Masih Remaja, Kok Sudah Diabetes Tipe 2?

TITIKWARTA.COM - Diabetes tipe 2 yang dulu lebih banyak dikenal sebagai penyakit orang dewasa kini mulai ditemukan pada usia yang lebih muda. Kementerian Kesehatan bahkan menyoroti munculnya kasus pada remaja hingga anak usia SMP.

 

Diabetes tipe 2 selama bertahun-tahun identik dengan orang dewasa, terutama mereka yang memasuki usia 40 tahun ke atas. Namun, pola tersebut mulai berubah.

 

Kementerian Kesehatan pada Mei 2026 menyebut kasus diabetes tipe 2 semakin banyak ditemukan pada usia remaja, bahkan beberapa kasus sudah terlihat pada anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan perubahan tersebut berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan perubahan gaya hidup. 

 

Fenomena ini menjadi perhatian karena diabetes tipe 2 pada usia muda bukan sekadar persoalan kadar gula darah. Menurut Kemenkes, penyakit tersebut pada remaja dapat berkembang lebih cepat dan lebih agresif dibandingkan pada orang dewasa. 

 

Mulai usia berapa diabetes tipe 2 bisa terjadi?

Diabetes tipe 2 memang masih jauh lebih umum pada orang dewasa. Tetapi anak dan remaja juga dapat mengalaminya.

 

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa diabetes tipe 2 pada anak biasanya lebih rentan muncul pada usia di atas 10 tahun atau memasuki masa pubertas. Kondisi ini berbeda dengan diabetes tipe 1 yang lebih sering muncul pada masa kanak-kanak dan disebabkan oleh kekurangan produksi insulin. 

 

Karena itu, ketika berbicara tentang diabetes pada anak, tidak semua kasus dapat dikaitkan dengan pola makan atau berat badan. Jenis diabetesnya harus dibedakan terlebih dahulu.

 

Untuk diabetes tipe 2, perhatian lebih besar diberikan kepada faktor metabolik, berat badan, aktivitas fisik, pola makan, faktor keturunan, dan kebiasaan hidup.

 

Apa yang sebenarnya terjadi?

Pada diabetes tipe 2, tubuh masih menghasilkan insulin, tetapi sel tubuh tidak menggunakan insulin secara efektif. Kondisi ini disebut resistensi insulin. Akibatnya, gula atau glukosa lebih sulit masuk ke sel untuk digunakan sebagai energi dan kadar gula dalam darah meningkat. 

 

Kementerian Kesehatan mencatat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, antara lain riwayat keluarga, kelebihan berat badan atau obesitas, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok. 

 

Pada remaja, persoalan tersebut dapat bertemu dengan pola kehidupan sehari-hari yang berubah.

 

Kemenkes secara khusus menyoroti minim aktivitas fisik, screen time yang tinggi, kurang tidur, serta konsumsi gula dan makanan ultra-proses yang berlebihan sebagai bagian dari perubahan gaya hidup yang perlu diperhatikan. 

 

Bukan sekadar soal makan gula, ada anggapan sederhana bahwa diabetes terjadi karena terlalu banyak makan makanan manis. Kenyataannya lebih kompleks.

 

Konsumsi gula berlebihan memang perlu dibatasi, tetapi risiko diabetes tipe 2 merupakan hasil interaksi berbagai faktor. Genetik, riwayat keluarga, berat badan, aktivitas fisik, pola makan dan faktor metabolik semuanya dapat berperan. 

 

Artinya, seorang anak yang mengalami diabetes tipe 2 tidak tepat langsung dianggap hanya karena “kebanyakan makan manis”.

 

Sebaliknya, pola hidup sehari-hari memang penting untuk diperhatikan karena sebagian faktor risiko tersebut dapat diubah.

 

Apa yang sebaiknya dihindari?

Tidak perlu membuat anak menjalani diet ekstrem. Fokusnya adalah mengurangi kebiasaan yang meningkatkan risiko.

1. Terlalu sering minum minuman manis

Minuman berpemanis, termasuk berbagai minuman kemasan, dapat menyumbang asupan gula dan energi dalam jumlah besar. WHO memasukkan konsumsi gula berlebih dan pola makan tidak sehat sebagai faktor yang perlu dikendalikan untuk mencegah atau menunda diabetes tipe 2. 

 

2. Terlalu sering mengonsumsi makanan ultra-proses

Bukan berarti semua makanan kemasan harus dilarang. Namun, pola makan yang terlalu bergantung pada makanan tinggi gula, lemak tidak sehat, dan rendah serat perlu dikurangi. 

