KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG
SERI 1
BANGKU NOMOR TIGA PULUH ENAM
Kalau ada lomba untuk menentukan siswa paling sial di seluruh Kota Arunika, Raka Pradana yakin ia tidak hanya menang. Ia mungkin akan diminta menjadi juri kehormatan. Kesialan Raka bukan kesialan biasa. Kesialannya teratur, konsisten, dan seolah memiliki jadwal pelajaran sendiri. Hari Senin, ia terlambat karena rantai sepedanya lepas. Hari Selasa, ia terkena cipratan genangan dari motor kepala sekolah. Hari Rabu, ia salah memakai kaus kaki—yang kanan putih, yang kiri abu-abu—lalu baru menyadarinya ketika seluruh kelas sedang berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hari Kamis, ia membawa bekal nasi goreng, tetapi lupa membawa sendok. Dan pada Jumat pagi itu, ketika ia merasa hidup akhirnya mulai bersikap baik, seekor burung menjatuhkan sesuatu tepat di bahu kirinya, hanya tiga langkah sebelum gerbang sekolah.
Dimas, sahabatnya sejak kelas tujuh, menatap noda putih di bahu Raka dengan ekspresi prihatin yang sama sekali tidak tulus. “Jangan sedih, Rak. Kata orang, kena kotoran burung itu pertanda rezeki.”
“Rezeki apanya?”
“Rezeki tukang laundry.”
Raka menatapnya tajam.
Dimas segera mengangkat kedua tangan. “Aku cuma mencoba melihat sisi positif.”
“Sisi positif dari bahuku dikencingi burung?”
“Itu bukan kencing.”
“Terima kasih. Informasi itu sangat membantu.”
Mereka masuk melewati gerbang SMP Negeri Arunika tepat ketika Pak Sabar, guru piket yang namanya sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya, sedang mencatat siswa terlambat. Pak Sabar terkenal mampu memarahi siswa hanya dengan menaikkan satu alis. Menurut rumor, alis kirinya pernah membuat seorang anak kelas tujuh mengaku belum mengerjakan PR, padahal saat itu Pak Sabar belum menanyakan apa pun.
“Kalian terlambat dua menit,” katanya.
“Dua menit masih bisa ditoleransi, Pak,” jawab Dimas.
“Siapa yang bilang?”
“Jam dinding, Pak. Jarum panjangnya belum terlalu jauh.”
Pak Sabar menarik napas panjang, lalu menatap Raka. “Kenapa bahumu?”
“Dapat rezeki, Pak,” jawab Raka lesu.
Pak Sabar memandang noda itu, kemudian memandang Dimas, lalu menunjuk wastafel dekat ruang guru. “Bersihkan. Setelah itu langsung ke kelas. Hari ini ada foto kelas.”
Dimas langsung berseru girang. “Foto kelas, Pak?”
“Ya.”
“Boleh saya berdiri di belakang supaya kelihatan tinggi?”
Pak Sabar menatap tubuh Dimas yang tingginya bahkan tidak sampai bahu Raka. “Kalau kamu berdiri di atas kursi, mungkin.”
Dimas terdiam.
Raka menepuk bahunya. “Sabar. Kenyataan memang tidak selalu ramah.”
Kelas VIII-B sedang lebih ribut daripada biasanya ketika mereka tiba. Meja dan kursi telah digeser ke sisi ruangan. Beberapa siswi berdiri di depan kaca kecil dekat lemari kelas, merapikan rambut dengan tingkat keseriusan seperti hendak menghadiri acara penghargaan nasional. Beberapa siswa laki-laki sibuk menentukan gaya foto. Ada yang ingin berpose keren, ada yang ingin membuat tanda dua jari, dan ada pula yang berniat menutup wajah temannya saat kamera memotret. Di sudut kelas, ketua kelas mereka, Livia, berteriak tanpa hasil.
“Duduk dulu! Pak Junaidi sebentar lagi datang!”
Tak ada yang peduli.
“Yang belum bayar kas, nanti aku catat!”
Kelas mendadak sunyi.
Dimas berbisik kepada Raka, “Inilah bukti bahwa uang lebih berkuasa daripada jabatan.”
