Ladang yang Tidak Pernah Panen
Babak Pertama: Tanah yang Dijaga
Nara selalu bangun lebih pagi dari ayam.
Bukan karena rajin.
Tapi karena ia suka melihat ibunya menyiram tanaman sebelum matahari benar-benar muncul.
“Tanah ini harus diajak bicara,” kata ibunya.
Nara tidak pernah benar-benar mengerti.
Tapi ia percaya.
Karena setiap kali ibunya menyentuh tanah, sesuatu selalu tumbuh.
Di belakang rumah mereka, ada petak kecil.
Tidak luas.
Tidak istimewa.
Tapi cukup untuk membuat mereka bertahan.
“Ini bukan sekadar ladang,” kata ibunya suatu sore.
“Ini rumah kita yang sebenarnya.”
Nara mengangguk.
Seperti biasa.
Babak Kedua: Orang-Orang yang Datang
Mereka datang tanpa suara dulu.
Hanya tanda.
Patok kayu.
Cat merah di batang pohon.
Garis yang tidak pernah dijelaskan tapi tiba-tiba menjadi batas.
Orang-orang mulai bicara.
Pelan.
Takut.
“Akan diambil.”
“Itu sudah bukan milik kita lagi.”
“Suratnya sudah keluar.”
Nara tidak mengerti.
Bagaimana sesuatu yang selalu ada… bisa tiba-tiba bukan milik mereka?
Ibunya tidak banyak bicara.
Hanya tetap menyiram.
Tetap menanam.
Seolah selama ia belum berhenti, semuanya masih bisa diselamatkan.
Sampai suatu pagi, suara itu datang.
Bukan suara manusia.
Suara mesin.
Keras.
Dingin.
Tanpa ragu.
Nara berdiri di ambang pintu.
Melihat satu per satu tanaman mereka tumbang.
Ibunya tidak berteriak.
Tidak menangis.
Ia hanya berdiri.
Memegang tanah yang sudah tercerabut.
Seolah mencoba mengingat sesuatu yang sedang dihapus.
Babak Ketiga: Yang Tidak Tumbuh Lagi
Setelah itu, rumah terasa berbeda.
Lebih sepi.
Lebih ringan.
Seperti sesuatu yang penting sudah diambil… tapi tidak terlihat.
Ibunya mulai jarang ke luar.
Tidak lagi menyiram.
Tidak lagi bicara pada tanah.
Suatu hari, Nara mencoba menanam sesuatu sendiri.
Benih kecil.
Ia gali tanah.
Ia siram.
Ia tunggu.
Tidak ada yang tumbuh.
Ia coba lagi.
Dan lagi.
Tetap tidak ada.
Seolah tanah itu… sudah berhenti menjadi tanah.
“Kenapa tidak tumbuh?” tanya Nara.
Ibunya menatapnya lama.
Terlalu lama.
Lalu berkata pelan:
“Karena tanahnya sudah tidak mau lagi.”
Nara tidak mengerti.
Sampai malam itu.
Ia mendengar ibunya berbicara sendiri.
Di halaman.
“Maaf,” katanya berulang kali.
Bukan ke siapa-siapa.
Tapi ke tanah yang sudah kosong.
Beberapa hari kemudian, ibunya berhenti bangun pagi.
Tidak sakit.
Tidak juga terlihat lelah.
Hanya… tidak bangun.
Orang-orang datang.
Seperti biasa.
Berbisik.
Mengurus.
Lalu pergi.
Nara duduk di halaman.
Di tanah yang dulu hidup.
Ia menggali dengan tangan kecilnya.
Berharap menemukan sesuatu.
Apa saja.
Tidak ada.
Hanya tanah kering.
Dan untuk pertama kalinya, Nara mengerti:
Yang hilang bukan hanya ladang mereka.
Tapi sesuatu di dalam ibunya…
yang ikut terkubur bersama tanah itu.
---
Sen
