip tepat saat kamera mengambil gambar.

“Sial.”

Dimas tertawa keras.

“Tradisi kembali!”

Raka hendak memasukkan foto ke tas ketika melihat sesuatu di bagian belakang.

Ada tulisan kecil.

Ia langsung berhenti.

“Nara.”

Nara mendekat.

“Apa?”

Raka menunjukkan.

Di belakang foto tertulis:

Jumlah siswa: 36

Normal.

Di bawahnya ada daftar nama.

Satu sampai tiga puluh enam.

Normal.

Namun setelah nomor tiga puluh enam...

ada satu baris tambahan.

37. —

Kosong.

Dimas ikut melihat.

Wajahnya langsung berubah.

“Rak...”

Raka menelan ludah.

“Tenang.”

“Gimana mau tenang?”

“Mungkin salah cetak.”

Dimas menatapnya.

“Setelah semua yang terjadi, kamu mau pakai teori salah cetak?”

Nara mengambil foto.

Ia mengusap baris kosong itu.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada nama.

Kemudian bel berbunyi.

Pak Junaidi berdiri di depan kelas.

“Duduk semuanya. Kita absen.”

Dimas berbisik,

“Kenapa tiba-tiba aku merinding kalau dengar kata absen?”

Pak Junaidi mulai memanggil.

Satu.

Dua.

Tiga.

Sampai tiga puluh enam.

Semua menjawab.

“Hadir.”

Pak Junaidi menutup buku.

Kemudian mengernyit.

“Aneh.”

Raka langsung menegakkan badan.

“Apa, Pak?”

Pak Junaidi melihat bagian bawah daftar.

“Kayaknya ada satu nama tambahan.”

Kelas mendadak sunyi.

Raka menatap Nara.

Nara menatap Dimas.

Dimas perlahan mengambil penggaris sebagai senjata.

Raka berbisik,

“Mau ngapain pakai penggaris?”

“Refleks.”

Pak Junaidi membaca.

“Nomor tiga puluh tujuh...”

Ia berhenti.

Raka merasa jantungnya hampir keluar.

Kemudian Pak Junaidi tertawa.

“Ah, salah cetak.”

Seisi kelas mengembuskan napas.

Raka melempar penghapus ke arah Dimas.

“Kan!”

Dimas memegang dada.

“Saya hampir meninggal kedua kali.”

Kelas kembali gaduh.

Pak Junaidi melanjutkan pelajaran.

Tidak ada yang melihat bangku paling belakang.

Tidak ada yang melihat kursi tambahan yang perlahan muncul di sebelah bangku nomor tiga puluh enam.

Dan tidak ada yang mendengar suara anak laki-laki yang duduk di sana.

Usianya kira-kira empat belas tahun.

Seragamnya model lama.

Di tangannya ada sebuah buku biru baru.

Anak itu membuka halaman pertama.

Lalu menulis:

Namaku Bima Pradana.

Ia memandang Raka dari kejauhan.

Tersenyum.

Kemudian melanjutkan:

Dan akhirnya... seseorang mengingat namaku lagi.

---

TAMAT

Beberapa orang pergi dari hidup kita. Kita tidak selalu bisa menahan mereka, dan mungkin memang tidak seharusnya. Sebab mencintai bukan berarti memaksa seseorang untuk tetap tinggal. Kadang, bentuk cinta yang paling tulus hanyalah menerima bahwa ia pernah hadir, mensyukuri waktu yang pernah diberikan, lalu menyimpan namanya dengan baik di dalam ingatan.

Karena manusia tidak benar-benar hidup selamanya.

Tetapi selama masih ada seseorang yang berkata, “Aku ingat dia...”

mungkin sebagian kecil dari kita tidak pernah benar-benar hilang.

 

---

Sen