Raka baru hendak menjawab ketika matanya tertuju pada barisan bangku di bagian belakang. Ruang kelas mereka memiliki susunan enam kolom dan enam baris. Seharusnya ada tiga puluh enam bangku tunggal. Namun sejak awal tahun, satu bangku di pojok kanan belakang memang hampir tidak pernah digunakan. Bangku itu biasanya menjadi tempat menumpuk sapu, kardus air mineral, atau tas olahraga. Pagi itu, bangku tersebut telah dibersihkan dan disusun sejajar dengan bangku lain.
Entah kenapa, Raka berhenti melangkah.
“Ada apa?” tanya Dimas.
Raka menunjuk ke belakang. “Bangku itu.”
“Kenapa?”
“Kok kosong?”
Dimas menatapnya beberapa detik. “Karena tidak ada orang yang duduk di sana.”
“Aku tahu. Maksudku, siapa yang belum datang?”
Dimas memandang seisi kelas, lalu kembali menatap Raka. “Semua sudah datang.”
“Tidak mungkin.”
“Kenapa tidak mungkin?”
Raka mendekati bangku itu. Permukaannya penuh goresan tipis. Ada bekas tulisan yang telah dihapus menggunakan cairan penghapus, tetapi masih menyisakan bayangan beberapa huruf. Raka menyapu debu dengan ujung jarinya.
“Aku merasa ada yang biasa duduk di sini,” katanya.
Dimas ikut mendekat. “Sapu dan dua kardus air mineral.”
“Bukan. Orang.”
“Satpam?”
“Ngapain satpam duduk di kelas kita?”
“Siapa tahu ingin mengulang pendidikan.”
Raka mengabaikannya. Ada sesuatu pada bangku itu yang terasa tidak asing. Ia seperti pernah melihat seseorang duduk di sana, membungkuk sambil menulis, lalu menendang kakinya dari bawah meja ketika ia tertidur saat pelajaran IPA. Namun semakin keras ia mencoba mengingat, semakin kosong kepalanya. Bayangan yang muncul hanya potongan-potongan kabur: lengan berseragam putih, sebuah pulpen hitam, suara tertawa pelan, dan seseorang yang pernah berkata, *Jangan tidur. Bu Mira sudah lihat.*
“Raka!”
Suara Livia membuatnya menoleh.
“Geser mejanya. Pak Junaidi datang.”
Pak Junaidi masuk bersama seorang fotografer yang membawa kamera besar dan tripod. Wali kelas mereka itu berusia sekitar lima puluh tahun, berkumis tipis, dan selalu mengenakan sepatu hitam yang mengilap. Ia terkenal sebagai guru Bahasa Indonesia yang bisa mengubah satu kesalahan tanda koma menjadi ceramah sepanjang dua puluh menit.
“Anak-anak, dengarkan,” katanya sambil menepuk meja. “Kita akan mengambil foto resmi kelas untuk buku tahunan. Tidak ada yang berpose aneh. Tidak ada yang menjulurkan lidah. Tidak ada yang menutup wajah temannya. Dan khusus Dimas, jangan mencoba berdiri di atas kursi.”
Dimas menatap Pak Junaidi dengan curiga. “Bapak dengar pembicaraan saya di gerbang?”
“Satu sekolah dengar suaramu.”
Fotografer mulai mengatur posisi. Siswa bertubuh tinggi ditempatkan di belakang, sementara yang lebih pendek duduk di kursi depan. Raka berdiri di baris tengah bersama Dimas. Nara, siswi pendiam yang duduk dekat jendela, berada dua langkah di sebelah kirinya. Nara tidak banyak bicara. Selama hampir satu tahun sekelas, Raka hanya pernah mendengar suaranya ketika menjawab pertanyaan guru, meminjam penghapus, dan memberi tahu Dimas bahwa celananya terkena tinta. Anehnya, apa pun yang dikatakan Nara hampir selalu benar.
Pernah suatu pagi ia berkata, “Sepertinya nanti hujan.”
Langit saat itu cerah.
Dua jam kemudian, hujan turun begitu deras sampai lapangan sekolah berubah menjadi kolam ikan tanpa ikan.
