Melawan Arus 'Hustle Culture': Tren Slow Living Mulai Dilirik Generasi Muda demi Kesehatan Mental
Foto: Getty Images/Keeproll
TITIKWARTA.COM - Di tengah hiruk-pikuk ekonomi dan tuntutan hidup yang kian mencekik, sebuah tren baru mulai mengakar di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Fenomena yang dikenal sebagai slow living ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja berlebihan atau hustle culture. Alih-alih terjebak dalam perlombaan mengejar target finansial yang tak ada habisnya, kaum muda kini lebih memprioritaskan keseimbangan hidup, ketenangan batin, serta pengambilan keputusan yang lebih sadar dan tidak terburu-buru.
Gaya hidup ini dipandang sebagai alternatif penyelamat bagi kesehatan mental yang seringkali terabaikan dalam rutinitas kota besar. Fokus utamanya bukan lagi sekadar efisiensi kerja, melainkan bagaimana menciptakan harmoni antara tanggung jawab profesional dan kebahagiaan pribadi. Aktivitas sederhana seperti berkebun, menikmati kopi tanpa gangguan gawai, hingga lari pagi menjadi simbol baru dari kemewahan waktu yang selama ini terampas oleh tuntutan karier.
Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, mengamati bahwa pertumbuhan komunitas ini selaras dengan kejenuhan masyarakat urban terhadap dinamika kota yang melelahkan. Menurutnya, ada pergeseran prioritas dari sekadar pencapaian ekonomi menuju kualitas hidup. "Jadi, tidak hanya mengejar ekonomi. Tetapi ada keseimbangan, misalnya kegiatan-kegiatan kesehatan mental sekadar ke kafe, atau ngopi, atau berkebun, atau lari pagi, dan sebagainya. Komunitas itu memang tumbuh seiring dengan perkembangan kebutuhan kota-kota besar yang demikian cepat tumbuhnya, tapi seperti kerja tidak ada habisnya," ujar Tauhid kepada detikcom, Sabtu (26/07/2025).
Meski demikian, penerapan hidup pelan ini menemui tantangan besar di kota metropolitan seperti Jakarta. Tauhid menilai tata kota dan tekanan biaya hidup yang tinggi di ibu kota justru memaksa orang untuk terus "berburu" waktu dan uang, sehingga sulit untuk benar-benar melambat. Sebaliknya, wilayah dengan ritme lebih santai dan ruang terbuka luas seperti Yogyakarta, Malang, hingga Banyuwangi dianggap jauh lebih ideal bagi mereka yang ingin mempraktikkan filosofi ini secara total tanpa terbebani ekspektasi lingkungan yang kompetitif.
Menariknya, slow living juga muncul sebagai strategi bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dengan cara menekan konsumsi berlebih. Namun, Tauhid memberikan catatan kritis bahwa di kota besar, gaya hidup ini seringkali justru memerlukan biaya tambahan jika dikaitkan dengan fasilitas gaya hidup modern. "Slow living memang ada dua perspektif. Kalau tekanan ekonomi tinggi, dia bisa memanfaatkan slow living untuk mengurangi cost. Tapi slow living di kota besar biasanya membutuhkan biaya yang tinggi. Misalnya, mereka seringkali nongkrong di kafe itu kan butuh uang. Kemudian harus ke tempat gym, atau tempat olahraga yang tidak murah juga," pungkasnya.(sen/tw)
