KELAS YANG SELALU KEHILANGAN SATU ORANG (3) Bagian 3

SERI 3

RAKA YANG LEBIH SEMPURNA

Mereka sampai di depan rumah Raka. Ibunya sedang menyiram tanaman. Begitu melihat Raka palsu, ia tersenyum.

“Kamu pulang.”

Raka asli berdiri di luar pagar.

Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan ketika melihat ibunya menyambut orang lain dengan senyum yang biasanya diberikan kepadanya.

Raka palsu mencium tangan ibunya.

“Assalamualaikum, Bu.”

“Waalaikumsalam.”

Ibunya menatap seragamnya.

“Hari ini tidak kotor?”

“Tidak.”

“Tidak terlambat?”

“Tidak.”

“Tidak dimarahi guru?”

“Tidak.”

Ibunya mengangkat alis.

“Kamu benar Raka?”

Raka asli langsung mendekat.

“Ibu! Bukan!”

Raka palsu tertawa. “Ibu bercanda.”

Ibunya ikut tertawa, lalu masuk ke rumah.

Raka asli mencoba melewati pagar. Tubuhnya menembus besi, tetapi ketika hendak memasuki halaman, ada sesuatu yang menahannya. Seperti dinding tak terlihat.

Ia mendorong lebih keras.

Tidak bisa.

Rumah itu tidak lagi mengenalinya.

Raka berdiri di luar sambil melihat versi palsunya masuk ke kamar. Dari jendela, ia bisa melihat anak itu meletakkan tas di atas tempat tidur.

Buku biru masih di dalamnya.

Raka menempelkan tangan pada dinding tak terlihat.

Ia harus masuk.

Ia mencoba mengingat rumahnya. Kamar tidur. Dapur. Bau masakan ibunya. Suara kipas yang selalu berdecit. Tanda pensil di dinding yang dibuat ayahnya untuk mengukur tinggi badan Raka setiap ulang tahun.

Tiba-tiba tangannya menembus penghalang.

Raka terjatuh ke halaman.

Ia berhasil masuk.

Mungkin ingatan juga bisa menjadi kunci.

Ia segera menuju kamar. Raka palsu sedang berdiri di depan cermin sambil memandangi wajahnya sendiri. Untuk beberapa saat, ekspresinya terlihat kosong. Lelah. Bahkan sedih.

Raka asli berdiri di belakangnya.

“Kamu siapa sebenarnya?”

Raka palsu tidak langsung menjawab.

Ia membuka tas dan mengambil buku biru.

“Kamu mau buku ini?”

“Ya.”

“Ambil.”

Raka curiga.

“Kenapa sekarang kamu kasih?”

Raka palsu meletakkan buku itu di meja.

“Karena aku ingin kamu membaca halaman pertama.”

“Halaman pertama kosong.”

“Tidak lagi.”

Raka mendekat. Dengan susah payah, ia menyentuh buku itu. Begitu jarinya mengenai sampul, tubuhnya menjadi lebih padat. Ia bisa memegang buku tersebut sepenuhnya.

Raka membuka halaman pertama.

Ada sebuah foto kecil yang sebelumnya tidak pernah ada.

Foto dua anak laki-laki berusia sekitar lima tahun.

Keduanya memiliki wajah yang sama.

Mereka berdiri di depan rumah Raka sambil memegang balon ulang tahun. Salah satunya tersenyum lebar. Yang lain berdiri sedikit di belakang, menatap kamera dengan wajah murung.

Di bawah foto tertulis:

Raka Pradana dan Raka Perdana, ulang tahun kelima.

Raka membaca nama itu berulang kali.

“Raka Perdana?”

Raka palsu berdiri di belakangnya.

“Itu namaku.”

“Kamu kembaranku?”

“Pernah.”

Raka menoleh cepat. “Apa maksudmu pernah?”

Anak itu memandang foto tersebut.

“Pada ulang tahun kelima, salah satu dari kita menghilang.”