Pernah juga ia berkata, “Bu Mira hari ini tidak masuk.”
Lima menit kemudian, pesan dari grup kelas muncul bahwa Bu Mira sakit.
Dimas menganggap Nara memiliki ilmu ramalan. Raka menganggap Dimas terlalu banyak menonton video aneh di internet.
“Geser sedikit ke kanan,” kata fotografer.
Semua bergerak.
“Masih kurang rapat.”
Mereka bergeser lagi.
Fotografer mengintip layar kamera, lalu mengernyit. “Pak, jumlahnya tiga puluh lima?”
Pak Junaidi membuka daftar hadir. “Iya. Tiga puluh lima.”
Raka spontan menoleh. “Tiga puluh lima?”
Seluruh kelas memandangnya.
Pak Junaidi mengangkat wajah dari daftar hadir. “Kenapa?”
“Bukannya kita tiga puluh enam, Pak?”
Beberapa siswa tertawa.
Livia menepuk dahinya. “Raka, dari kelas tujuh kita memang tiga puluh lima.”
“Tidak. Ada satu lagi.”
“Siapa?”
Pertanyaan itu membuat Raka diam.
Ia membuka mulut, tetapi tidak ada nama yang keluar. Ia yakin ada seseorang. Ia yakin bangku belakang itu bukan hanya tempat kardus. Namun wajahnya tidak bisa ia ingat. Namanya pun seperti berada tepat di ujung lidah, tetapi selalu menghilang ketika hendak diucapkan.
Dimas menyenggol lengannya. “Mungkin kamu menghitung sapu.”
“Sapu tidak punya nomor absen.”
“Belum tentu. Zaman sekarang semua bisa didata.”
Tawa kembali terdengar.
Pak Junaidi menutup daftar hadir. “Sudah, jangan mengganggu. Kita memang tiga puluh lima. Lihat daftar hadirnya kalau tidak percaya.”
Raka menatap buku besar di tangan wali kelasnya. Di sana, nomor terakhir memang tiga puluh lima. Nama-nama tersusun rapi dari nomor satu sampai nomor tiga puluh lima. Tidak ada ruang kosong. Tidak ada coretan. Tidak ada nomor tiga puluh enam.
Namun saat Pak Junaidi membalik halaman, Raka sempat melihat sesuatu.
Sebuah sobekan kecil di bagian bawah.
Seolah satu baris pernah dipotong.
Foto kelas berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan karena Dimas berkedip tiga kali, Farel menatap ke arah lain, dan seorang siswa di barisan depan terus tersenyum terlalu lebar sampai fotografer memintanya untuk “tersenyum seperti manusia biasa”. Setelah lima kali pengambilan gambar, akhirnya fotografer mengangkat ibu jari.
“Sudah.”
Semua siswa bersorak dan segera membubarkan diri.
Raka tidak ikut bergerak. Ia masih memandangi bangku kosong di belakang. Nara berjalan melewatinya, kemudian berhenti sebentar.
“Kamu benar,” katanya pelan.
Raka menoleh cepat. “Tentang apa?”
Nara menatap bangku itu.
Namun sebelum menjawab, Livia memanggilnya dari pintu. “Nara, ayo ke perpustakaan!”
Nara menurunkan pandangan. “Lupakan saja.”
Ia pergi begitu saja.
Raka berdiri terpaku.
Dimas muncul sambil membawa dua bungkus keripik dari kantin. “Kenapa wajahmu seperti baru lihat nilai matematika?”
“Nara bilang aku benar.”
“Benar tentang apa?”
“Bangku itu.”
Dimas berhenti mengunyah. “Dia bilang ada orang yang duduk di sana?”
“Tidak persis begitu.”
“Terus?”
“Dia cuma bilang aku benar. Lalu menyuruhku melupakan.”
Dimas berpikir sejenak, sesuatu yang terlihat cukup menyakitkan baginya. “Mungkin maksudnya kamu benar-benar harus lupa karena masalahmu bukan misteri, tapi kurang tidur.”
“Aku serius.”
