KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (3) Bagian 1

SERI 3

RAKA YANG LEBIH SEMPURNA

Ada banyak hal menyebalkan yang pernah dialami Raka sepanjang hidupnya.

Pernah suatu kali ia kehilangan uang lima puluh ribu rupiah, lalu menemukannya dua hari kemudian di saku celana yang sudah masuk mesin cuci. Uangnya memang kembali, tetapi bentuknya sudah menyerupai peta kepulauan yang belum ditemukan.

Pernah juga ia kalah dalam pertandingan futsal karena memasukkan bola ke gawang sendiri. Dimas, sebagai sahabat yang baik, tidak menertawakannya di lapangan. Ia menunggu sampai mereka pulang, lalu tertawa selama tiga hari.

Namun tidak ada yang lebih menyebalkan daripada melihat seseorang memakai wajahnya, membawa tasnya, berjalan bersama teman-temannya, dan melanjutkan hidup seolah Raka yang asli hanyalah kesalahan pengetikan.

Raka berdiri di depan gudang arsip dengan tubuh yang semakin transparan. Ia mencoba memegang dinding, tetapi ujung jarinya menembus cat yang mengelupas. Ia mencoba menginjak kerikil, tetapi kakinya tidak lagi benar-benar menyentuh tanah. Tubuhnya masih memiliki bentuk, tetapi tidak memiliki berat. Seperti bayangan yang lupa cara menempel pada pemiliknya.

Di ujung lorong, Nara berjalan bersama anak yang mengambil tempatnya.

Anak itu terlihat persis seperti Raka.

Rambutnya sama.

Tinggi badannya sama.

Bahkan cara berjalannya hampir sama.

Hanya saja ada satu perbedaan besar.

Ia terlihat jauh lebih percaya diri.

Seragamnya rapi. Kancing bajunya terpasang sempurna. Rambutnya tidak berdiri ke segala arah seperti habis berdebat dengan bantal. Ia berjalan sambil tersenyum, sesekali menanggapi ucapan Nara dengan tenang.

Raka menatap punggungnya dengan kesal.

“Kenapa versi palsuku malah kelihatan lebih bagus?”

Tak ada yang menjawab.

“Ini tidak adil.”

Ia berlari mengejar mereka, meskipun lebih tepat disebut melayang terburu-buru. Langkahnya tidak menimbulkan suara. Napasnya tidak terengah. Bahkan saat melewati beberapa siswa di lorong, tubuhnya menembus bahu mereka seperti asap.

Seorang anak kelas tujuh mendadak menggigil.

“Dingin banget,” katanya kepada temannya.

“Pasti mau hujan.”

Raka berhenti sebentar.

“Bukan hujan. Itu aku.”

Tentu saja tidak ada yang mendengar.

Ia kembali mengikuti Nara dan Raka palsu menuju kelas. Begitu mereka masuk, Dimas langsung melambaikan tangan.

“Rak! Dari mana? Aku cari dari tadi.”

Raka asli berhenti di ambang pintu.

Ada rasa lega yang hanya bertahan setengah detik sebelum ia menyadari Dimas tidak sedang memanggilnya.

Raka palsu meletakkan tas di atas meja. “Dari perpustakaan.”

Dimas menatap Nara, lalu menatap Raka palsu. Senyumnya perlahan melebar.

“Perpustakaan berdua?”

Nara langsung duduk tanpa menjawab.

Raka palsu membuka buku. “Memangnya kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa.”

Dimas menarik kursi dan duduk di sampingnya.

“Hanya saja, biasanya kamu ke perpustakaan kalau dipaksa guru atau sedang dikejar petugas piket.”

Raka asli mendekat dan berteriak tepat di telinga Dimas, “Itu bukan aku!”

Dimas hanya menggaruk telinganya.

“Nyamuk lagi,” gumamnya.

Raka palsu menahan senyum.

Raka asli melihatnya.

Anak itu bisa mendengar.

Ia sengaja tidak menunjukkan reaksi.

Raka mengepalkan tangan, lalu memukul meja sekuat tenaga. Tangannya menembus permukaan kayu. Tidak ada bunyi. Tidak ada getaran.

“Kalau kamu bisa dengar aku, jawab!”

Raka palsu tetap membuka buku.

Namun beberapa detik kemudian, ia mengambil pulpen dan menulis sesuatu di sudut halaman.

Raka mendekat.

Tulisan itu pendek.

Berhenti berteriak. Suaramu jelek.

Raka menatapnya tidak percaya.

“Kamu pencuri hidup orang, masih sempat mengejek suaraku?”

Raka palsu menulis lagi.

Hidupmu terlalu berantakan untuk disebut dicuri. Aku hanya memperbaikinya.

Raka ingin mencekiknya.

Masalahnya, mencekik seseorang cukup sulit kalau tangan sendiri tidak bisa menyentuh apa pun.

Pak Junaidi masuk dan meminta seluruh siswa duduk. Pelajaran Bahasa Indonesia dimulai dengan tugas membaca cerita pendek, lalu menentukan unsur intrinsiknya. Biasanya Raka akan langsung merasa mengantuk hanya dengan mendengar istilah “latar, tema, tokoh, dan amanat”. Namun kali ini ia berdiri di samping Raka palsu, memperhatikan setiap gerakannya.

Pak Junaidi mengajukan pertanyaan.

“Apa konflik utama dalam cerita yang kalian baca?”

Beberapa siswa menunduk.

Dimas pura-pura mencari sesuatu di bawah meja.

Raka palsu mengangkat tangan.

Raka asli hampir terjatuh karena terkejut.

Raka tidak pernah mengangkat tangan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Bahkan saat tahu jawabannya, ia lebih memilih menunggu orang lain berbicara karena takut Pak Junaidi mengajukan pertanyaan tambahan.

“Silakan, Raka,” kata Pak Junaidi.

Raka palsu menjawab dengan lancar.

“Konflik utamanya adalah tokoh utama kehilangan kepercayaan dari orang-orang terdekat karena kebohongan yang ia buat sendiri. Konflik itu bukan hanya konflik sosial, tetapi juga konflik batin karena ia mulai tidak mengenali dirinya.”

Pak Junaidi tersenyum puas.

“Bagus sekali.”

Seisi kelas menoleh.

Dimas mendekatkan wajahnya kepada Raka palsu.

“Kamu habis makan apa pagi ini?”

“Telur.”

“Telur dari mana? Harvard?”

Kelas tertawa.

Raka palsu ikut tertawa.

Raka asli tidak.

Jawaban tadi terasa seperti sindiran.

Tokoh utama kehilangan kepercayaan.

Tidak mengenali dirinya.

Anak itu bukan hanya mengambil hidup Raka. Ia sedang memainkan suatu cerita yang hanya mereka berdua pahami.

Bersambung...

---

Sen