Raka mencoba mengingat masa kecilnya. Ia tidak pernah tahu punya saudara kembar. Tidak ada foto berdua. Tidak ada kamar tambahan. Tidak ada cerita dari ibunya.

“Kenapa aku tidak ingat?”

“Karena semua orang memilih melupakanku.”

“Siapa yang memilih?”

Raka palsu tersenyum pahit.

“Ibumu.”

Raka langsung menggeleng.

“Bohong.”

“Dia yang menyerahkan namaku.”

“Untuk apa?”

“Supaya kamu tetap hidup.”

Raka mundur satu langkah.

“Aku tidak mengerti.”

Raka palsu mengambil buku biru, lalu membalik ke halaman berikutnya. Di sana muncul tulisan baru.

Satu keluarga tidak boleh menyimpan dua anak dengan nama yang sama.

“Nama kita tidak sama,” kata Raka. “Pradana dan Perdana berbeda.”

“Hanya satu huruf.”

“Terus?”

“Satu huruf cukup untuk membingungkan tempat ini.”

“Tempat apa?”

Raka palsu tidak menjawab.

Dari dapur terdengar suara piring pecah.

Ibunya berteriak.

“Raka!”

Kedua anak itu menoleh bersamaan.

Raka palsu segera keluar kamar. Raka asli mengikutinya.

Di dapur, ibu mereka berdiri dengan wajah pucat. Sebuah album foto terbuka di lantai. Tangannya gemetar.

“Bu?” tanya Raka palsu.

Ibunya memandangnya, lalu memandang ruang kosong di sampingnya, tepat ke arah Raka asli.

Untuk pertama kalinya, tatapan ibunya berhenti pada wajah Raka.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

Raka merasa jantungnya berdebar.

“Ibu bisa lihat aku?”

Air mata memenuhi mata ibunya.

“Kalian berdua kembali.”

Raka palsu membeku.

Raka asli mendekat.

“Ibu tahu?”

Ibunya mengangguk perlahan.

Kemudian ekspresinya berubah menjadi ketakutan.

“Kalian tidak boleh berada di rumah yang sama.”

“Kenapa?”

Sebelum ibunya sempat menjawab, seluruh lampu rumah padam.

Buku biru yang dibawa Raka palsu jatuh dan terbuka sendiri.

Tulisan muncul di halaman kosong.

Bukan satu kalimat.

Melainkan hitungan mundur.

10

9

8

Dinding rumah mulai bergetar.

Foto keluarga di ruang tengah jatuh satu per satu.

Dalam setiap foto, wajah Raka asli dan Raka palsu bergantian menghilang.

7

6

Ibunya meraih tangan Raka palsu, lalu mencoba meraih tangan Raka asli. Kali ini ia bisa menyentuh keduanya.

“Dengarkan Ibu,” katanya terburu-buru. “Salah satu dari kalian harus keluar sebelum hitungan selesai.”

“Kalau tidak?” tanya Raka.

5

Ibunya menatap mereka dengan wajah penuh penyesalan.

“Rumah ini akan memilih sendiri anak mana yang pernah lahir.”

4

Raka palsu mundur menuju pintu.

Raka asli memegang lengan ibunya.

“Ibu memilih siapa dulu?”

Ibunya tidak menjawab.

3

Raka mengulang dengan suara lebih keras.

“Waktu kami kecil, Ibu memilih siapa?”

2

Air mata ibunya jatuh.

Ia menoleh kepada Raka asli.

Lalu berkata,

“Ibu tidak memilihmu.”

1

Seluruh rumah menjadi gelap.

Ketika lampu menyala kembali, hanya ada seorang anak berdiri di dapur.

Ibunya memeluknya erat sambil menangis.

Di lantai, buku biru masih terbuka.

Pada halaman terakhir muncul satu kalimat baru.

Anak yang dipilih bukan selalu anak yang diselamatkan.

Anak itu menatap pantulan dirinya di jendela.

Kemudian tersenyum.

Namun belum jelas apakah yang tersisa adalah Raka Pradana...

atau Raka Perdana.

Bersambung…

---

Sen