Lampu yang Padam Paling Akhir
Pasar malam selalu datang ketika orang-orang sedang ingin melupakan sesuatu.
Setidaknya begitu kata Ibu.
---
Waktu kecil, aku tidak mengerti.
Bagiku pasar malam hanya berarti lampu warna-warni, suara musik keras, dan gula kapas yang menempel di tangan.
---
Sekarang aku mengerti.
Orang dewasa tidak datang ke pasar malam hanya untuk bersenang-senang.
Mereka datang untuk membeli jeda.
---
Namaku Rena.
Dan aku kembali ke kota ini setelah dua belas tahun pergi.
Bukan untuk nostalgia.
Bukan karena rindu.
---
Aku pulang karena rumah masa kecilku akan dijual.
---
Rumah itu sudah terlalu besar untuk satu orang.
Ayah meninggal.
Ibu menyusul beberapa tahun kemudian.
Dan aku terlalu lama berpura-pura tidak punya masa lalu.
---
Malam pertama aku tiba, suara musik terdengar dari lapangan dekat rumah.
Pasar malam.
Masih ada.
Tempat yang sama.
Hanya aku yang berbeda.
---
Aku berjalan tanpa tujuan.
Melihat permainan yang dulu membuatku menangis karena takut.
Melihat penjual mainan yang mungkin sudah berganti generasi.
---
Lalu aku melihat seorang lelaki tua menjaga kios foto keliling.
---
Aku berhenti.
---
Karena di dinding kiosnya ada sebuah foto.
---
Foto aku.
---
Usiaku tujuh tahun.
Memegang boneka.
Tersenyum.
---
Aku mendekat.
“Foto ini dari mana?”
---
Lelaki tua itu menatapku lama.
---
“Kamu anaknya Pak Hendra?”
---
Aku terdiam.
Ayahku.
---
“Iya.”
---
Ia tersenyum kecil.
“Aku tahu kamu akan kembali suatu hari.”
---
Aku tidak suka kalimat seperti itu.
Terlalu banyak orang tua merasa tahu jalan hidup orang lain.
---
“Kenapa ada foto saya?”
---
Ia mengambil sebuah kotak kecil.
---
“Ini titipan ayahmu.”
---
Aku membukanya.
---
Isinya bukan uang.
Bukan surat warisan.
---
Hanya tiket pasar malam lama.
Dan sebuah catatan pendek.
---
*"Untuk Rena. Kalau suatu hari kamu kembali, berarti kamu sudah cukup dewasa untuk tahu cerita yang sebenarnya."*
---
Aku membaca perlahan.
---
Ayah ternyata tidak meninggalkan kami karena tidak sayang.
---
Ia pergi karena bangkrut.
Utang.
Tekanan.
Malu.
---
Ia memilih menjauh karena percaya keluarganya akan lebih baik tanpa dirinya.
---
Keputusan yang salah.
Tapi dibuat oleh manusia yang sedang hancur.
---
Di bagian bawah surat tertulis:
*"Ayah tidak minta kamu memaafkan semua kesalahan ayah. Ayah hanya ingin kamu tahu, ada orang yang pergi bukan karena tidak cinta."*
---
Aku duduk lama di depan kios itu.
---
Selama bertahun-tahun aku membenci seseorang yang bahkan tidak pernah sempat menjelaskan dirinya.
---
Aneh.
Manusia bisa membawa marah begitu lama hanya karena cerita yang tidak lengkap.
---
“Ayahmu sering datang ke sini,” kata lelaki tua itu.
---
Aku menatapnya.
---
“Setiap tahun.”
---
“Untuk apa?”
---
“Menunggu kamu.”
---
Aku menahan napas.
---
“Dia pikir suatu hari kamu mungkin datang.”
---
Malam itu pasar malam terasa berbeda.
---
Lampu tetap terang.
Musik tetap berisik.
Anak-anak tetap berlari.
---
Tapi ada sesuatu dalam diriku yang akhirnya tenang.
---
Sebelum pulang, aku membeli satu tiket permainan.
---
Bukan karena ingin bermain.
---
Tapi karena dulu, saat kecil, aku pernah menangis karena tidak berani naik wahana sendirian.
---
Ayah waktu itu bilang:
“Tak apa takut. Yang penting jangan berhenti mencoba.”
---
Aku baru sadar.
---
Ternyata sebagian dari orang yang kita kehilangan…
tidak benar-benar pergi.
Mereka tinggal dalam kalimat kecil yang mereka tinggalkan.
---
Ketika aku berjalan pulang, lampu pasar malam mulai dimatikan satu per satu.
---
Dan anehnya, aku tidak sedih.
---
Karena akhirnya aku tahu:
beberapa hal memang harus padam dulu…
supaya kita bisa melihat apa yang selama ini tetap menyala.
---
Sen