“Aku juga serius. Tidur itu penting untuk pertumbuhan. Terutama pertumbuhan otak.”
“Kamu merasa otakmu sudah tumbuh?”
“Belum. Makanya aku sering tidur.”
Bel istirahat berbunyi. Kantin sekolah dipenuhi suara piring beradu, siswa berteriak memesan makanan, dan Bu Tatik, pemilik kantin, yang terus mengingatkan bahwa mi goreng lima ribu rupiah tidak termasuk telur. Dimas membeli dua tusuk sosis dan segelas es teh, sementara Raka hanya duduk memandangi meja.
“Kamu benar-benar kepikiran?” tanya Dimas.
Raka mengangguk. “Aku seperti pernah bicara dengan seseorang yang duduk di belakang.”
“Laki-laki atau perempuan?”
“Tidak tahu.”
“Rambut panjang atau pendek?”
“Tidak tahu.”
“Cantik?”
“Aku bahkan tidak tahu dia laki-laki atau perempuan.”
Dimas menyesap es tehnya. “Kalau begitu, kamu mungkin sedang mengingat cicak.”
Raka meraih sedotan dari gelas Dimas dan melemparkannya.
Saat itulah Nara masuk ke kantin. Ia membeli air mineral, lalu memilih duduk sendirian di meja paling ujung. Raka hendak mendatanginya, tetapi Bu Wati, guru BK, lebih dulu masuk dan duduk tepat di samping Nara. Mereka berbicara pelan. Nara terlihat tegang. Bu Wati beberapa kali menoleh ke sekeliling, seolah memastikan tidak ada yang memperhatikan.
Dimas mengikuti arah pandang Raka. “Wah.”
“Wah apa?”
“Nara dipanggil guru BK.”
“Terus?”
“Mungkin dia punya rahasia besar.”
“Misalnya?”
“Diam-diam suka mengoleksi tutup botol.”
Raka memicingkan mata. “Kenapa semua teorimu tidak pernah masuk akal?”
“Karena teori yang masuk akal sudah dipakai orang lain.”
Beberapa menit kemudian, Nara berdiri dan meninggalkan kantin. Bu Wati tetap duduk. Saat melewati meja Raka, Nara menjatuhkan sesuatu. Sebuah kertas kecil terlipat dua. Raka memungutnya.
Di dalamnya hanya ada satu kalimat.
Jangan tanyakan bangku itu kepada siapa pun.
Raka langsung menoleh ke arah pintu kantin, tetapi Nara sudah menghilang di antara kerumunan siswa.
“Apa itu?” tanya Dimas.
Raka segera melipat kertas dan memasukkannya ke saku. “Tidak ada.”
Dimas menatapnya penuh curiga. “Sejak kapan kamu punya rahasia dariku?”
“Sejak kamu punya kebiasaan menceritakan rahasia orang sebelum orangnya selesai bicara.”
“Itu bukan membocorkan rahasia. Itu mempercepat distribusi informasi.”
Sepulang sekolah, langit mendung. Raka pulang mengayuh sepeda sendirian karena Dimas harus mengikuti latihan futsal, meski selama latihan ia lebih sering duduk di bangku cadangan dan memberi komentar kepada pemain lain. Jalanan mulai sepi ketika hujan turun tiba-tiba. Raka berhenti di sebuah halte tua tidak jauh dari sekolah. Atap sengnya bocor di beberapa bagian, tetapi masih cukup untuk melindunginya.
Ia membuka tas untuk mencari jas hujan.
Tidak ada.
Yang ia temukan justru sebuah buku tulis berwarna biru kusam.
Raka mengernyit. Ia yakin tidak pernah memasukkan buku itu. Sampulnya tanpa nama, tanpa gambar, hanya ada bekas stiker yang telah dicabut. Ia membuka halaman pertama.
Kosong.
Halaman kedua juga kosong.
Begitu pula halaman ketiga, keempat, dan kelima.
“Buku baru?” gumamnya.
Ia membalik lebih cepat hingga halaman terakhir.
Di sana ada tulisan tangan kecil menggunakan tinta hitam.
Kalau kamu menemukan buku ini, berarti mereka sudah mulai lupa.
