Mata yang Mengingat Hujan
Hal pertama yang kuingat dari Nara bukan suaranya.
Bukan senyumnya.
Bukan cara dia berjalan.
---
Tapi matanya.
---
Bukan karena indah.
Bukan seperti yang sering ditulis dalam puisi murahan.
---
Matanya menarik karena terlihat seperti seseorang yang sudah melewati banyak hal, tapi masih memilih untuk lembut.
---
Namaku Farel.
Dan aku bertemu Nara di tempat yang tidak istimewa.
Sebuah halte kecil di pinggir kota.
---
Hari itu hujan turun deras.
Aku berdiri sambil mengeluh karena bus terlambat.
---
Lalu dia datang.
Membawa payung kecil yang sebenarnya tidak cukup untuk dua orang.
---
“Kamu bisa berteduh.”
katanya.
---
Aku melihat sekeliling.
“Bukannya kamu juga kehujanan?”
---
Dia tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
---
Kalimat sederhana.
Tapi entah kenapa terasa berbeda ketika diucapkan oleh seseorang yang memang terbiasa memikirkan orang lain.
---
Sejak hari itu kami sering bertemu.
Tidak direncanakan.
Tidak dibuat-buat.
---
Kadang di halte.
Kadang di toko buku.
Kadang hanya berpapasan di jalan.
---
Nara bukan orang yang banyak bercerita.
Ia lebih sering mendengarkan.
---
Aku pernah bertanya:
“Kamu tidak capek jadi tempat orang cerita?”
---
Dia tertawa kecil.
---
“Capek.”
---
“Terus kenapa tetap dilakukan?”
---
Ia diam sebentar.
---
“Karena dulu aku pernah berharap ada seseorang yang mau mendengarkan aku.”
---
Jawaban itu membuatku berhenti bertanya.
---
Ada orang-orang yang menjadi baik bukan karena hidupnya mudah.
Tapi karena mereka tahu rasanya tidak punya tempat untuk bersandar.
---
Lama-lama aku tahu tentang masa lalunya.
---
Nara pernah kehilangan adiknya.
Bukan karena kematian.
Tapi karena pertengkaran keluarga yang membuat mereka berpisah selama bertahun-tahun.
---
Sejak itu ia punya kebiasaan aneh.
Ia selalu menyapa orang lebih dulu.
Selalu mengingat nama orang.
Selalu memastikan orang lain tidak merasa sendirian.
---
“Kenapa kamu melakukan itu?”
tanyaku.
---
Ia melihat hujan dari jendela.
---
“Karena mungkin ada orang yang sedang menunggu seseorang bertanya kabarnya.”
---
Aku tidak menjawab.
---
Karena aku tahu kalimat itu bukan tentang orang lain.
---
Itu tentang dirinya.
---
Suatu hari Nara pergi.
---
Tidak dramatis.
Tidak ada perpisahan besar.
---
Ia hanya mengirim pesan:
*"Aku harus pulang ke kota lama. Ada seseorang yang harus aku temui."*
---
Aku ingin bertanya siapa.
Tapi tidak jadi.
---
Beberapa orang memang datang bukan untuk tinggal.
Mereka datang membawa sesuatu.
Lalu pergi setelah membuat kita berubah.
---
Tiga tahun kemudian, aku bertemu Nara lagi.
---
Di tempat yang sama.
Halte yang sama.
Hujan yang hampir sama.
---
Tapi kami sudah berbeda.
---
“Kamu masih suka menolong orang asing?”
tanyaku.
---
Dia tersenyum.
---
“Kamu masih suka bertanya hal yang jawabannya sudah kamu tahu?”
---
Aku tertawa.
---
Lalu aku sadar sesuatu.
---
Matanya masih sama.
---
Masih teduh.
Tapi bukan karena tidak pernah terluka.
---
Justru karena ia pernah terluka dan memilih tidak menjadi keras.
---
Sebelum bus datang, aku berkata:
“Aku dulu pikir orang dengan mata seperti kamu tidak pernah sedih.”
---
Nara tersenyum.
---
“Semua orang sedih.”
---
“Bedanya, ada yang memilih menyimpan gelapnya sendiri.”
---
“Dan ada yang mencoba menjadi sedikit terang untuk orang lain.”
---
Bus datang.
---
Nara naik.
Melambaikan tangan.
---
Aku berdiri di halte sampai kendaraan itu hilang.
---
Baru saat itu aku mengerti:
Ada orang-orang yang tidak meninggalkan jejak lewat kata-kata besar.
---
Mereka tinggal lewat hal kecil.
Cara mereka mendengar.
Cara mereka peduli.
Cara mereka membuat dunia terasa sedikit lebih aman.
---
Seperti sepasang mata yang pernah mengajarkanku:
bahwa seseorang bisa membawa banyak luka…
namun tetap memilih menjadi tempat teduh bagi orang lain.
---
Sen
