Kota yang Selalu Jam Tiga Dini Hari
Tidak ada matahari di kota itu.
Bukan karena langit selalu mendung.
Bukan juga karena hujan.
---
Memang tidak pernah ada pagi.
---
Jam di menara pusat selalu menunjukkan pukul tiga dini hari.
Tidak bergerak.
Tidak rusak.
Hanya… berhenti.
---
Orang-orang tetap hidup seperti biasa.
Warung buka.
Bus berjalan.
Anak-anak tetap sekolah.
---
Tapi semuanya dilakukan dalam cahaya lampu jalan yang pucat.
Seolah kota itu lupa bagaimana rasanya siang.
---
Aku datang ke sana karena pekerjaan.
Kesalahan yang cukup umum dilakukan manusia miskin: menerima apa pun selama dibayar.
---
“Jangan tinggal terlalu lama,” kata sopir yang mengantarku.
Aku tertawa kecil.
Kupikir ia hanya mencoba terdengar misterius.
---
Ternyata tidak.
---
Hari pertamaku di kota itu terasa aneh.
Bukan karena gelapnya.
Tapi karena orang-orang tidak pernah terlihat lelah.
---
Mereka juga tidak pernah terlihat bahagia.
---
Wajah mereka datar.
Gerakan mereka pelan.
Seperti hidup hanya karena tubuh belum selesai bekerja.
---
Aku bertanya pada penjaga penginapan:
“Memang di sini tidak pernah siang?”
---
Ia menatapku beberapa detik terlalu lama.
Lalu menjawab:
“Dulu pernah.”
---
Itu saja.
---
Malam kedua, aku mendengar suara langkah di luar kamar.
Pelan.
Diseret.
---
Aku mengintip dari jendela.
Dan melihat orang-orang berjalan ke arah menara jam.
Diam.
Berbaris.
---
Tidak ada yang bicara.
Tidak ada yang saling melihat.
---
Aku mengikuti mereka.
Karena rasa ingin tahu adalah alasan utama manusia mati mengenaskan.
---
Di depan menara, mereka berdiri melingkar.
Semua menghadap ke atas.
Ke arah jam yang membeku di pukul tiga.
---
Lalu seseorang mulai menangis.
---
Pelan.
---
Lalu yang lain ikut.
---
Dan tiba-tiba seluruh lapangan dipenuhi suara tangisan yang ditahan terlalu lama.
---
Aku mundur.
Tubuhku dingin.
---
“Apa yang mereka lakukan?” bisikku pada seorang pria tua di sampingku.
---
Ia tidak menoleh.
---
“Mengingat.”
---
“Mengingat apa?”
---
Pria itu tersenyum kecil.
Senyum paling kosong yang pernah kulihat.
---
“Pagi.”
---
Aku tidak tidur malam itu.
Atau apa pun namanya di kota itu.
---
Besoknya aku mencoba pergi.
---
Terminal kosong.
Jalan keluar ditutup.
Sopir-sopir hanya menatapku seperti aku mengatakan sesuatu yang aneh.
---
“Keluar ke mana?” tanya salah satu dari mereka.
---
“Keluar dari kota ini.”
---
Ia mengernyit.
---
“Memangnya masih ada tempat lain?”
---
Kalimat itu menghantam lebih keras dari seharusnya.
---
Hari-hari berikutnya mulai kabur.
Aku berhenti menghitung waktu.
Karena waktu tanpa pagi terasa seperti hukuman yang tidak selesai.
---
Lalu suatu malam, listrik kota mati.
Untuk pertama kalinya, semuanya benar-benar gelap.
---
Dan di tengah gelap itu…
aku melihat sesuatu.
---
Di balik menara jam.
---
Sesuatu besar.
Diam.
Bernapas.
---
Seolah seluruh kota ini…
hidup di dalam tubuhnya.
---
Lampu menyala lagi beberapa detik kemudian.
Dan benda itu hilang.
---
Aku bertanya pada penjaga penginapan keesokan harinya.
---
“Ada apa di balik menara?”
---
Ia terdiam lama.
---
Lalu berkata pelan:
---
“Yang memastikan pagi tidak kembali.”
---
Aku tertawa gugup.
Kupikir ia bercanda.
---
Sampai aku sadar sesuatu.
---
Sudah lama sekali…
aku tidak bisa mengingat wajah matahari.
---
Dan yang paling menakutkan?
---
Aku mulai merasa itu normal.
---
Sen