Raka menahan napas.
Hujan terdengar semakin deras di atas atap halte. Jalanan di depannya kosong. Tidak ada kendaraan. Tidak ada pejalan kaki. Ia membaca kalimat itu berulang kali, berharap maknanya berubah menjadi sesuatu yang biasa. Namun susunan katanya tetap sama.
*Mereka sudah mulai lupa.*
Lupa apa?
Lupa siapa?
Sebuah angin kencang menerbangkan lembaran buku. Dari sela sampul belakang, sebuah foto kecil jatuh ke lantai halte. Raka membungkuk dan mengambilnya.
Itu foto kelas.
Foto yang sama dengan yang baru mereka ambil pagi tadi, tetapi sudah tercetak dan terlihat agak usang. Aneh, karena fotografer bahkan belum mungkin selesai memindahkan hasil foto.
Raka menghitung orang-orang di dalamnya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia mengulang dari awal untuk memastikan.
Tiga puluh enam.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Semua siswa VIII-B ada di sana. Pak Junaidi berdiri di sisi kanan. Raka berdiri di baris tengah, tepat di samping Dimas. Nara berada di sebelah kirinya.
Dan di barisan paling belakang, tepat di lokasi bangku kosong, berdiri seorang siswa berseragam lengkap.
Wajahnya jelas.
Seorang anak laki-laki berambut sedikit panjang, dengan mata yang menatap lurus ke kamera dan senyum tipis yang terasa aneh. Ia berdiri seolah memang bagian dari kelas itu. Tangannya bahkan bertumpu di bahu Raka.
Raka hampir menjatuhkan foto tersebut.
Ia mengenali wajah itu.
Bukan karena tahu namanya.
Bukan karena pernah melihatnya di sekolah.
Melainkan karena wajah anak itu adalah wajah yang sama dengan dirinya.
Raka menatap foto itu lebih dekat. Anak di belakangnya memang sangat mirip dengannya, tetapi terlihat lebih pucat dan sedikit lebih tua. Di bagian bawah foto terdapat daftar nama siswa.
Nomor satu sampai tiga puluh lima tertulis jelas.
Kemudian satu baris terakhir:
36. Raka Pradana
Raka memandang namanya sendiri, lalu memindahkan pandangan ke nomor dua belas.
Di sana juga tertulis:
12. Raka Pradana
Ada dua Raka dalam satu foto.
Petir menyambar tidak jauh dari halte.
Saat cahaya kilat menerangi jalan, Raka melihat bayangan seseorang berdiri di seberang. Anak laki-laki berseragam sekolah. Rambutnya sedikit panjang. Wajahnya pucat.
Sama seperti anak dalam foto.
Anak itu mengangkat tangan perlahan, menunjuk ke arah buku biru yang dipegang Raka.
Kemudian bibirnya bergerak.
Raka tidak bisa mendengar suaranya karena hujan terlalu deras.
Namun ia bisa membaca kata yang diucapkan.
“Kembalikan tempatku.”
Lampu jalan berkedip.
Sesaat kemudian, anak itu lenyap.
Raka buru-buru memasukkan foto dan buku ke dalam tas. Tangannya gemetar. Ia hendak menaiki sepeda ketika telepon genggamnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari grup kelas VIII-B.
Pengirimnya Pak Junaidi.
Anak-anak, besok kita foto ulang. Foto tadi bermasalah karena ada satu siswa yang tidak seharusnya muncul.
Di bawah pesan itu, Pak Junaidi mengirim foto kelas.
Raka membukanya.
Tiga puluh enam siswa terlihat di sana.
Namun kali ini bukan anak misterius yang berdiri di belakang.
Melainkan Raka sendiri yang hilang dari foto.
Di posisi tempat ia berdiri pagi tadi hanya ada ruang kosong.
Kemudian pesan baru muncul.
Bukan dari Pak Junaidi.
Bukan dari Dimas.
Bukan dari siapa pun yang ia kenal.
Pengirimnya hanya tertulis:
Nomor 36
Pesannya singkat.
Besok, mereka tidak akan mengingatmu.
Bersambung…
---
Sen
