Kabut Otak Saat Tekanan Meningkat: Penjelasan Ilmiah Mengapa Stres Bikin Mudah Lupa

(freepik)

TITIKWARTA.COM - Pernahkah Anda mendadak lupa meletakkan kunci rumah atau kehilangan fokus saat sedang berada di bawah tekanan kerja yang menumpuk? Fenomena "kabut otak" atau pikun mendadak ini rupanya bukan sekadar faktor kelelahan biasa, melainkan hasil dari mekanisme biologis yang terjadi secara spontan di dalam otak manusia.

 

Ketika seseorang mengalami stres, tubuh secara otomatis mengaktifkan mode bertahan hidup dengan melepaskan gelombang hormon kortisol dan adrenalin. Pelepasan hormon ini sebenarnya bertujuan untuk mempersiapkan tubuh menghadapi ancaman fisik, namun dampak sampingannya langsung mengganggu sistem pemrosesan informasi di otak.

 

Bagian otak yang paling terdampak oleh lonjakan hormon stres ini adalah hipokampus, wilayah vital yang bertanggung jawab untuk membentuk, menyimpan, dan memanggil kembali ingatan jangka pendek maupun panjang. Tingginya kadar kortisol secara berturut-turut dapat menghambat kinerja sel-sel saraf di area tersebut.

 

Selain hipokampus, korteks prefrontal—bagian otak yang mengendalikan fungsi eksekutif seperti fokus, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah—juga mengalami penurunan fungsi sementara. Akibatnya, alokasi energi otak terintegrasi penuh untuk mengatasi rasa cemas, alih-alih mengolah memori baru.

 

Pakar neurosains dan kesehatan mental, Dr. Andreas Setiawan, Sp.N, menjelaskan bahwa respons otak terhadap tekanan memang dirancang untuk memprioritaskan keselamatan, bukan pemrosesan memori yang kompleks.

 

"Saat tingkat stres melonjak, kortisol membanjiri otak dan secara efektif 'membajak' fungsi hipokampus serta korteks prefrontal. Otak kita mengalihkan seluruh energinya untuk merespons ancaman, sehingga fungsi penyimpanan dan pemanggilan memori seketika terganggu," ungkap Dr. Andreas Setiawan dalam wawancara hari ini.

 

Kabar baiknya, gangguan daya ingat akibat stres bersifat sementara (reversible) jika tekanan psikologis berhasil diredakan. Namun, jika kondisi stres dibiarkan kronis tanpa penanganan, lonjakan kortisol jangka panjang dapat memicu dampak yang lebih permanen pada struktur jaringan otak.

 

Guna menjaga ketajaman memori di tengah tekanan harian, masyarakat diimbau untuk rutin menerapkan teknik relaksasi, tidur yang cukup, serta olahraga teratur. Dr. Andreas Setiawan menekankan pentingnya jeda istirahat bagi otak. "Mengatur napas, istirahat sejenak dari layar, dan tidur cukup adalah cara tercepat menurunkan kadar kortisol, sehingga sel otak bisa kembali berfungsi menyimpan informasi dengan jernih," pungkasnya.(yal/tw)