 

3. Terlalu banyak duduk dan kurang bergerak

Aktivitas fisik merupakan salah satu bagian penting dalam pencegahan diabetes tipe 2. WHO merekomendasikan aktivitas fisik secara teratur dan menyebut kurang aktivitas sebagai salah satu faktor risiko diabetes tipe 2. 

 

4. Kebiasaan tidur yang buruk

Kemenkes secara khusus menyoroti kurang tidur dalam perubahan gaya hidup yang perlu diperhatikan pada remaja. 

 

5. Merokok

Merokok juga merupakan faktor risiko diabetes tipe 2 dan sebaiknya dihindari. 

 

Apa tanda-tandanya?

Masalahnya, diabetes tipe 2 dapat berkembang perlahan dan gejalanya bisa ringan atau bahkan tidak terasa pada awalnya. WHO menyebut gejala diabetes tipe 2 dapat membutuhkan waktu lama sebelum dikenali. 

 

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
1. sering buang air kecil;
2. sering merasa haus;
3. cepat lapar;
4. mudah lelah;
5. berat badan turun tanpa sebab yang jelas;
6. penglihatan kabur;
7. luka yang sulit sembuh;
8. infeksi yang berulang.

 

Pada anak dan remaja, Kemenkes juga menyebut perubahan kulit menjadi lebih gelap dan menebal pada lipatan tubuh atau acanthosis nigricans dapat berkaitan dengan resistensi insulin. 

 

Namun, satu gejala saja tidak berarti seseorang mengalami diabetes. Diagnosis tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan gejala.

 

Bagaimana memastikan seseorang terkena diabetes?

Caranya bukan dengan melihat bentuk tubuh atau menebak dari kebiasaan makan.

 

Diabetes harus dipastikan melalui pemeriksaan kadar glukosa darah, yang dapat mencakup gula darah puasa, tes toleransi glukosa oral, atau HbA1c sesuai penilaian tenaga kesehatan. 

 

Karena itu, anak atau remaja yang memiliki faktor risiko atau menunjukkan gejala yang mencurigakan sebaiknya dibawa untuk mendapatkan pemeriksaan medis.

 

Ada kabar baiknya

Diabetes tipe 2 termasuk kondisi yang dalam banyak kasus dapat dicegah atau ditunda, terutama dengan mengendalikan faktor risiko yang bisa diubah.

 

WHO merekomendasikan aktivitas fisik secara teratur, pola makan sehat dengan membatasi kelebihan gula dan lemak tidak sehat, menjaga berat badan yang sehat, serta menghindari tembakau sebagai bagian dari pencegahan diabetes tipe 2. 

 

Jadi, persoalannya bukan membuat anak takut pada makanan.

 

Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan sejak sekarang: lebih banyak bergerak, memperhatikan apa yang diminum dan dimakan, tidur cukup, serta tidak menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan.

 

Sebab ketika diabetes tipe 2 sudah muncul pada usia remaja, seseorang bisa hidup dengan kondisi tersebut selama puluhan tahun. Karena itu, semakin dini faktor risikonya dikenali, semakin besar kesempatan untuk melakukan pencegahan dan penanganan.

 

Masih muda bukan berarti bebas dari diabetes tipe 2. Tetapi masih muda juga berarti masih ada banyak kesempatan untuk mencegahnya.

 

- Catatan: Artikel ini merupakan informasi edukasi dan bukan diagnosis medis. Gejala atau faktor risiko yang disebutkan tidak berarti seseorang pasti mengalami diabetes. Pemeriksaan dan diagnosis harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.


---

Data Keterangan

Usia >10 tahun    Diabetes tipe 2 pada anak lebih rentan muncul di atas usia 10 tahun/awal pubertas menurut Kemenkes Usia SMP    Kemenkes 2026 menyoroti bahwa beberapa kasus diabetes tipe 2 sudah ditemukan pada anak usia SMP 21%    Peserta anak sekolah/remaja dalam CKG yang diperiksa ditemukan mengalami peningkatan tekanan darah 7%    Peserta anak sekolah/remaja ditemukan mengalami gizi lebih/obesitas 27%    Peserta anak sekolah/remaja ditemukan mengalami anemia.


- Catatan penting: tiga angka CKG terakhir adalah temuan skrining kesehatan, bukan angka prevalensi diabetes tipe 2. Jadi jangan kita pakai sebagai “7 persen remaja terkena diabetes”. Itu akan menyesatkan.

 

Sen